26 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Arctictis binturong penicillatus Temminck, 1835
Nama English : Javan Binturong / Binturong / Bearcat
Nama Lokal : Binturung Jawa
Penemu / Deskripsi Ilmiah : Coenraad Jacob Temminck, 1835
Sinonim :
Arctictis penicillata Temminck, 1835; Arctictis binturong penicillatus Pocock, 1933
Biogeografi : Pulau Jawa, Indonesia. Lokasi tipe historis Arctictis penicillata tercatat sebagai Java, Indonesia.
Ekologi (Habitat) : Hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, hutan pegunungan dan kawasan berhutan yang menyediakan pepohonan untuk aktivitas arboreal. Binturong sangat bergantung pada tutupan vegetasi yang memungkinkan pergerakan di kanopi.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Mammalia
Subclass : Theria
Infraclass : Eutheria
Order : Carnivora
Suborder : Feliformia
Family : Viverridae
Subfamily : Paradoxurinae
Genus : Arctictis Temminck, 1824
Species : Arctictis binturong (Raffles, 1822)
Subspecies : Arctictis binturong penicillatus Temminck, 1835 — sinonim junior
Included & Paleo Species : (-)
Paleo Species : (-)
SubSpecies :
8
Arctictis binturong albifrons
Arctictis binturong binturong
Arctictis binturong gairdneri
Arctictis binturong kerkhoveni
Arctictis binturong menglaensis
Arctictis binturong niasensis
Arctictis binturong pageli
Arctictis binturong penicillatus
Arctictis binturong whitei
XBread Species : (-)
Status Konservasi (IUCN/CITES) :
IUCN : Vulnerable (VU).
Morfologi :
Panjang Tubuh : ± 60–95 cm,
Panjang Ekor : ± 50–90 cm
Berat : ± 11–20 kg,
Fisiologi :
Tubuh : Binturong memiliki tubuh besar dan memanjang,
Rambut : rambut panjang dan kasar yang umumnya berwarna hitam hingga hitam kecokelatan.
Telinga : Telinganya kecil dan membulat dengan jumbai rambut.
Ekor : Ekornya panjang, lebat dan prehensil, menjadi salah satu karakter paling khas dari binturong dan membantu stabilisasi tubuh ketika bergerak di pepohonan.
Kaki : kaki relatif pendek,
Pencernaan : Sistem pencernaannya memungkinkan pemanfaatan buah dan berbagai sumber makanan hewani.
Ekologi (Tingkah Laku) : Nocturnal/arboreal/Solitaire
Diet (Makanan) : Buah-buahan, tunas atau bagian tumbuhan, serangga, telur, burung kecil, mamalia kecil, ikan dan makanan hewani lainnya. Buah merupakan komponen penting dalam pola makan binturong.
Reproduksi : Vivipar. Melahirkan
Musim Reproduksi : Sepanjang Tahun
Jumlah Anak/Telur : 2-3 Anak
Masa Hidup (Lifespan) :
Alam liar : (-)
Penangkaran: ±20 Tahun
Notes :
Etimologi : Nama genus Arctictis berasal dari unsur bahasa Yunani arktos yang berarti “beruang” dan iktis yang berkaitan dengan civet, menggambarkan penampilan binturong yang secara historis dianggap memiliki kemiripan dengan beruang dan civet. Epitet penicillatus berasal dari bahasa Latin penicillus, yang berarti “kuas kecil”, “sikat” atau “berkas rambut”. Nama tersebut kemungkinan merujuk pada karakter rambut atau jumbai rambut yang menjadi ciri morfologis hewan ini.
Informasi Taksonomi Penting : Coenraad Jacob Temminck mendeskripsikan Arctictis penicillata pada 1835. MDD mencatat nama tersebut sebagai sinonim Arctictis binturong dan memberikan lokasi tipe Jawa, Indonesia, dengan empat spesimen sintipe yang tercatat dalam koleksi Naturalis: RMNH.MAM.34466, RMNH.MAM.34473, RMNH.MAM.34474 dan RMNH.MAM.34475.
Nama tersebut kemudian digunakan dalam kombinasi Arctictis binturong penicillatus, antara lain oleh Pocock pada 1933. MDD mencatat kombinasi tersebut sebagai name combination dalam sejarah penggunaan nama, sedangkan ITIS secara eksplisit menetapkan A. b. penicillatus sebagai invalid – junior synonym dengan nama valid Arctictis binturong binturong.
Hal ini menunjukkan bahwa penicillatus memiliki nilai penting dalam sejarah zoologi Jawa, meskipun tidak lagi dipertahankan sebagai subspesies valid oleh perlakuan taksonomi ITIS saat ini. Binturong merupakan bagian penting dari ekosistem hutan sebagai pemakan buah dan penyebar biji. Ketika memakan buah dan berpindah melalui kanopi, binturong dapat membawa serta menyebarkan biji ke lokasi lain sehingga membantu proses regenerasi tumbuhan hutan. Untuk bentuk yang secara historis dikaitkan dengan Jawa, keberadaan habitat berhutan menjadi sangat penting. Pulau Jawa memiliki tekanan penggunaan lahan yang tinggi, sehingga perlindungan hutan yang masih tersisa dapat berperan dalam mempertahankan ruang hidup mamalia arboreal seperti binturong. Status konservasi tidak diberikan secara terpisah kepada penicillatus karena nama tersebut merupakan sinonim. Evaluasi konservasi perlu merujuk pada Arctictis binturong sebagai spesies. Arctictis penicillata memiliki arti penting dalam sejarah zoologi Indonesia karena tipe nomenklaturnya berasal dari Jawa. Dengan demikian, nama penicillatus merupakan salah satu nama historis yang secara langsung berkaitan dengan populasi binturong Jawa. Binturong merupakan satu-satunya spesies yang masih hidup dalam genus Arctictis. Walaupun termasuk Order Carnivora, pola makan binturong sangat fleksibel dan buah dapat menjadi komponen utama makanan. Binturong juga mempunyai ekor prehensil, suatu adaptasi yang sangat membantu kehidupan arborealnya. Ekor tersebut dapat berfungsi sebagai alat bantu pegangan dan menjaga stabilitas tubuh saat berpindah di antara cabang. Nama Inggris “bearcat” dapat menyesatkan karena binturong bukan beruang dan bukan kucing. Hewan ini merupakan anggota Family Viverridae, dalam Subfamily Paradoxurinae.
Binturong juga terkenal karena aroma urinnya yang khas dan sering dibandingkan dengan aroma popcorn. Aroma tersebut berhubungan dengan komunikasi kimia dan penandaan.
Sumber Pustaka :
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
MML-EBDH-2 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 2.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8-93.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-BA (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Binatang Air
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 61
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 175.
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 194-206.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6-47.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 5-27.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 40.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 51-72.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
MML-ESS-8 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
MML-PAL- PMT (1979) — Pustaka Alam Life Primata (Edisi Cetak 1979-1987).
MML-PAL-(1979) — Pustaka Alam Life Mamalia (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
MML-EISF-M1-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 (1989).
MML-EISF-M2-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 2 (1989).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
MML-BPD-MAM (2012)— Buku Pintar Dunia: Mamalia (Lebih Dekat dengan Makhluk Menyusui)
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
MML-EHBR-M (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=726483#null
https://www.biolib.cz/en/taxon/id474618/
Penulis : Mas Tahzain
Editor : Agung Monche
Foto By : (Biolib | klaus rudolf)