26 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Arctictis binturong binturong (Raffles, 1822)
Nama English : Binturong / Binturong Bearcat / Asian Bearcat
Nama Lokal : Binturung
Penemu : Sir Thomas Stamford Raffles, 1821
Sinonim :
Viverra binturong Raffles, 1821
Arctictis binturong (Raffles, 1822)
Arctictis binturong binturong Pocock, 1933
Arctictis binturong penicillatus Temminck, 1835
Arctictis binturong kerkhoveni Sody, 1936
Arctictis binturong menglaensis Wang & Li, 1987
Arctictis binturong whitei J. A. Allen, 1910
Biogeografi :
Asia Selatan dan Asia Tenggara. Persebaran spesies Arctictis binturong mencakup Bangladesh, Bhutan, Myanmar, Tiongkok bagian Yunnan, India, Nepal, Laos, Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, serta Palawan di Filipina. ITIS menempatkan A. b. binturong sebagai salah satu subspecies dalam spesies Arctictis binturong.
Ekologi (Habitat) :
Hutan hujan tropis, hutan sekunder, hutan dataran rendah hingga kawasan berhutan di daerah perbukitan. Binturung merupakan mamalia arboreal yang banyak menggunakan tajuk pohon untuk bergerak, beristirahat, mencari makanan, dan berlindung.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Mammalia
Subclass : Theria
Infraclass : Eutheria
Order : Carnivora
Suborder : Feliformia
Family : Viverridae
Subfamily : Paradoxurinae
Genus : Arctictis Temminck, 1824
Species : Arctictis binturong (Raffles, 1822)
Included & Paleo Species : (-)
Paleo Species : (-)
Subspecies :
Arctictis binturong albifrons
Arctictis binturong binturong
Arctictis binturong gairdneri
Arctictis binturong kerkhoveni
Arctictis binturong menglaensis
Arctictis binturong niasensis
Arctictis binturong pageli
Arctictis binturong penicillatus
Arctictis binturong whitei
XBread Species : (-)
Status Konservasi :
IUCN : Vulnerable (VU) — status konservasi yang tersedia diterapkan pada tingkat spesies Arctictis binturong.
CITES : Appendix III (India), pada tingkat spesies Arctictis binturong.
Morfologi :
Panjang Tubuh : ± 60–95 cm.
Panjang Ekor : ± 50–90 cm.
Berat : ± 11–20 kg,
Fisiologi :
Bentuk Tubuh : tubuh memanjang dan relatif berat dengan kaki pendek.
Bulu : panjang, kasar, dan umumnya berwarna hitam hingga hitam kecokelatan.
Kepala : relatif besar dengan moncong pendek.
Mata : relatif kecil dan disesuaikan dengan aktivitas di lingkungan hutan.
Kumis : panjang dan kaku serta berfungsi sebagai organ sensorik.
Telinga : kecil dan membulat dengan rambut panjang di bagian tepinya.
Ekor : panjang, kuat, dan prehensil serta dapat membantu mencengkeram cabang.
Kaki : kuat dengan cakar yang mendukung kemampuan memanjat.
Bentuk Tubuh : beradaptasi dengan kehidupan arboreal.
Pernapasan : menggunakan paru-paru.
Adaptasi Arboreal : anggota gerak dan ekor mendukung aktivitas di atas pohon.
Ekor Prehensil : dapat digunakan untuk membantu mencengkeram cabang dan menjaga keseimbangan ketika berpindah di antara pepohonan.
Indra Penciuman : berkembang baik dan berperan dalam pencarian makanan serta komunikasi.
Ekologi (Tingkah Laku) :
Nokturnal/ Arboreal / Soliter
Diet (Makanan) :
Buah-buahan, terutama buah hutan, daun, pucuk tumbuhan, serangga, telur, burung kecil, mamalia kecil, dan berbagai sumber makanan lainnya. Meskipun termasuk dalam Order Carnivora, binturung merupakan pemakan oportunistik dengan buah sebagai komponen penting dalam dietnya.
Reproduksi :
Vivipar (Melahirkan)
Musim Reproduksi :
berdasarkan wilayah dan kondisi lingkungan.
Jumlah Anak /Telur :
1–3 anak
Masa Hidup (Lifespan) :
Alam liar : Tidak ada data valid yang cukup untuk menetapkan umur maksimum khusus A. b. binturong.
Penangkaran : Dapat mencapai lebih dari 20 tahun pada kondisi tertentu.
Notes :
Arctictis binturong binturong merupakan subspecies nominotipikal dari Arctictis binturong. Istilah nominotipikal berarti nama subspecies ini mengulang nama spesifik dan menjadi bentuk yang secara nomenklatural berkaitan langsung dengan populasi yang menjadi dasar nama spesies. ITIS saat ini mencatat A. b. binturong sebagai subspecies valid. Secara historis, Sir Thomas Stamford Raffles mendeskripsikan binturung dengan nama Viverra binturong. Nama tersebut kemudian ditempatkan dalam genus Arctictis yang didirikan oleh Temminck pada 1824. NCBI saat ini mencatat Viverra binturong Raffles, 1821 sebagai basionym dari Arctictis binturong. Nama Arctictis berasal dari unsur bahasa Yunani arktos, yang berarti “beruang”, dan iktis, yang merujuk pada “civet” atau musang. Nama tersebut berkaitan dengan penampilan binturung yang sekilas menyerupai beruang kecil, meskipun secara taksonomi binturung bukan beruang. Epitet binturong berasal dari nama lokal yang digunakan untuk hewan ini di kawasan Asia Tenggara. Nama tersebut kemudian dipertahankan dalam nomenklatur ilmiah. Pengulangan kata pada Arctictis binturong binturong menunjukkan bahwa binturong kedua merupakan nama subspecies, sedangkan binturong pertama merupakan bagian dari nama spesies. Karena itu, penulisan tiga tingkat nama tersebut berbeda makna dengan hanya Arctictis binturong. Nilai ekologis Arctictis binturong binturong terutama berkaitan dengan perannya sebagai frugivor dan penyebar biji. Binturung memakan buah dari berbagai tumbuhan hutan dan dapat membawa biji ke lokasi lain ketika berpindah. Proses tersebut berpotensi membantu penyebaran tumbuhan dan regenerasi hutan. Sebagai mamalia arboreal berukuran cukup besar, binturung juga menjadi bagian dari jaringan makanan hutan. Keberadaannya menghubungkan sumber daya tumbuhan dengan konsumen lain dan menjadi bagian dari dinamika ekosistem hutan. Dari sisi konservasi, status Vulnerable (VU) berlaku pada tingkat spesies Arctictis binturong, bukan merupakan penilaian terpisah khusus untuk A. b. binturong. IUCN mencatat binturung sebagai spesies yang menghadapi tekanan konservasi, sedangkan kondisi populasi dapat berbeda antarwilayah. Ancaman terhadap binturung meliputi kehilangan dan fragmentasi habitat, perburuan, perdagangan satwa, serta perubahan penggunaan lahan. Karena A. b. binturong merupakan bagian dari keragaman geografis spesies tersebut, perlindungan habitat hutan tetap penting untuk mempertahankan populasi dan variasi biologisnya. Fakta menarik yang terkenal dari binturung adalah ekornya yang prehensil. Adaptasi tersebut memungkinkan ekor berfungsi sebagai alat bantu ketika bergerak di antara cabang dan membantu mempertahankan keseimbangan tubuh.
Binturung juga menghasilkan aroma khas yang sering dibandingkan dengan popcorn. Aroma tersebut berkaitan dengan senyawa volatil dalam urine dan menjadi salah satu bentuk komunikasi kimia pada spesies ini.
Meskipun disebut Bearcat dalam bahasa Inggris, binturung bukan anggota Family Ursidae maupun Felidae. Spesies ini termasuk Family Viverridae, bersama berbagai civet dan kerabatnya. ITIS menempatkan kelompok ini dalam Subfamily Paradoxurinae. Riwayat taksonomi binturung juga menarik karena sejumlah nama yang dahulu diperlakukan sebagai subspecies kini memiliki perlakuan taksonomi berbeda. ITIS mencatat A. b. binturong, A. b. albifrons, A. b. kerkhoveni, A. b. menglaensis, dan A. b. penicillatus dalam sejarah taksonominya, sementara Mammal Diversity Database yang lebih baru menyajikan Arctictis binturong pada tingkat spesies tanpa menampilkan subspecies tersebut pada halaman spesiesnya.
Sumber Pustaka :
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
MML-EBDH-2 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 2.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8-93.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-BA (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Binatang Air
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 61
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 175.
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 194-206.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6-47.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 5-27.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 40.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 51-72.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
MML-ESS-8 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
MML-PAL- PMT (1979) — Pustaka Alam Life Primata (Edisi Cetak 1979-1987).
MML-PAL-(1979) — Pustaka Alam Life Mamalia (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
MML-EISF-M1-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 (1989).
MML-EISF-M2-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 2 (1989).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
MML-BPD-MAM (2012)— Buku Pintar Dunia: Mamalia (Lebih Dekat dengan Makhluk Menyusui)
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
MML-EHBR-M (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.gbif.org/species/2436342
https://www.catalogueoflife.org/data/taxon/5FR58
https://www.iucnredlist.org/species/41690/45217088
https://cites.org/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?id=94180
https://www.biolib.cz/en/taxon/id21403/
https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=726479
https://www.mammaldiversity.org/taxon/1006097/
https://www.inaturalist.org/observations/330584826
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto By : INaturalist | yulindawahyunie