17/FEBRUARI/2026 | PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Nycticebus hilleri
Nama English :Sumatran Slow Loris / Hiller's Slow Loris
Nama Lokal : Kukang Sumatra, Malu-malu
Penemu : Stone, 1902
Sinonim : - Nycticebus coucang hilleri Stone & Rehn, 1902
Biogeografi : Endemik di bagian utara Pulau Sumatra, Indonesia.
Ekologi (Habitat) : Hutan hujan tropis dataran rendah hingga hutan pegunungan. Mereka juga sering ditemukan di hutan sekunder, perkebunan
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Primates
Family: Lorisidae
Genus: Nycticebus
Spesies: Nycticebus hilleri
Similar species/ species Fosil :
Similar species/ species Fosil :
- Nycticebus bancanus Lyon, 1906 - Bangka Slow Loris
- Nycticebus bengalensis (de Lacépède, 1800) - Bengal Slow Loris
- Nycticebus borneanus Lyon, 1906 - Bornean Slow Loris
- Nycticebus coucang (Boddaert, 1785) - Greater Slow Loris
- Nycticebus hilleri Stone & Rehn, 1902 - Hiller's Slow Loris
- Nycticebus javanicus É. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812 - Javan Slow Loris
- Nycticebus kayan Munds, Nekaris & S. M. Ford, 2013 - Kayan Slow Loris
- Nycticebus menagensis (Lydekker, 1893) - Philippine Slow Loris
Subspesies :-
Status Konservasi: EN (Terancam)
Morfologi :
Panjang Tubuh : 26 – 30 cm
Berat : 500 – 750 gram (Cenderung lebih kecil dari N. coucang)
Fisiologi : - Kepala : Memiliki pola "topeng" wajah yang khas dengan lingkaran mata cokelat kemerahan. Garis-garis pada wajah cenderung lebih halus dan tidak sejelas kukang Jawa.
Warna : Rambut badan didominasi warna cokelat kemerahan atau cokelat pucat (pale brown). Jalur dorsal (garis punggung) berwarna cokelat gelap, memanjang dari dahi hingga pangkal ekor.
Telinga : Kecil, tertutup sebagian oleh bulu yang halus.
Khas : Memiliki kelenjar brakial yang menghasilkan cairan kimia sebagai pertahanan diri (bisa).
Ekologi (Tingkah Laku) : Nocturnal
Diet (Makanan) : Makanan utama meliputi eksudat pohon (getah/gum), nektar, buah-buahan, serangga, dan terkadang telur burung atau reptil kecil.
Reproduksi : Vivipar
Musim Reproduksi :Sepanjang Tahun
Jumlah anak/Telur :1 Ekor
(Chronialogi) Masa Hidup :
Alam liar :15–20 tahun.
Penangkaran :20–25 tahun.
Notes : Kukang Sumatra sering menjadi korban perdagangan ilegal karena wajahnya yang dianggap "lucu". Seringkali gigi mereka dipotong secara paksa oleh pedagang untuk mencegah gigitan berbisa, yang biasanya menyebabkan infeksi fatal bagi hewan tersebut.Spesies ini sebelumnya dianggap sebagai subspesies dari Nycticebus coucang, namun kini telah divalidasi sebagai spesies penuh berdasarkan perbedaan morfologi dan distribusi geografisnya yang terisolasi di bagian utara Pulau Sumatra. Nycticebus hilleri dipisahkan dari N. coucang karena adanya perbedaan signifikan dalam struktur tengkorak dan pola warna rambut. Pemisahan taksonomi ini sangat penting untuk upaya konservasi yang lebih terfokus di wilayah Sumatra Utara. Seperti kukang lainnya, mereka sering menjadi korban mitos lokal yang menganggap mereka membawa sial atau justru bagian tubuhnya dianggap sebagai obat, yang memicu tingginya angka perburuan.
Sumber Pustaka :
- National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
- Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN 1 & 2.
- DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6 - 47.
- DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Tumbuhan & Hewan jld 2 hlm 194-206.
- BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
- BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
- KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN Jean-Claude Corbel, Ariana Archambault hlm 51-72.
- DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
- Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
- Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8 -93
- Pustaka Alam Life Mamalia & Primata 1979-1987.
- Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 & Mamalia 2 1989.
- Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti Rasya Salsabila).
Referensi :
-https://www.biolib.cz/en/taxon/id32060/
-https://www.inaturalist.org/observations?taxon_id=1369276
-https://www.inaturalist.org/observations/307235803
-Kungkang sumatra https://share.google/Xjo4dGAsRw1sO9QuG
Penulis : Dila
Editor : Aji Jipang
Foto By : Inaturalist| finn_klessmann