Oktober, 23 2025-17.03| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya, paramidsn.com -
Di antara rimbunnya kanopi hutan hujan Sumatra dan Kalimantan, sering terdengar suara menggelegar yang menandai kehadiran salah satu burung paling megah di Asia Tenggara — Rangkong Badak (Rhinoceros hornbill). Burung besar ini mudah dikenali dari ciri khasnya memiliki paruh kuning terang dengan tonjolan khas menyerupai tanduk badak di atasnya. Ukurannya yang mencapai lebih dari satu meter dengan rentang sayap lebar menjadikannya penguasa langit hutan tropis Indonesia. Dalam banyak kebudayaan masyarakat Dayak, Rangkong Badak dianggap sebagai burung suci dan pembawa pesan dari dunia roh, simbol kehidupan, dan lambang keharmonisan dengan alam.
Rangkong Badak adalah salah satu spesies monogami yang sangat setia pada pasangannya. Hal ini terlihat saat musim berkembang biak, sang betina akan masuk ke dalam lubang pohon besar dan menutup pintunya dengan campuran lumpur serta kotoran yang menyisakan celah kecil untuk menerima makanan dari jantan. Selama berbulan-bulan, pejantan bertanggung jawab secara penuh dengan memberi makan betina dan anaknya. Ketika anak sudah cukup besar, barulah betina keluar dari sarang untuk pertama kalinya. Kebiasaan unik ini membuat Rangkong Badak menjadi simbol kesetiaan dan tanggung jawab dalam kehidupan liar sekaligus contoh nyata betapa rapuhnya keseimbangan ekosistem yang mereka huni.
Sebagai pemakan buah-buahan hutan terutama jenis ara (Ficus), Rangkong Badak berperan penting sebagai penyebar biji alami. Setiap kali mereka terbang dari satu pohon ke pohon lain, mereka membantu regenerasi hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Sayangnya, populasi mereka kini terus menurun akibat perusakan hutan dan perburuan liar karena banyak individu diburu dengan memanfaatkan paruhnya yang keras dan mengkilap, dikenal sebagai “gading rangkong” dan dijual mahal di pasar gelap untuk dijadikan perhiasan dan ukiran.
Upaya konservasi untuk menyelamatkan Rangkong Badak telah dilakukan oleh berbagai lembaga termasuk KLHK, WWF Indonesia, dan Hornbill Research Foundation.
Di beberapa taman nasional seperti Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Taman Nasional Tanjung Puting, program pemantauan populasi dan edukasi masyarakat lokal terus berjalan. Edukasi kepada masyarakat tentang peran penting burung ini dalam menjaga keseimbangan ekosistem menjadi langkah utama agar generasi mendatang tetap dapat menyaksikan keagungan burung ini di alam bebas. Rangkong Badak bukan hanya simbol hutan tropis tetapi juga pengingat bahwa keindahan alam memerlukan perlindungan nyata. Suaranya yang menggema di antara pepohonan seakan menjadi panggilan agar manusia kembali menghargai kehidupan liar yang menjadi bagian penting dari bumi ini. Selama hutan masih berdiri dan langit tropis masih membentang, terbangnya Rangkong Badak akan terus menjadi tanda bahwa alam Indonesia masih bernyawa.
Referensi :
https://en.wikipedia.org/wiki/Rhinoceros_hornbill
Penulis : Vivi Yunita
Editor : Ali Maruf
Foto By : Wikipedia