1/MARET/2026 | PARAMIDSN
Nama Ilmiah: Phoenicopterus chilensis × roseus
Nama English: Chilean × Greater Flamingo Hybrid
Nama Lokal: Hibrida Flaminggo Chili-Greater
Biogeografi: kebun binatang atau taman burung di mana kedua spesies hidup berdampingan.
Ekologi Habitat : Tidak ada populasi alami yang tercatat secara signifikan (karena pemisahan geografis antara Amerika Selatan dan Afrika/Eropa/Asia).Umumnya ditemukan di
Taksonomi & Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Phoenicopteriformes
Family: Phoenicopteridae
Genus: Phoenicopterus
Species: Phoenicopterus chilensis x roseus
Similar species/ species Fosil : (-)
Subspesies :(-)
Status Konservasi:
IUCN: Tidak dievaluasi (Not Evaluated) karena merupakan bentuk hibrida.
Morfologi
Tinggi : 150cm
Fisiologi:
(Ciri Campuran):Hibrida ini menunjukkan kombinasi karakter fisik dari kedua tetuanya:
Warna Kaki: Seringkali menunjukkan warna abu-abu kebiruan (khas Chili) namun dengan warna merah jambu yang lebih menyebar, tidak terbatas hanya pada sendi lutut.
Paruh: Pola hitam pada paruh biasanya berada di tengah-tengah antara "hitam luas" (Chili) dan "merah jambu dominan dengan ujung hitam sedikit" (Greater).
Warna Bulu: Menampilkan gradasi pink pucat yang lebih merata, seringkali lebih cerah daripada Greater Flamingo biasa namun tidak se-salmon Chilean Flamingo.
Ekologi & Tingkah Laku: Diurnal
Diet: Sama dengan tetuanya (filter feeder).
Reproduksi: Ovipar
Musim Reproduksi: (September - Januari).
Jumlah anak/telur: 1 butir telur
Notes: Persilangan ini membuktikan kedekatan genetik yang sangat erat antara spesies dalam genus Phoenicopterus. Di beberapa kebun binatang di Eropa, hibrida ini kadang-kadang muncul secara tidak sengaja ketika rasio jantan-betina dari satu spesies tidak seimbang, sehingga individu mencari pasangan dari spesies terdekat yang tersedia. Secara visual, mengidentifikasi hibrida ini memerlukan ketelitian ekstra pada detail warna sendi kaki dan proporsi warna hitam pada paruh. Hibrida ini biasanya ditemukan di lingkungan penangkaran (kebun binatang) di mana kedua spesies ditempatkan dalam koloni yang sama, namun sangat jarang terjadi di alam liar karena perbedaan wilayah. Keberadaan hibrida di penangkaran sering kali dihindari oleh konservasionis untuk menjaga kemurnian genetik masing-masing spesies (purebred). Sebagai hibrida dalam genus yang sama, beberapa individu dilaporkan fertil (subur) dan dapat melakukan backcrossing (kawin kembali) dengan salah satu spesies induk, meskipun ini dapat mengancam kemurnian genetik populasi penangkaran. Mereka melakukan ritual "tarian" yang merupakan campuran dari pola gerakan kedua spesies.
Sumber Pustaka:
National Geographic FAUNAPEDIA hlm 98-144.
- Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN 1 & 3.
- DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 48-71.
- DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Tumbuhan & Hewan jld 2 hlm 188-190.
- BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 26-39.
- BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 46-64.
- KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN Jean-Claude Corbel, Ariana Archambault hlm 45-50.
- DK e.encylopedia fauna hlm 192-237.
- Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 4. Burung.
- Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 94-124.
- Pustaka Alam Life Burung 1979-1987.
- Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Burung 1989.
- Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Burung/Aves (Alya Fathiya).
Referensi:
https://www.inaturalist.org/observations?taxon_id=1580941
https://www.inaturalist.org/search?q=Phoenicopterus%20roseus
https://www.inaturalist.org/observations/287897796
Penulis: Agung
Editor: Ali Maruf
Foto By: Inaturalist| thegreatdodo