26 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Arctictis binturong albifrons
Nama English : White-fronted Binturong / Binturong
Nama Lokal : Binturung
Penemu / Deskripsi Ilmiah : Frédéric Cuvier, 1822
Sinonim :
Paradoxurus albifrons F. Cuvier, 1822
Arctictis albifrons Temminck, 1824
Ictides albifrons (Cuvier, 1822)
Arctictis albifrons C. H. Smith, 1842
Arctictis binturong albifrons Pocock, 1933
Biogeografi :
India dan wilayah Asia Selatan, terutama Bangladesh, Bhutan, India, Nepal,.
Ekologi (Habitat) :
Hutan tropis dan subtropis, terutama hutan dengan tutupan vegetasi yang rapat.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Mammalia
Subclass : Theria
Infraclass : Eutheria
Order : Carnivora
Suborder : Feliformia
Family : Viverridae
Subfamily : Paradoxurinae
Genus : Arctictis
Species : Arctictis binturong
Subspecies : Arctictis binturong albifrons
Included & Paleo Species : (-)
Paleo Species : (-)
SubSpecies :
Arctictis binturong albifrons
Arctictis binturong binturong
Arctictis binturong gairdneri
Arctictis binturong kerkhoveni
Arctictis binturong menglaensis
Arctictis binturong niasensis
Arctictis binturong pageli
Arctictis binturong penicillatus
Arctictis binturong whitei
XBread Species : (-)
Status Konservasi :
IUCN : Vulnerable (VU) —
CITES : Appendix III (India),
Morfologi :
Panjang Tubuh : ± 60–95 cm
Panjang Ekor : ± 50–90 cm.
Berat : ± 11–20 kg
Fisiologi :
Bentuk Tubuh : tubuh panjang dan relatif berat dengan kaki pendek, sesuai dengan kehidupan arboreal.
Bulu : panjang, kasar, dan umumnya berwarna hitam hingga hitam kecokelatan dengan variasi warna pada ujung rambut.
Kepala : relatif besar dengan moncong pendek.
Kumis : panjang dan kaku, berfungsi sebagai organ sensorik ketika bergerak di lingkungan hutan.
Telinga : kecil dan membulat dengan rambut panjang di bagian tepinya.
Ekor : panjang, kuat, dan prehensil sehingga dapat membantu memegang cabang ketika memanjat.
Kaki : kuat dengan cakar yang sesuai untuk aktivitas memanjat.
Pernapasan : menggunakan paru-paru.
Adaptasi Arboreal : tubuh dan anggota gerak mendukung kehidupan di atas pohon.
Ekor Prehensil : ekor dapat digunakan sebagai alat bantu mencengkeram dan menjaga keseimbangan ketika bergerak di antara cabang.
Indra Penciuman : berkembang baik dan berperan dalam eksplorasi lingkungan serta komunikasi kimia.
Ekologi (Tingkah Laku) : nokturnal/Arboreal /Soliter
Diet (Makanan) :
Buah-buahan, terutama buah hutan, serta daun, pucuk tumbuhan, serangga, telur, burung kecil, mamalia kecil, dan sumber makanan lainnya.
Reproduksi :
Vivipar (Melahirkan)
Musim Reproduksi :
Sepanjang Tahun
Jumlah Anak / Telur :
1–3 anak dalam satu kelahiran, meskipun jumlah dapat bervariasi.
Lifespan (Masa Hidup) :
Alam liar : ± (-)
Penangkaran : ± 20 tahun
Notes :
Arctictis binturong albifrons merupakan salah satu bentuk subspecific yang secara historis ditempatkan di bawah spesies Arctictis binturong. ITIS saat ini mencatatnya sebagai subspecies valid dengan otoritas F. Cuvier, 1822, sementara NCBI juga mencatatnya sebagai subspecies dan mencantumkan Arctictis albifrons Temminck, 1824 sebagai basionim.
Nama albifrons memiliki akar Latin: albus berarti “putih” dan frons berarti “dahi” atau “bagian depan kepala”. Secara harfiah, albifrons dapat dipahami sebagai “berdahi putih” atau “berwajah bagian depan putih”. Nama tersebut merujuk pada karakter warna pada bagian depan kepala yang menjadi dasar penamaan bentuk ini. Nama genus Arctictis berasal dari unsur Yunani yang berkaitan dengan arktos, “beruang”, dan iktis, “civet/musang”. Nama tersebut menggambarkan penampilan binturung yang secara sekilas dapat menyerupai beruang kecil, meskipun secara taksonomi binturung bukan beruang. Binturung merupakan anggota Carnivora, Feliformia, Family Viverridae. Secara historis, nama albifrons pernah digunakan dalam beberapa kombinasi genus, termasuk Paradoxurus albifrons dan Arctictis albifrons, sebelum ditempatkan sebagai Arctictis binturong albifrons. ITIS mencatat Paradoxurus albifrons sebagai nama asli yang kini tidak valid, sedangkan Arctictis binturong albifrons menjadi kombinasi yang diterima dalam sistem tersebut. Nilai ekologis Arctictis binturong albifrons terutama berkaitan dengan perannya sebagai pemakan buah dan penyebar biji. Binturung dapat memakan buah dari berbagai tumbuhan hutan kemudian berpindah ke lokasi lain, sehingga membantu membawa biji menjauh dari pohon induknya. Proses tersebut dapat berkontribusi terhadap regenerasi dan penyebaran vegetasi hutan.
Sebagai mamalia arboreal berukuran cukup besar, binturung juga merupakan bagian dari jaringan makanan hutan. Kehadirannya menghubungkan sumber daya tumbuhan dengan konsumen tingkat lebih tinggi serta menjadi bagian dari dinamika ekologis hutan tropis dan subtropis. Dari sisi konservasi, A. b. albifrons perlu dilihat dalam konteks status spesies Arctictis binturong. Binturung secara global dikategorikan Vulnerable (VU) oleh IUCN. Ancaman terhadap binturung meliputi kehilangan dan fragmentasi hutan, perburuan, perdagangan satwa, serta perubahan lanskap. Kondisi populasi dapat berbeda antarwilayah. Salah satu fakta menarik binturung adalah ekornya yang prehensil. Adaptasi ini membantu individu mempertahankan keseimbangan dan mencengkeram cabang ketika bergerak di lingkungan arboreal. Binturung juga terkenal karena menghasilkan aroma khas yang sering dibandingkan dengan aroma popcorn. Senyawa volatil yang berhubungan dengan aroma tersebut terdapat dalam urin dan berperan dalam komunikasi kimia. Karakter ini menjadi salah satu keunikan biologis paling terkenal dari binturung.
Meskipun dalam bahasa Inggris disebut Bearcat, binturung bukan beruang (Ursidae) dan bukan kucing (Felidae). Binturung merupakan anggota Viverridae, kelompok yang mencakup civet dan kerabatnya.
Keberadaan bentuk albifrons juga penting dari perspektif taksonomi karena menunjukkan bagaimana populasi binturung dari wilayah geografis berbeda pernah dipisahkan berdasarkan karakter morfologi. Sejumlah sumber historis bahkan mengakui lebih banyak subspecies binturung, sehingga klasifikasi infraspesifik kelompok ini memiliki sejarah revisi yang cukup panjang. ITIS saat ini secara eksplisit mencantumkan A. b. albifrons sebagai salah satu subspecies di bawah A. binturong.
Sumber Pustaka
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
MML-EBDH-2 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 2.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8-93.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-BA (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Binatang Air
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 61
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 175.
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 194-206.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6-47.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 5-27.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 40.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 51-72.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
MML-ESS-8 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
MML-PAL- PMT (1979) — Pustaka Alam Life Primata (Edisi Cetak 1979-1987).
MML-PAL-(1979) — Pustaka Alam Life Mamalia (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
MML-EISF-M1-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 (1989).
MML-EISF-M2-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 2 (1989).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
MML-BPD-MAM (2012)— Buku Pintar Dunia: Mamalia (Lebih Dekat dengan Makhluk Menyusui)
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
MML-EHBR-M (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.gbif.org/species/2436342
https://www.catalogueoflife.org/data/taxon/5FR57
https://www.iucnredlist.org/
https://cites.org/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?id=1933056
https://www.biolib.cz/en/taxon/id21403/
https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=726480
https://www.mammaldiversity.org/taxon/1006097/
https://www.inaturalist.org/observations/255054147
https://www.biolib.cz/en/taxon/id474614/
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto By : (Inaturalist) | phuwarin