24 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Eretmochelys imbricata (Linnaeus, 1766)
Nama English : Hawksbill Turtle / Hawksbill Sea Turtle
Nama Lokal : Penyu Sisik / Penyu Paruh Elang
Penemu : Carl Linnaeus, 1766
Sinonim : Testudo imbricata Linnaeus, 1766
Chelone imbricata (Linnaeus, 1766)
Eretmochelys imbricata bissa (Rüppell, 1835)
Eretmochelys imbricata squamata Agassiz, 1857
Eretmochelys squamata Agassiz, 1857
Caretta bissa Rüppell, 1835
Caretta squamosa Girard, 1858
Caretta rostrata Girard, 1858
Chelonia grisea Eschscholtz, 1829
Chelonia pseudocaretta Lesson, 1831
Chelonia pseudomydas Lesson, 1831
Onychochelys kraussi Gray, 1873
Biogeografi :
Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasifik. Spesies ini ditemukan di kawasan pesisir, kepulauan tropis, terumbu karang, laguna, padang lamun, serta perairan dangkal lainnya.
Ekologi (Habitat) :
Terutama berasosiasi dengan terumbu karang dan perairan pesisir dangkal. Individu muda dapat menjalani fase pelagis sebelum berpindah ke habitat pesisir untuk mencari makan. Betina dewasa kembali ke pantai berpasir untuk bertelur, sedangkan habitat mencari makan dapat mencakup terumbu karang, padang lamun, laguna, estuari, dan perairan berbatu.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Reptilia
Order : Testudines
Suborder: Cryptodira
Superfamily: Chelonioidea
Family : Cheloniidae
Genus : Eretmochelys
Species : Eretmochelys imbricata
Included & Paleo Species (-)
Paleo Species :
(-)
SubSpecies :
XBread Species :
(-)
Status Konservasi :
IUCN : Critically Endangered (CR A2bd)
CITES : Appendix I.
Morfologi :
Panjang : 60–90 cm panjang karapas,
Berat : Umumnya sekitar 45–90 kg
Fisiologi :
Bentuk Tubuh : Tubuh relatif pipih dengan karapas berbentuk oval memanjang dan kepala relatif sempit.
Kepala : Memiliki paruh yang panjang, sempit, dan melengkung menyerupai paruh burung pemangsa. Ciri inilah yang menghasilkan nama umum Hawksbill Turtle.
Karapas : Berwarna cokelat, kuning, amber hingga kemerahan dengan pola belang atau bercak yang khas. Scute atau keping karapas tersusun saling bertumpang tindih, terutama pada individu muda dan dewasa muda.
Plastron : Berwarna lebih terang dibandingkan karapas, umumnya kekuningan hingga krem.
Sirip : Sepasang sirip depan dan belakang berbentuk seperti dayung yang sangat sesuai untuk kehidupan laut.
Pernapasan : Menggunakan paru-paru dan harus naik ke permukaan untuk mengambil oksigen.
Adaptasi : Bentuk tubuh hidrodinamis dan sirip yang menyerupai dayung memungkinkan penyu sisik berenang secara efisien di laut.
Penglihatan : Mata beradaptasi dengan lingkungan laut dan membantu menemukan makanan serta mengenali lingkungan terumbu karang.
Ekologi (Tingkah Laku) : Diurnal
Diet (Makanan) : Spons laut merupakan salah satu makanan penting bagi penyu sisik dewasa. Selain itu dapat memakan berbagai invertebrata laut, termasuk cnidaria, moluska, krustasea, serta organisme lain yang ditemukan di sekitar terumbu karang.
Reproduksi : Ovipar (bertelur)
Musim Reproduksi : Bergantung pada wilayah geografis,.
Jumlah Anak/Telur : ± 130 telur, meskipun jumlahnya dapat bervariasi.
Masa Hidup (Lifespan) :
Alam liar : (-)
Penangkaran : (-)
Notes : Penyu sisik merupakan satwa yang bermigrasi dan dapat menggunakan habitat yang berbeda sepanjang siklus hidupnya. Tidak ada subspecies yang secara umum diakui sebagai takson formal yang masih berlaku. Nama seperti Eretmochelys imbricata bissa dan Eretmochelys imbricata squamata muncul dalam literatur dan basis data historis sebagai nama subspecific atau kombinasi taksonomi, tetapi Eretmochelys imbricata saat ini umumnya diperlakukan sebagai satu spesies.Penyu sisik menghadapi berbagai ancaman, termasuk eksploitasi, perdagangan produk cangkang, kehilangan dan degradasi habitat pesisir, serta berbagai tekanan terhadap populasi dan habitatnya. Penilaian IUCN global yang tersedia mencantumkan spesies ini sebagai Critically Endangered. Eretmochelys imbricata merupakan satu-satunya spesies yang masih hidup dalam genus Eretmochelys. Spesies ini memiliki peran ekologis penting terutama pada ekosistem terumbu karang. Pola makannya yang banyak memanfaatkan spons laut dapat membantu memengaruhi komposisi komunitas organisme bentik dan menjaga keseimbangan ekologis pada habitat terumbu karang. Secara konservasi, penyu sisik merupakan salah satu penyu laut yang menghadapi tekanan sangat tinggi. Status globalnya tercatat sebagai Critically Endangered (CR) oleh IUCN, sedangkan seluruh spesies Eretmochelys imbricata tercantum dalam CITES Appendix I, yang memberikan perlindungan sangat ketat terhadap perdagangan internasional.
Dari sisi taksonomi, Carl Linnaeus pertama kali mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1766 dengan nama Testudo imbricata. Nama tersebut kemudian mengalami perubahan kombinasi hingga akhirnya ditempatkan dalam genus Eretmochelys. NCBI mencatat Testudo imbricata sebagai basionim dan Chelone imbricata sebagai sinonim homotipik. Beberapa nama subspecific historis, terutama Eretmochelys imbricata bissa, masih dapat ditemukan dalam sumber-sumber lama dan basis data sebagai sinonim atau kombinasi terdahulu. Namun, taksonomi modern umumnya tidak memisahkan populasi-populasi geografis tersebut menjadi subspecies formal yang berbeda. Populasi Atlantik dan Indo-Pasifik tetap dapat memiliki struktur genetik dan unit pengelolaan yang berbeda, sehingga perbedaan populasi penting bagi konservasi meskipun tidak selalu diperlakukan sebagai subspecies. Nama genus Eretmochelys berasal dari bahasa Yunani, yaitu eretmo- yang berkaitan dengan "dayung" dan chelys yang berarti "kura-kura/penyu". Nama tersebut merujuk pada bentuk sirip depannya yang menyerupai dayung. Epitet spesifik imbricata berasal dari bahasa Latin imbricatus, yang berarti "bertumpang tindih seperti genteng", merujuk pada keping-keping atau scute karapas yang saling menutupi.Nama umum Hawksbill atau "penyu paruh elang" berasal dari bentuk rahangnya yang sempit dan melengkung seperti paruh burung pemangsa. Bentuk paruh tersebut merupakan adaptasi yang sangat berguna ketika mengambil spons dan organisme lain dari celah-celah terumbu karang. Penyu sisik juga memiliki siklus hidup yang kompleks. Tukik memasuki lingkungan laut setelah menetas dan pada fase awal kehidupannya dapat berada di lingkungan pelagis. Setelah berkembang, individu muda berpindah ke habitat pesisir dan mencari makan di kawasan seperti terumbu karang. Betina dewasa kemudian melakukan migrasi menuju kawasan pantai untuk berkembang biak. Salah satu fakta menarik dari spesies ini adalah kemampuannya memanfaatkan spons laut sebagai bagian penting dari makanannya. Hal tersebut membuat penyu sisik memiliki hubungan ekologis yang sangat erat dengan komunitas terumbu karang. Selain itu, betina dapat kembali ke pantai asal atau kawasan natalnya untuk bertelur setelah menempuh perjalanan laut yang jauh.
Sumber Pustaka :
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 146-168.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
RPT-EBDH-4 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 4.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 126-140.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 28
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 129
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 184-186.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 80-103.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 38-43.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 40-45.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 74-84.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 36.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 42-44.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 168-189.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
RPT-ESS-7 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 7 Reptil & Dinosaurus.
RPT-PAL-1979 — Pustaka Alam Life Reptil (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
RPT-EISF-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Reptil & Amfibi (Edisi Cetak 1989).
RPT-NG-KIDS (2014) — NATIONAL GEOGRAPHIC Kids (REPTILPEDIA).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
RPT-EHBR-R (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Reptil (Jodi Andrea).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?id=27787&mode=Info
https://www.gbif.org/taxon/6GHZK
https://itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=173836
https://reptile-database.reptarium.cz/Eretmochelys/imbricata
https://cites.org/sites/default/files/documents/E-PC27-23-01-AC33-28-01.pdf
https://www.cms.int/species/eretmochelys-imbricata
https://doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T8005A12881238.en
https://www.catalogueoflife.org/data/taxon/6GHZK
https://www.gbif.org/occurrence/search?view=GALLERY&taxonKey=6GHZK&entity=o_5134751852
https://www.gbif.org/taxon/6GHZK
https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=173836#null
Penulis : Mas Tahzain
Editor : Agung Monche
Foto By : iNaturalist | emajorova