Aves

Nyanyian Terakhir Tahiti Monarch dari Hutan yang Kian Sunyi

Nyanyian Terakhir Tahiti Monarch dari Hutan yang Kian Sunyi

  • Kategori: Aves
  • Dipublikasikan: 24 Okt 2025

Oktober, 23 2025-17.22| Redaksi PARAMIDSN

 

 

Surabaya, paramidsn.com -

Di jantung Pulau Tahiti, Polinesia Prancis yang tersembunyi disebuah kisah tragis tentang seekor burung kecil berwarna hitam legam yang kini menjadi simbol perjuangan konservasi di Pasifik Selatan. Burung itu adalah Tahiti Monarch (Pomarea nigra), spesies endemik yang hanya hidup di hutan lembap pegunungan Tahiti dan kini berada di ambang kepunahan. Dengan populasi yang diperkirakan tidak lebih dari 50 individu di alam liar, burung ini menjadi salah satu spesies paling langka di dunia. Tahiti Monarch dikenal dengan bulu hitam mengilap dan paruh biru keabu-abuan yang kontras menjadi ciri khas dari speies ini, sehingga membuatnya tampak elegan di antara rimbunnya pepohonan tropis. Suaranya lembut namun khas, sering dijuluki “lagu terakhir hutan Tahiti” oleh para peneliti karena semakin jarang terdengar di alam. Sayangnya, keindahan ini tidak sebanding dengan nasib yang harus mereka hadapi karena populasi spesies ini telah menyusut lebih dari 80 persen dalam tiga dekade terakhir akibat perusakan habitat dan ancaman predator invasif yang dibawa manusia. Dulu, burung ini dapat dijumpai di berbagai wilayah di Pulau Tahiti, namun kini hanya bertahan di hutan lembap di bagian barat daya pulau terutama di daerah seperti Papehue dan Maruapo. Hutan-hutan di sana semakin terdesak oleh konversi lahan untuk pertanian, pembangunan, dan penyebaran tanaman invasif seperti Miconia calvescens yang mendominasi vegetasi asli. Kondisi ini membuat sumber makanan alami dan tempat bersarang bagi Tahiti Monarch menjadi semakin terbatas dengan ancaman terbesar yang datang dari predator asing yang diperkenalkan ke Tahiti, terutama tikus, kucing liar, dan burung myna (Acridotheres tristis). Tikus memakan telur dan anak burung di sarang, sementara burung myna bersaing dalam perebutan lokasi bersarang. Akibatnya, tingkat keberhasilan reproduksi Tahiti Monarch menjadi sangat rendah, dan dalam banyak kasus hanya sedikit anak yang mampu bertahan hingga dewasa. Para ahli konservasi memperingatkan bahwa tanpa intervensi yang kuat, spesies ini dapat benar-benar punah di alam dalam dua dekade mendatang.

Sejak tahun 1998, berbagai organisasi lokal dan internasional, termasuk Société d’Ornithologie de Polynésie (MANU), bekerja sama untuk menyelamatkan Tahiti Monarch. Upaya mereka mencakup pengendalian populasi predator, penanaman kembali pohon endemik, dan pemasangan kotak sarang buatan untuk meningkatkan keberhasilan penetasan telur. Hasilnya mulai terlihat meski perlahan yang menjadikan populasi burung ini kini menunjukkan sedikit peningkatan setelah sempat mencapai titik kritis dengan hanya 12 individu tersisa pada awal 2000-an. Namun para peneliti menegaskan bahwa stabilitas populasi belum tercapai karena ancaman lingkungan dan gangguan manusia masih terus berlanjut. Tahiti Monarch bukan sekadar burung langka, tetapi simbol ketahanan alam pulau kecil terhadap tekanan global. Ia menggambarkan bagaimana spesies endemik di wilayah terpencil dapat runtuh dengan cepat jika tidak ada langkah nyata untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam konteks yang lebih luas, kisahnya mencerminkan krisis biodiversitas di banyak pulau Pasifik yang menghadapi tantangan serupa akibat perubahan iklim, deforestasi, dan spesies invasif. Harapan kini bertumpu pada program konservasi berkelanjutan yang dikelola oleh para ilmuwan dan masyarakat lokal Tahiti. Mereka percaya bahwa dengan pengawasan ketat, penanaman kembali habitat alami, serta edukasi lingkungan yang berkelanjutan, Tahiti Monarch masih memiliki peluang untuk bertahan. Di antara gemuruh ombak Samudra Pasifik dan hijaunya hutan tropis, kicau lembutnya tetap menjadi pengingat bahwa kehidupan sekecil apa pun layak diperjuangkan.

 

Referensi :

https://en.wikipedia.org/wiki/Tahiti_monarch?utm_source=

 

Penulis : Vivi Yunita 

Editor : Ali Maruf 

Foto By : Wikipedia