26/Desember/2025-19.30 | Redaksi PARAMIDSN
Surabaya,Paramidsn.com- Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan sekadar satwa air tawar yang menjadi ikon langka, tetapi juga penanda dan indikator kesehatan Sungai Mahakam yang menjadi nadi kehidupan bagi jutaan orang di Kalimantan Timur. Pesut mahakam adalah mamalia air tawar yang memiliki karakter biologis dan evolusioner unik, bereproduksi sangat lambat, dan kini berstatus sangat terancam punah akibat tekanan aktivitas manusia. Adapun, nama “pesut” sendiri berasal dari bunyi semburan napas yang akrab didengar oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai.
Populasi yang semakin berkurang
Populasi pesut mahakam memiliki sebaran yang sangat terbatas dan saat ini terkonsentrasi di bagian tengah Sungai Mahakam, dengan jumlah individu yang fluktuatif, -hanya 60-80 individu saja, dan cenderung menurun. Ancaman utama pesut berasal dari jeratan jaring insang, trafik kapal, polusi suara, pencemaran kimia dan logam berat, degradasi habitat, serta akumulasi mikroplastik. Upaya perlindungan dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi berzonasi, revisi regulasi perikanan, pemantauan populasi, serta keterlibatan masyarakat seperti penggunaan banana pinger dan restorasi area sempadan sungai.
Telah Hidup lama dengan Manusia.
Mamalia air ini telah hidup berdampingan dengan masyarakat sungai selama ratusan tahun, menjadi bagian dari ingatan kolektif, mitologi, dan pengetahuan lokal. Namun di balik simbolisme tersebut, pesut mahakam kini berada di ambang kepunahan, terdesak oleh perubahan lanskap sungai yang semakin padat aktivitas manusia. Dalam dua dekade terakhir, ruang hidup pesut mahakam menyusut drastis akibat jeratan jaring insang, lalu lintas kapal yang intensif, serta pencemaran dari darat dan perairan. Reproduksi yang sangat lambat dan populasinya yang kecil membuat setiap kematian menjadi ancaman serius bagi kelangsungan spesies ini. Di perairan Sungai Mahakam sendiri, upaya konservasi juga mencakup berbagai spesies akuatik, termasuk pari sungai raksasa dan beragam jenis ikan dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi.
Kelahiran dan persebaran.
Pesut adalah jenis lumba-lumba yang termasuk dalam kelompok mamalia. Sebagai mamalia, pesut melahirkan dan menyusui anaknya, bukan bertelur seperti sebagian besar satwa air lainnya, dengan pengecualian platipus. Proses kelahiran pesut juga unik karena anak yang dilahirkan adalah dengan posisi ekor lebih dahulu, berbeda dengan manusia yang umumnya kepala lebih dulu. Pesut menyusui anaknya, namun letak kelenjar susu induknya berada di bagian bawah tubuh,dekat area anus, berbeda dengan duyung yang posisinya lebih menyerupai manusia. Saat lahir, bayi pesut memiliki rambut halus di bagian moncong, sebuah ciri mamalia yang kemudian akan menghilang seiring pertumbuhan.Persebaran pesut sangat terbatas, dengan populasi air tawar hanya ditemukan di Sungai Mahakam, Mekong, dan Irrawaddy, sementara pesut pesisir tersebar lebih luas di Asia, menjadikan pesut mahakam sangat rentan terhadap gangguan lingkungan.
Upaya perlindungan
Upaya konservasi pesut mahakam secara resmi mulai diperkuat sejak 2022 melalui penetapan kawasan konservasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang saat ini mencakup satu wilayah kabupaten.Kawasan ini dikelola dengan sistem zonasi, terdiri atas zona inti yang sepenuhnya dilindungi, zona pemanfaatan terbatas, serta zona jalur lalu lintas kapal.
Dalam pengaturan ini, kapal besar seharusnya hanya melintas di jalur tengah Sungai Mahakam, meski pada praktiknya masih sering terjadi pelanggaran dengan kapal bergerak terlalu ke tepi sungai, sehingga perlu penegakan dan penataan ulang.Pemantauan populasi dan habitat pesut dilakukan secara berkala dengan metode visual dan akustik, serta pengelolaan zona inti perikanan guna menjaga ketersediaan ikan sebagai sumber pakan utama pesut. Ancaman utama terhadap pesut mahakam berasal dari aktivitas manusia, dengan sekitar 70 persen kematian disebabkan oleh jeratan jaring insang. Ancaman lain meliputi penggunaan alat tangkap tidak lestari seperti setrum, racun, alat monopolistik, serta risko tabrakan dengan kapal.
Penulis: Ali Maruf
Editor : Dilla
Foto By : app Inaturalist | Stephen walgenbhack