26 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Arctictis binturong pageli (E. Schwarz, 1911)
Nama English : Bornean Binturong / Binturong / Bearcat
Nama Lokal : Binturong Kalimantan
Penemu / Deskripsi Ilmiah : Ernst Schwarz, 1911
Status Taksonomi : Subspesies historis/bentuk geografis binturong yang berkaitan dengan Pulau Borneo. Nama asal Arctictis pageli E. Schwarz, 1911 saat ini dicatat sebagai sinonim dari Arctictis binturong dalam Mammal Diversity Database. Kombinasi Arctictis binturong pageli masih digunakan dalam sejumlah literatur zoologi dan konservasi.
Sinonim : Arctictis pageli E. Schwarz, 1911
Biogeografi : Pulau Borneo/Kalimantan, meliputi wilayah Indonesia dan Malaysia. Data historis tipe mencatat Sabah, Borneo sebagai lokasi tipe Arctictis pageli.
Ekologi (Habitat) : Hutan hujan tropis, hutan sekunder dan kawasan berhutan dengan tutupan tajuk yang baik. Binturong merupakan mamalia arboreal yang menggunakan pepohonan untuk bergerak, mencari makan dan beristirahat.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Mammalia
Subclass : Theria
Infraclass : Eutheria
Order : Carnivora
Suborder : Feliformia
Family : Viverridae
Subfamily : Paradoxurinae
Genus : Arctictis Temminck, 1824
Species : Arctictis binturong (Raffles, 1822)
Subspecies : Arctictis binturong pageli (
Included & Paleo Species : (-)
Paleo Species : (-)
SubSpecies :
Arctictis binturong albifrons
Arctictis binturong binturong
Arctictis binturong gairdneri
Arctictis binturong kerkhoveni
Arctictis binturong menglaensis
Arctictis binturong niasensis
Arctictis binturong pageli
Arctictis binturong penicillatus
Arctictis binturong whitei
XBread Species : (-)
Status Konservasi (IUCN/CITES) :
IUCN : Vulnerable (VU).
Morfologi :
Panjang Tubuh : ± 60–95 cm,
Panjang Ekor : ± 50–90 cm
Berat : ± 11–20 kg,
Fisiologi :
Tubuh : Binturong memiliki tubuh besar dan memanjang,
Rambut : rambut panjang dan kasar yang umumnya berwarna hitam hingga hitam kecokelatan.
Telinga : Telinganya kecil dan membulat dengan jumbai rambut.
Ekor : Ekornya panjang, lebat dan prehensil, menjadi salah satu karakter paling khas dari binturong dan membantu stabilisasi tubuh ketika bergerak di pepohonan.
Kaki : kaki relatif pendek,
Pencernaan : Sistem pencernaannya memungkinkan pemanfaatan buah dan berbagai sumber makanan hewani.
Ekologi (Tingkah Laku) : Nocturnal/arboreal/Solitaire
Diet (Makanan) : Buah-buahan, tunas atau bagian tumbuhan, serangga, telur, burung kecil, mamalia kecil, ikan dan makanan hewani lainnya. Buah merupakan komponen penting dalam pola makan binturong.
Reproduksi : Vivipar. Melahirkan
Musim Reproduksi : Sepanjang Tahun
Jumlah Anak/Telur : 2-3 Anak
Masa Hidup (Lifespan) :
Alam liar : (-)
Penangkaran: ±20 Tahun
Notes : Etimologi : Nama genus Arctictis berasal dari unsur bahasa Yunani yang berkaitan dengan arktos, “beruang”, dan iktis, istilah yang merujuk pada kelompok civet/weasel. Nama tersebut menggambarkan bentuk binturong yang secara historis dianggap menyerupai perpaduan beruang dan civet. Epitet pageli merupakan nama penghormatan yang diberikan Ernst Schwarz ketika mendeskripsikan Arctictis pageli pada 1911. Epitet tersebut digunakan sebagai nama spesifik untuk takson binturong dari Borneo.
Informasi Taksonomi Penting : Ernst Schwarz mendeskripsikan Arctictis pageli pada 1911. Mammal Diversity Database mencatat nama tersebut sebagai sinonim dari Arctictis binturong. Tipe nomenklaturnya tercatat sebagai ZMB A. 85. 10. 49, dengan lokasi tipe Sabah, Malaysia, Borneo. Dalam literatur taksonomi abad ke-20, nama A. b. pageli digunakan untuk bentuk binturong yang terdapat di Borneo. Sebuah kajian mengenai keragaman genetik binturong penangkaran juga mencantumkan A. b. pageli dengan lokasi tipe Sandakan, northern Borneo.
Literatur Indonesia masih menggunakan nama Arctictis binturong pageli untuk populasi binturong Kalimantan, dan penelitian morfologi Indonesia menyebut A. b. pageli sebagai salah satu bentuk geografis binturong Indonesia bersama A. b. penicillatus dari Jawa dan A. b. niasensis dari Nias.: Binturong berperan penting dalam ekosistem hutan tropis sebagai frugivora dan penyebar biji. Saat memakan buah dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, binturong dapat membantu membawa biji ke lokasi berbeda dan mendukung regenerasi vegetasi. Untuk bentuk Borneo, pelestarian hutan Kalimantan menjadi sangat penting karena habitat hutan menyediakan sumber makanan, tempat berlindung dan jalur pergerakan arboreal. Ancaman terhadap binturong secara umum meliputi kehilangan habitat, fragmentasi hutan dan perburuan/perdagangan satwa liar. Status spesies Vulnerable (VU) menunjukkan pentingnya mempertahankan populasi dan habitatnya.
A. b. pageli merupakan salah satu nama historis yang secara khusus dikaitkan dengan Borneo/Kalimantan. Nama tersebut masih digunakan dalam sejumlah penelitian dan program konservasi meskipun basis data taksonomi modern seperti MDD memasukkannya sebagai sinonim Arctictis binturong. Binturong adalah satu-satunya spesies yang masih hidup dalam genus Arctictis. Walaupun termasuk Order Carnivora, sebagian penting dari makanannya adalah buah. Hal ini membuat binturong memiliki fungsi ekologis yang berbeda dari gambaran umum predator karnivora. Ekor binturong merupakan salah satu adaptasi arboreal paling menarik pada mamalia Asia. Ekor tersebut panjang, kuat dan prehensil, sehingga dapat membantu ketika hewan bergerak di antara cabang.
Binturong juga terkenal karena bau khas dari urinnya yang sering dibandingkan dengan popcorn. Aroma tersebut berhubungan dengan komunikasi kimia dan penandaan.
Sumber Pustaka :
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
MML-EBDH-2 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 2.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8-93.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-BA (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Binatang Air
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 61
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 175.
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 194-206.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6-47.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 5-27.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 40.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 51-72.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
MML-ESS-8 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
MML-PAL- PMT (1979) — Pustaka Alam Life Primata (Edisi Cetak 1979-1987).
MML-PAL-(1979) — Pustaka Alam Life Mamalia (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
MML-EISF-M1-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 (1989).
MML-EISF-M2-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 2 (1989).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
MML-BPD-MAM (2012)— Buku Pintar Dunia: Mamalia (Lebih Dekat dengan Makhluk Menyusui)
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
MML-EHBR-M (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.biolib.cz/en/taxon/id928998/
Penulis : Mas Tahzain
Editor : Agung Monche
Foto By : (iNaturalist | Rizz Carlton / Ragoonan zoo