26 / SEPTEMBER / 2026 | KAMUS SATWA PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Arctictis binturong
Nama English : Binturong / Binturong Bearcat / Asian Bearcat
Nama Lokal : Binturung / Binturung Asia
Penemu : Thomas Stamford Raffles, 1821
Sinonim :
Viverra binturong Raffles, 1821
Ictides albifrons (Cuvier, 1822)
Ictides ater Cuvier & Geoffroy, 1824
Paradoxurus albifrons (Cuvier, 1822)
Biogeografi :
Asia Selatan dan Asia Tenggara, meliputi Bangladesh, Bhutan, India, Nepal, Myanmar, Tiongkok bagian selatan, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, serta Palawan di Filipina. Di Indonesia, binturung diketahui terdapat di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Persebarannya berkaitan erat dengan kawasan hutan yang masih menyediakan tutupan pohon dan sumber makanan.
Ekologi (Habitat) :
Hutan hujan tropis, hutan subtropis, hutan primer dan sekunder, serta beberapa habitat berhutan lainnya. Binturung merupakan satwa arboreal yang banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan dapat ditemukan hingga ketinggian sekitar 1.500–2.500 meter di beberapa bagian wilayah persebarannya.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostomata
Superclass : Tetrapoda
Class : Mammalia
Subclass : Theria
Infraclass : Eutheria
Order : Carnivora
Suborder : Feliformia
Family : Viverridae
Subfamily : Paradoxurinae
Genus : Arctictis
Species : Arctictis binturong
Included & Paleo Species : (-)
Paleo Species : (-)
SubSpecies :
8
Arctictis binturong albifrons
Arctictis binturong binturong
Arctictis binturong gairdneri
Arctictis binturong kerkhoveni
Arctictis binturong menglaensis
Arctictis binturong niasensis
Arctictis binturong pageli
Arctictis binturong penicillatus
Arctictis binturong whitei
XBread Species : (-)
Status Konservasi :
IUCN : Vulnerable (VU)
CITES : Appendix III (India)
Morfologi :
Panjang Tubuh : ± 60–95 cm,
Panjang Ekor : ± 50–90 cm
Berat : ± 11–20 kg,
Fisiologi :
Bentuk Tubuh : tubuh besar, memanjang, dengan kaki relatif pendek.
Bulu : panjang, kasar, dan umumnya berwarna hitam hingga hitam kecokelatan.
Kepala : relatif besar dengan moncong pendek dan kumis sensorik yang berkembang baik.
Telinga : kecil dan membulat dengan rambut panjang di bagian tepinya.
Ekor : panjang, kuat, dan prehensil sehingga dapat digunakan untuk membantu mencengkeram cabang.
Kaki : memiliki cakar kuat yang mendukung kehidupan arboreal.
Cakar : sebagian dapat ditarik dan membantu aktivitas memanjat.
Bentuk Tubuh : beradaptasi dengan kehidupan arboreal dan pergerakan di antara cabang pohon.
Pernapasan : menggunakan paru-paru.
Penglihatan : mendukung aktivitas di lingkungan hutan, tetapi binturung lebih banyak mengandalkan kombinasi penciuman, pendengaran, dan sentuhan ketika menjelajah.
Indra Penciuman : berkembang baik dan digunakan untuk mengenali lingkungan serta komunikasi kimia.
Adaptasi : ekor prehensil merupakan salah satu adaptasi paling khas pada binturung dan membantu menjaga keseimbangan ketika bergerak di atas pepohonan.
Ekologi (Tingkah Laku) :
Terutama nokturnal dan cenderung soliter,
Diet (Makanan) :
Buah-buahan, terutama buah yang tersedia di hutan, serta daun, pucuk tumbuhan, telur, serangga, burung kecil, mamalia kecil, dan berbagai sumber makanan lainnya. Binturung merupakan pemakan oportunistik dengan proporsi makanan tumbuhan yang penting dalam dietnya.
Reproduksi :
Vivipar (Melahirkan)
Musim Reproduksi :
berdasarkan wilayah dan kondisi lingkungan.
Jumlah Anak :
1–3 anak
Masa Hidup (Lifespan) :
Alam liar : (-)
Penangkaran : ± 20 tahun
Notes :
Arctictis binturong merupakan satu-satunya spesies yang masih hidup dalam genus Arctictis, sehingga genus ini bersifat monotypic. Spesies ini ditempatkan dalam Family Viverridae dan Subfamily Paradoxurinae bersama kelompok palm civet. meskipun interaksi sosial dapat terjadi. Binturung merupakan pemanjat yang sangat baik dan lebih banyak beraktivitas di pepohonan. Spesies ini juga menghasilkan aroma khas yang sering digambarkan menyerupai popcorn, yang berasal dari senyawa kimia dalam urinnya dan berperan dalam komunikasi serta penandaan wilayah.
Secara taksonomi, binturung pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Stamford Raffles dengan nama Viverra binturong. Nama tersebut kemudian ditempatkan ke dalam genus Arctictis, yang didirikan oleh Coenraad Jacob Temminck pada 1824. Sumber taksonomi modern menggunakan kombinasi Arctictis binturong sebagai nama yang diterima. Binturung termasuk mamalia yang memiliki kemampuan embryonic diapause, yaitu penundaan perkembangan embrio setelah pembuahan sehingga waktu kelahiran dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Nama genus Arctictis berasal dari unsur bahasa Yunani yang berkaitan dengan arktos (“beruang”) dan iktis (“musang/civet”), sehingga nama tersebut dapat dipahami sebagai rujukan terhadap penampilan binturung yang sekilas menyerupai beruang sekaligus hubungan morfologisnya dengan kelompok civet.
Epitet spesifik binturong berasal dari nama lokal yang digunakan di kawasan Asia Tenggara untuk menyebut hewan tersebut. Nama ini kemudian dipertahankan dalam nomenklatur ilmiah sebagai nama spesies.
Binturung mempunyai nilai ekologis yang penting sebagai pemakan buah dan penyebar biji. Ketika memakan buah dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, biji yang melewati saluran pencernaan dapat dibawa ke lokasi yang jauh dari pohon induknya. Dengan demikian, binturung menjadi salah satu bagian dari proses regenerasi hutan. Perannya sebagai frugivor juga membuat keberadaan binturung berkaitan dengan keberlangsungan tumbuhan hutan yang menghasilkan buah. Hilangnya populasi binturung berpotensi mengurangi salah satu jalur penyebaran biji pada ekosistem hutan. Fakta menarik lainnya adalah ekornya yang prehensil. Binturung merupakan salah satu mamalia Dunia Lama yang mempunyai ekor yang dapat digunakan untuk mencengkeram dan membantu stabilisasi tubuh ketika bergerak di antara cabang. Adaptasi tersebut sangat berguna bagi kehidupan arboreal. Binturung juga dikenal karena aroma urinnya yang menyerupai popcorn. Senyawa volatil tertentu yang berkaitan dengan aroma tersebut juga terdapat dalam sekresi dan digunakan dalam komunikasi kimia. Aroma ini menjadi salah satu karakter biologis paling khas dari spesies tersebut. Meskipun namanya dalam bahasa Inggris kadang diterjemahkan sebagai “bearcat”, binturung bukan beruang dan bukan pula kucing. Ia merupakan anggota Carnivora, Feliformia, Family Viverridae, sehingga lebih dekat secara taksonomi dengan civet dan kelompok feliform lainnya. Dari sisi konservasi, Arctictis binturong saat ini dikategorikan Vulnerable (VU) oleh IUCN. Ancaman utamanya berkaitan dengan kehilangan dan fragmentasi habitat hutan, perburuan, perdagangan satwa, serta perubahan lanskap. Kondisi populasi juga dapat berbeda antarwilayah karena spesies ini memiliki persebaran yang luas.
Penelitian genetik terhadap binturung menunjukkan adanya struktur genetik dan variasi antar-populasi, termasuk perhatian khusus terhadap populasi Palawan. Hal tersebut penting karena populasi yang terisolasi secara geografis dapat memiliki sejarah evolusi dan kebutuhan konservasi yang berbeda. Secara ekologis, binturung dapat dipandang sebagai salah satu penghubung antara tumbuhan hutan dan regenerasi vegetasi, terutama melalui aktivitas makan buah dan penyebaran biji. Karena itu, konservasi binturung tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan satu spesies mamalia, tetapi juga dengan mempertahankan proses ekologis yang berlangsung di dalam hutan.
Sumber Pustaka :
GEN-NG-FPN (2016) — National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
GEN-EBDH-1 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 1.
MML-EBDH-2 (2003) — Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN Jilid 2.
GEN-AS-BP (2018) — Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8-93.
GEN-HDITL-EMH (1996) — Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Evolusi Mahluk Hidup
GEN-HDITL-BA (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life Binatang Air
GEN-HDITL-PB (1996)—Hamparan Dunia Ilmu Time-Life PERILAKU BINATANG
GEN-KPBA-DB (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Dunia Binatang
GEN-KPBA-KP (1982) — KHAZANAH PENGETAHUAN BAGI ANAK-ANAK Kehidupan Prasejarah hlm 61
GEN-WWP-UB (1988) — Widya Wiyata Pertama Ulah Binatang
GEN-WWP-SL (1988) — Widya Wiyata Pertama Satwa Liar
GEN-WWP-BSK (1988) — Widya Wiyata Binatang Sahabat Kita
GEN-WWP-KDA (1988) — Widya Wiyata Kehidupan dalam Air
GEN-EPUP-FF (2014) — Ensiklopedia Pengetahuan Umum Populer Flora Fauna
GEN-SETS-DHT (2010) — Science, Environment, Technology & Society: Dunia Hewan dan Tumbuhan hlm 175.
GEN-DK-ST-2 (2007) — DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Jld 2 hlm 194-206.
GEN-DK-MSH (2003) — DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6-47.
GEN-EP-FF-1 (2012) Ensiklopedia Pengetahuan: Fauna & Flora 1 hlm 5-27.
GEN-BIP-UGH (2019) — BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
GEN-BIP-UBH (2020) — BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
GEN-PPM-PL (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Pantai Laut hlm 40.
GEN-PPM-DB (1991) — Pustaka Pengetahuan Modern Dunia Binatang
GEN-KIPB (2004) — KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN hlm 51-72.
GEN-SPS-CHH (2005) — Seri Pustaka Sains: Cara Hidup Hewan.
GEN-DK-EEF (2005) — DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
GEN-ESS-2 (2009) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Jilid 2: Ekologi.
MML-ESS-8 (2010) — Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
MML-PAL- PMT (1979) — Pustaka Alam Life Primata (Edisi Cetak 1979-1987).
MML-PAL-(1979) — Pustaka Alam Life Mamalia (Edisi Cetak 1979-1987).
GEN-PAL-EKO (1980) — Pustaka Alam Life Ekologi
GEN-PAL-LAUT (1980) — Pustaka Alam Life Laut
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Utara.
GEN-PAL-MSAU (1980) — Pustaka Alam Life Marga Satwa Amerika Selatan.
MML-EISF-M1-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 (1989).
MML-EISF-M2-1989 — Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 2 (1989).
GEN-ARM-DDB (2010)—Ensiklopedia Dunia dalam Binatang: Fakta-Fakta Unik & Menarik Dunia Hewan.
MML-BPD-MAM (2012)— Buku Pintar Dunia: Mamalia (Lebih Dekat dengan Makhluk Menyusui)
GEN-ENS-FDI (2010)—Ensiklopedia: Fauna di Indonesia
GEN-TS-JP-1 (2012)—Jelajah Pengetahuan: Fauna & Flora Jilid 1.
GEN-AB-EDF-1 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 1)
GEN-AB-EDF-2 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 2)
GEN-AB-EDF-3 (2012)—Ensiklopedia Dunia Fauna (Judul Seri 3)
MML-EHBR-M (2015) — Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti).
GEN-EMK-HMBA (2007)—Hiu dan Monster Bawah Air
Link Referensi :
https://www.gbif.org/taxon/5VRMH
https://www.catalogueoflife.org/data/taxon/5VRMH
https://www.iucnredlist.org/
https://cites.org/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/
https://www.biolib.cz/en/taxon/id21403/
https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=621981#null
https://www.inaturalist.org/taxa/41844-Arctictis-binturong
https://www.inaturalist.org/observations/327107641
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto By : INaturalist | miraceae