Oktober, 24 2025-21.03| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya, paramidsn.com -
Di perairan pesisir Asia Timur hingga Asia Tenggara, terdapat spesies purba yang telah bertahan sejak masa dinosaurus yaitu Tachypleus tridentatus atau yang lebih dikenal sebagai kepiting tapal kuda Asia tiga-tanduk. Hewan ini bukanlah kepiting sejati, melainkan anggota dari kelompok Xiphosura yang masih kerabat jauh laba-laba dan kalajengking dan telah hidup di bumi selama lebih dari 450 juta tahun. Penampilannya yang khas dengan cangkang keras berbentuk tapal kuda dan ekor panjang seperti duri tajam menjadikannya salah satu fosil hidup yang masih bertahan hingga kini. Tachypleus tridentatus mendiami wilayah pesisir dan muara di berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, hingga Vietnam. Mereka hidup di perairan dangkal berpasir atau berlumpur, biasanya di sekitar pantai yang tenang dan kaya bahan organik.
Hewan ini memiliki kebiasaan bertelur secara massal di pasir pantai saat pasang naik. Telur-telurnya akan menetas menjadi larva kecil yang berkembang di dalam sedimen sebelum akhirnya muncul ke permukaan untuk memulai kehidupan sebagai juvenil. Spesies ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai. Telurnya menjadi sumber makanan bagi berbagai burung pantai migran, sementara aktivitasnya di dasar perairan membantu mengaduk sedimen dan menjaga sirkulasi nutrisi.
Selain itu, darah biru milik Tachypleus tridentatus memiliki nilai medis yang sangat tinggi karena mengandung zat bernama Limulus Amebocyte Lysate (LAL) yang digunakan untuk mendeteksi kontaminasi bakteri pada obat dan vaksin. Namun, keberadaan makhluk purba ini kini semakin terancam. Penangkapan besar-besaran untuk kebutuhan industri medis, ditambah kerusakan habitat akibat reklamasi pantai, polusi, dan aktivitas manusia lainnya, menyebabkan populasi Tachypleus tridentatus menurun drastis. Berdasarkan penilaian International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini telah dikategorikan sebagai Endangered (Terancam Punah).
Para ahli lingkungan menekankan bahwa kepiting tapal kuda bukan sekadar hewan purba yang menakjubkan, tetapi juga indikator alami kesehatan ekosistem pantai. Jika mereka hilang, keseimbangan ekosistem pesisir akan terganggu dan banyak spesies lain yang bergantung pada rantai kehidupan di sekitarnya ikut terdampak. Pelestarian Tachypleus tridentatus menjadi langkah penting dalam menjaga warisan alami yang telah hidup sejak zaman prasejarah.
Referensi :
https://en.wikipedia.org/wiki/Tachypleus_tridentatus?utm_source=
Penulis : Vivi Yunita
Editor : Ali Maruf
Foto By : Wikipedia