Aves

Sayap Terakhir Pulau, Kisah Panjang Burung Laut Eksklusif dari Christmas Island

Sayap Terakhir Pulau, Kisah Panjang Burung Laut Eksklusif dari Christmas Island

  • Kategori: Aves
  • Dipublikasikan: 24 Okt 2025

Oktober, 24 2025-18.37| Redaksi PARAMIDSN

 

 

Surabaya, paramidsn.com -

Di tengah hijau lembah dan tepian karang Pulau Christmas, sebuah burung laut langka menggelar kisah tentang kelangsungan hidup yang rapuh dan keindahan alam yang tak terduga. Burung tersebut adalah Christmas Island Frigatebird (Fregata andrewsi), satu-dua spesies di dunia yang hanya bersarang dalam jumlah sangat terbatas dan yang sampai sekarang tetap berada dalam bayang-bayang kepunahan. Burung ini memiliki keistimewaan yang sulit dilewatkan yaitu si jantan dewasa dengan pita tenggorokan merah yang bisa membesar hingga menyerupai kantung balon saat musim kawin, paruh melengkung khas, sayap panjang nan anggun yang membentang di atas lautan biru di sekitar Pulau Christmas dan wilayah sekitarnya. Meskipun begitu menarik secara visual, realitas bagi burung ini jauh dari nyaman. Christmas Island Frigatebird hanya berkembang biak di Pulau Christmas dan sebenarnya hanya di beberapa koloni kecil yang hidup di sana dan menjadikannya amat rentan terhadap gangguan kecil sekalipun.

 

Sejak abad ke-20, populasi mereka mengalami penurunan signifikan akibat berbagai tekanan seperti pencemaran debu hasil penambangan fosfat, pengurangan habitat hutan teras di pantai tempat mereka bersarang, predator dan spesies asing yang memasuki habitat mereka hingga penurunan ketersediaan pakan laut akibat perubahan kondisi laut dan penangkapan ikan yang berlebihan. Satu dari sekian tantangan yang paling mencolok adalah penyebaran semut kuning invasif (yellow crazy ant) yang mengacaukan ekosistem pohon tempat frigatebird bersarang, sekaligus predator seperti kucing dan tikus yang masuk ke dalam habitat bersarang. Di laut, meskipun burung ini mampu menjelajah jauh untuk mencari ikan-terbang dan cumi kecil dari permukaan lautan, gangguan terhadap rantai makanan dan aktivitas manusia yang semakin intens membuat mereka mesti terbang makin jauh dan bekerja makin keras untuk bahkan menghidupi satu anak dalam tiap musim.

Kondisi eksklusifnya ini juga menimbulkan satu paradoks yang memiliki satu sisi, burung ini menjadi simbol keunikan dan kebanggaan ekologi Pulau Christmas dan di sisi lain, kesempitan ruang hidupnya membuat setiap gangguan menjadi ancaman besar. Setiap pohon yang hilang, setiap gangguan di laut atau di darat tentunya punya potensi untuk mengurangi satu generasi lagi. Dalam skema konservasi, berbagai upaya telah digarap untuk monitoring populasi dengan pesawat tak berawak dengan program pengendalian predator dan spesies invasif, serta penyusunan rencana pemulihan spesies khusus. Namun para ahli menegaskan bahwa waktu tidak berpihak kepada burung ini “Setiap individu yang kita hilangkan adalah bagian dari seluruh garis keturunan yang tak bisa digantikan,” demikian salah satu peringatan di laporan konservasi. Kisah Christmas Island Frigatebird seakan mengajarkan bahwa keanekaragaman laut dan pesisir yang tampak jauh dari aktivitas manusia tetap berada di ujung tanduk. Pulau kecil yang tampak sunyi itu menyimpan makhluk yang tak banyak diketahui publik, namun punya arti besar bagi alam. Perlindungan terhadap burung ini bukan hanya soal satu spesies,melainkan soal menjaga jaring hidup laut-darat yang rapuh namun saling terhubung.

 

Referensi

https://www.australiangeographic.com.au/nature-wildlife/2014/12/christmas-island-frigatebird-fregata-andrewsi/?utm_source

 

https://www.dcceew.gov.au/environment/biodiversity/threatened/publications/factsheet-christmas-island-frigatebird?utm_source=

 

Penulis : Vivi Yunita 

Editor : Ali Maruf 

Foto By : Chris Surman