1/MARET/2026 | PARAMIDSN
Nama Ilmiah: Phoenicopterus roseus × Phoenicopterus ruber
Nama English: Greater × American Flamingo Hybrid
Nama Lokal: Hibrida Flaminggo
Greater-Amerika
Penemu : (-)
Biogeografi: Sangat umum di kebun binatang, taman burung, dan koleksi pribadi di seluruh dunia.
Taksonomi & Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Phoenicopteriformes
Family: Phoenicopteridae
Genus: Phoenicopterus
Parent Species: 1. Phoenicopterus roseus (Pallas, 1811) 2. Phoenicopterus ruber (Linnaeus, 1758)
Similar species/ species Fosil : (-)
Subspesies :(-)
Status Konservasi:
IUCN: (-)
CITES : (-)
Morfologi
Tinggi : 140 – 150 cm.
(Fisiologi):
Warna Bulu: Hibrida ini menciptakan burung dengan tampilan "antara" yang mencolok Menampilkan warna pink-salmon medium. Tidak sepucat P. roseus yang hampir putih, namun tidak sepekat/semembara P. ruber yang oranye kemerahan.
Paruh: Memiliki warna merah jambu di bagian pangkal yang lebih cerah daripada P. roseus, dengan ujung hitam yang kontras.
Warna Kaki: Seluruh kaki berwarna merah jambu cerah, mengikuti genetika kedua induknya (berbeda dengan hibrida Chili yang memiliki lutut kontras).
Ekologi (Tingkah Laku): Diurnal
Diet/Makanan: Diketahui sangat fertil. Keturunan hibrida ini sering kali dapat berkembang biak kembali dengan spesies murni atau sesama hibrida, yang sering kali menyulitkan pengelola kebun binatang dalam menjaga kemurnian garis keturunan (studbook).
Reproduksi: Ovipar
Musim Reproduksi: (September - Januari).
Jumlah anak/telur: 1 butir telur
Notes: Persilangan ini adalah salah satu hibrida flaminggo yang paling sering ditemukan di penangkaran karena kedua spesies ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat (dahulu dianggap sebagai subspesies yang sama). Hasilnya sering kali memiliki warna yang sangat menarik perpaduan antara pink pucat dan oranye kemerahan. Secara genetik, kedua spesies ini sangat identik sehingga hibridanya tampak sangat alami dan sehat. Di masa lalu, para ahli taksonomi menganggap keduanya hanya variasi regional (subspesies), namun sekarang dipisahkan karena perbedaan warna yang drastis dan isolasi geografis yang permanen. Hibrida ini sering menjadi subjek studi mengenai bagaimana pigmen karotenoid dari makanan diserap dan diekspresikan dalam warna bulu yang bercampur. Ritual Kawin mereka Menampilkan gerakan tarian yang sangat mirip antara kedua induk, sehingga sinkronisasi pasangan hibrida ini biasanya sangat sukses di penangkaran. Sangat jarang terjadi di alam liar. Dalam manajemen konservasi modern, hibridisasi ini sering kali dibatasi agar ruang sarang di penangkaran diprioritaskan untuk pengembangbiakan spesies murni yang terancam punah.
Sumber Pustaka:
National Geographic FAUNAPEDIA hlm 98-144.
- Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN 1 & 3.
- DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 48-71.
- DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Tumbuhan & Hewan jld 2 hlm 188-190.
- BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 26-39.
- BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 46-64.
- KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN Jean-Claude Corbel, Ariana Archambault hlm 45-50.
- DK e.encylopedia fauna hlm 192-237.
- Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 4. Burung.
- Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 94-124.
- Pustaka Alam Life Burung 1979-1987.
- Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Burung 1989.
- Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Burung/Aves (Alya Fathiya).
Referensi :
https://www.inaturalist.org/search?q=Phoenicopterus%20roseus
https://www.inaturalist.org/observations?taxon_id=1612085
https://www.inaturalist.org/observations/258765379
Penulis: Agung
Editor: Ali Maruf
Foto By: Inaturalist | c_biologist