26 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Arctictis binturong niasensis
Nama English : Nias Binturong / Binturong / Bearcat
Nama Lokal : Binturung Nias
Penemu : Oldfield Thomas Lyon, 1916;
Sinonim : Arctictis niasensis Lyon, 1916
Biogeografi : Pulau Nias, Sumatra Utara, Indonesia. Spesimen tipe berasal dari wilayah perbukitan dekat Fadoro di Pulau Nias.
Ekologi (Habitat) : Hutan tropis dan kawasan berhutan di Pulau Nias. Sebagai binturong, bentuk ini berkaitan dengan lingkungan berhutan dan kehidupan arboreal di tajuk pepohonan.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Mammalia
Subclass : Theria
Infraclass : Eutheria
Order : Carnivora
Suborder : Feliformia
Family : Viverridae
Subfamily : Paradoxurinae
Genus : Arctictis
Species : Arctictis binturong
Subspecies : Arctictis binturong niasensis
Included & Paleo Species : (-)
Paleo Species : (-)
SubSpecies :
8
Arctictis binturong albifrons
Arctictis binturong binturong
Arctictis binturong gairdneri
Arctictis binturong kerkhoveni
Arctictis binturong menglaensis
Arctictis binturong niasensis
Arctictis binturong pageli
Arctictis binturong penicillatus
Arctictis binturong whitei
XBread Species : (-)
Status Konservasi
(IUCN/: Vulnerable (VU)
CITES : (-)
Morfologi :
Fisiologi :
Tubuh : Binturong memiliki tubuh besar dan memanjang, ditutupi
Bulu/Rambut : rambut hitam hingga hitam kecokelatan yang panjang dan kasar.
Wajah : Wajahnya relatif lebar dengan telinga kecil membulat dan memiliki jumbai rambut. Ekor : ekornya yang panjang dan prehensil, sehingga dapat digunakan untuk membantu mencengkeram atau menstabilkan tubuh ketika bergerak di antara cabang.
Pencernaan : sistem pencernaan dan gigi yang memungkinkan pemanfaatan makanan yang beragam. Meskipun termasuk Order Carnivora, pola makannya tidak terbatas pada daging dan mencakup proporsi besar buah-buahan.
Ekologi (Tingkah Laku) : Umumnya aktif pada malam hari dan banyak menghabiskan waktu di pepohonan. Binturong dapat bergerak secara perlahan di atas cabang dan menggunakan ekornya sebagai alat bantu keseimbangan serta pegangan.
Diet (Makanan) : Buah-buahan, serangga, telur, burung kecil, mamalia kecil, ikan, daun dan bagian tumbuhan lainnya. Bangkai juga dapat dimanfaatkan secara oportunistik.
Diet (Makanan) : Buah-buahan, terutama buah yang tersedia di kanopi hutan, serta telur, serangga, burung kecil, mamalia kecil dan berbagai sumber makanan lain. Binturong dikenal sebagai omnivora dengan kecenderungan kuat memanfaatkan buah.
Reproduksi : Vivipar.
Musim Reproduksi : Sepanjang Tahun
Jumlah Anak/Telur :
Masa Hidup (Lifespan) :
Alam liar : (-)
Penangkaran (-)
Notes : Etimologi Nama genus Arctictis berasal dari unsur bahasa Yunani arktos yang berarti “beruang” dan iktis yang merujuk pada civet, menggambarkan bentuk tubuh binturong yang secara historis dianggap memiliki kemiripan dengan beruang dan civet. Epitet niasensis merupakan nama geografis yang berasal dari Nias, yaitu pulau di sebelah barat Sumatra, Indonesia. Akhiran Latin -ensis berarti “berasal dari” atau “berkaitan dengan” suatu tempat. Dengan demikian, niasensis secara sederhana bermakna “yang berasal dari Nias.” Informasi Taksonomi Penting : Nama Arctictis niasensis pertama kali dideskripsikan oleh Oldfield Thomas Lyon pada 1916. MDD mencatat spesimen holotipe USNM:MAMM:141230, dengan lokasi tipe Nias Island, di perbukitan dekat Fadoro, Indonesia. MDD saat ini memasukkan Arctictis niasensis sebagai sinonim dari Arctictis binturong. Pada 1940, Chasen menggunakan kombinasi Arctictis binturong niasensis dalam Bulletin of the Raffles Museum. MDD mencatat kombinasi tersebut sebagai nama historis/sinonimik, bukan sebagai subspesies valid tersendiri.
Namun, nomenklatur subspesies binturong tidak sepenuhnya seragam di antara sumber. Animal Diversity Web masih mencantumkan enam subspesies historis, termasuk A. b. niasensis, sedangkan MDD memperlakukan nama tersebut sebagai sinonim. Literatur konservasi modern mengenai binturong Indonesia juga masih menggunakan A. b. niasensis untuk populasi Nias. Binturong memiliki peran penting dalam ekosistem hutan sebagai pemakan buah dan penyebar biji. Pergerakannya di dalam hutan dapat membantu memindahkan biji dari tumbuhan induk ke lokasi lain sehingga berkontribusi terhadap regenerasi vegetasi. Untuk populasi yang berada di pulau seperti Nias, perlindungan habitat berhutan menjadi sangat penting karena wilayah pulau memiliki luas habitat yang lebih terbatas dibandingkan daratan utama. Pada tingkat spesies, Arctictis binturong berstatus Vulnerable (VU). Ancaman terhadap binturong di Indonesia antara lain kehilangan habitat dan perdagangan satwa liar. Sebuah kajian mengenai perdagangan binturong di Indonesia secara khusus mencatat keberadaan bentuk Nias sebagai salah satu bentuk geografis yang digunakan dalam literatur. A. b. niasensis memiliki nilai khusus dalam sejarah zoologi Indonesia karena nama takson ini secara langsung berkaitan dengan Pulau Nias. Spesimen tipe dikumpulkan dari kawasan perbukitan dekat Fadoro di Nias. Binturong juga merupakan hewan yang sangat unik karena meskipun termasuk Carnivora, buah dapat menjadi bagian penting dari makanannya. Adaptasi lainnya adalah ekor prehensil yang dapat digunakan sebagai alat bantu ketika bergerak di kanopi. Binturong sering disebut “bearcat”, tetapi tidak berkerabat dekat dengan beruang maupun kucing. Hewan ini merupakan anggota Family Viverridae, dalam Subfamily Paradoxurinae. Binturong juga dikenal memiliki aroma urin yang khas dan sering dibandingkan dengan aroma popcorn. Aroma tersebut berkaitan dengan komunikasi kimia dan penandaan.
Sumber Pustaka :
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
MML-EBDH-2 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 2.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8-93.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-BA (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Binatang Air
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 61
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 175.
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 194-206.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6-47.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 5-27.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 40.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 51-72.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
MML-ESS-8 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
MML-PAL- PMT (1979) — Pustaka Alam Life Primata (Edisi Cetak 1979-1987).
MML-PAL-(1979) — Pustaka Alam Life Mamalia (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
MML-EISF-M1-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 (1989).
MML-EISF-M2-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 2 (1989).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
MML-BPD-MAM (2012)— Buku Pintar Dunia: Mamalia (Lebih Dekat dengan Makhluk Menyusui)
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
MML-EHBR-M (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.biolib.cz/en/taxon/id928997/
Penulis : Mas Tahzain
Editor : Agung Monche
Foto By : (-)