Oktober, 23 2025-16.30| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya, paramidsn.com -
Penguin berjambul tegak atau Erect-crested penguin (Eudyptes sclateri) merupakan salah satu spesies penguin paling langka di dunia yang hanya dapat ditemukan di wilayah subantarktik Selandia Baru, tepatnya di Kepulauan Antipodes dan Kepulauan Bounty. Spesies ini dikenal karena jambul kuning mencolok di atas matanya yang berdiri tegak menjadi ciri khas yang membedakannya dari jenis penguin lain. Meskipun memiliki tampilan yang unik dan menawan, populasi penguin ini kini mengalami penurunan yang signifikan dan dikategorikan sebagai hewan “Terancam Punah” oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Menurut laman Wikipedia, penguin berjambul tegak memiliki tinggi sekitar 65 sentimeter dengan berat mencapai enam kilogram. Habitat mereka terbatas di pulau-pulau terpencil yang tidak berpenghuni, membuat penelitian terhadap perilaku dan pola hidupnya menjadi tantangan tersendiri bagi ilmuwan. Uniknya, spesies ini memiliki perilaku reproduksi yang jarang ditemukan pada penguin lain yaitu si betina biasanya bertelur dua kali dalam satu musim, tetapi telur pertama yang berukuran lebih kecil hampir selalu diabaikan dan tidak menetas. Para ahli menduga perilaku ini merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang keras, di mana induk hanya mampu memelihara satu anak dengan peluang hidup lebih besar. Dilansir dari Live Science, fenomena pengabaian telur pertama ini masih menjadi teka-teki evolusi yang menarik membuat ilmuwan menduga bahwa energi induk lebih difokuskan pada telur kedua agar memiliki peluang bertahan lebih tinggi di tengah keterbatasan sumber makanan dan perubahan suhu laut yang ekstrem. Penelitian terbaru juga mengungkap bahwa kedua populasi utama di Kepulauan Antipodes dan Bounty memiliki perbedaan genetik yang cukup besar. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya konservasi tidak bisa dilakukan secara seragam karena masing-masing populasi memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh para peneliti dari Universitas Otago, Selandia Baru.
Selain tantangan biologis, perubahan iklim turut memperburuk kondisi habitat mereka. Meningkatnya suhu laut dan berkurangnya ketersediaan ikan kril sebagai sumber makanan utama penguin yang menyebabkan tingkat keberhasilan berkembang biak semakin menurun. Gangguan lingkungan laut dan badai yang menghantam pulau-pulau kecil tempat mereka bersarang juga turut mempercepat penurunan populasi. Menurut laporan Otago Newsroom, populasi di Antipodes Island telah menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir, sementara populasi di Bounty Island relatif lebih stabil namun tetap berisiko. Kondisi ini menjadikan Erect-crested penguin sebagai simbol penting bagi isu konservasi global. Meskipun hidup di kawasan yang jauh dari aktivitas manusia, ancaman terhadap spesies ini memperlihatkan bagaimana dampak perubahan iklim dan gangguan ekosistem laut dapat menjangkau bahkan wilayah paling terpencil di dunia. Para ahli menekankan pentingnya penelitian lanjutan serta kerja sama internasional untuk melindungi spesies ini sebelum terlambat. Dengan memahami kehidupan penguin berjambul tegak, dunia diingatkan bahwa upaya konservasi laut dan perlindungan habitat ekstrem adalah bagian penting dari menjaga keseimbangan bumi.
Referensi
https://en.wikipedia.org/wiki/Erect-crested_penguin?utm_source=
Penulis : Vivi Yunita
Editor : Ali Maruf
Foto By : Wikipedia