1/MARET/2026 | PARAMIDSN
Nama Ilmiah: Phoenicopterus chilensis × Phoenicopterus ruber
Nama English: Chilean × American Flamingo Hybrid
Nama Lokal: Hibrida Flaminggo Chili-Amerika
Penemu : (-)
Biogeografi:Terutama ditemukan di fasilitas penangkaran, kebun binatang, atau taman burung di mana koloni campuran dipelihara bersama.
Taksonomi & Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Phoenicopteriformes
Family: Phoenicopteridae
Genus: Phoenicopterus
Species Hybrid: Phoenicopterus chilensis x ruber
Similar species/ species Fosil : (-)
Subspesies :(-)
Status Konservasi:
IUCN: (-)
CITES : (-)
Morfologi
Tinggi: 120 – 140 cm.
(Fisiologi):
Warna Bulu: Menghasilkan warna merah muda yang sangat cerah (lebih pekat dari Chili murni), namun biasanya tidak mencapai warna merah oranye tua seperti Amerika murni.
Kaki (Ciri Khas): Seringkali mewarisi ciri "lutut merah" dari P. chilensis, namun warna abu-abu pada sisa kakinya biasanya menjadi lebih terang atau sedikit kemerahan karena pengaruh genetik P. ruber.
Paruh: Pola hitam pada paruh lebih luas daripada American Flamingo, namun area merah jambu di pangkalnya tampak lebih cerah dan tidak sepucat Chilean Flamingo.
Ekologi (Tingkah Laku): Diurnal
Adaptasi: Memiliki toleransi suhu yang baik; menggabungkan ketahanan suhu dingin dari P. chilensis dengan adaptasi lingkungan tropis dari P. ruber.
Diet: Filter feeder (alga, krustasea, dan organisme mikroskopis).
Fertilitas: Tergolong Fertil.
Notes: Hibrida ini sangat menarik secara estetika bagi pengunjung kebun binatang karena warnanya yang "berani". Secara perilaku, mereka sangat sosial dan mudah berbaur dengan koloni induk mana pun. Namun, tantangan utama bagi peneliti adalah membedakan hibrida ini dengan P. ruber muda yang warnanya belum muncul sempurna, atau dengan P. chilensis yang mendapatkan asupan karotenoid sangat tinggi. Hibrida ini menghasilkan perpaduan warna yang sangat menarik menggabungkan warna oranye kemerahan yang intens dari American Flamingo dengan fitur kaki unik dari Chilean Flamingo. Tidak memiliki status konservasi hukum, namun secara etika penangkaran modern, hibridisasi ini tidak disarankan untuk program reintroduksi ke alam liar. Keturunan ini mampu bereproduksi, yang dalam manajemen koleksi kebun binatang sering kali memerlukan pengawasan ketat untuk mencegah "pencemaran" genetik pada garis keturunan murni.
Sumber Pustaka:
National Geographic FAUNAPEDIA hlm 98-144.
- Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN 1 & 3.
- DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 48-71.
- DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Tumbuhan & Hewan jld 2 hlm 188-190.
- BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 26-39.
- BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 46-64.
- KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN Jean-Claude Corbel, Ariana Archambault hlm 45-50.
- DK e.encylopedia fauna hlm 192-237.
- Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 4. Burung.
- Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 94-124.
- Pustaka Alam Life Burung 1979-1987.
- Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Burung 1989.
- Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Burung/Aves (Alya Fathiya).
Referensi:
https://www.inaturalist.org/search?q=Phoenicopterus%20chilensis
https://www.inaturalist.org/observations?taxon_id=1612086
https://www.inaturalist.org/photos/224123711
Penulis: Agung
Editor: Ali Maruf
Foto By: Inaturalist | Luis Mauricio Mena Páramo