17/FEBRUARI/2026 | PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Nycticebus coucang
Nama English :Greater Slow Loris
Nama Lokal : Kukang Besar, Malayan Slow Loris, Muka Buku (Sumatera)
Penemu : Boddaert (1785)
Sinonim :
Tardigradus coucang Boddaert, 1785 o
Nycticebus brachycephalus Sody, 1949
Nycticebus buku Robinson, 1917
Nycticebus malaiana Anderson, 1881
Nycticebus sumatrensis Ludeking, 1867
Nycticebus tardigradus (Raffles, 1821)
Biogeografi : Tersebar di Semenanjung Malaya, Thailand bagian selatan, dan Indonesia (khususnya Pulau Sumatera dan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Kepulauan Riau).
Ekologi (Habitat) : Menghuni hutan hujan tropis primer dan sekunder, hutan bambu, serta terkadang ditemukan di perkebunan (seperti kebun karet atau cokelat). Mereka adalah hewan arboreal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di tajuk pohon.
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primates
Famili: Lorisidae
Genus: Nycticebus
Species : Nycticebus coucang
Similar species/ species Fosil :
- Nycticebus bancanus Lyon, 1906 - Bangka Slow Loris
- Nycticebus bengalensis (de Lacépède, 1800) - Bengal Slow Loris
- Nycticebus borneanus Lyon, 1906 - Bornean Slow Loris
- Nycticebus coucang (Boddaert, 1785) - Greater Slow Loris
- Nycticebus hilleri Stone & Rehn, 1902 - Hiller's Slow Loris
- Nycticebus javanicus É. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812 - Javan Slow Loris
- Nycticebus kayan Munds, Nekaris & S. M. Ford, 2013 - Kayan Slow Loris
- Nycticebus menagensis (Lydekker, 1893) - Philippine Slow Loris
Subspesies :
- Nycticebus coucang coucang (Boddaert, 1785)
- Nycticebus coucang insularis Robinson, 1917
Status Konservasi: EN (Terancam)
Morfologi : Panjang Tubuh : 27 – 38 cm
Berat : 600 – 900 gram (Hingga 1,2 kg pada individu tertentu)
Fisiologi : -
Kepala : Memiliki pola "topeng" wajah cokelat tua. Tanda di atas kepala biasanya terbagi menjadi beberapa cabang menuju telinga dan mata.
Warna : Rambut badan tebal berwarna cokelat kemerahan atau cokelat pucat. Memiliki jalur dorsal (garis punggung) cokelat gelap yang sangat kontras dari pangkal ekor hingga dahi.
Telinga : Berukuran sedang dan terlihat jelas (tidak tertutup rambut setebal kukang Kalimantan).
Mata : Sangat besar, berwarna cokelat kemerahan dengan pantulan cahaya malam yang kuat. Memiliki kelenjar brakial di siku yang menghasilkan sekresi. Jika dijilat dan bercampur air liur, akan menjadi bisa yang cukup kuat untuk menyebabkan syok anafilaktik pada manusia.
Ekologi (Tingkah Laku) : Nocturnal
Diet (Makanan) : Omnivora. Terutama memakan eksudat tanaman (getah pohon), nektar, buah-buahan, serta serangga atau reptil kecil.
Reproduksi : Vivipar
Musim Reproduksi :Sepanjang tahun
Jumlah anak/Telur :1 Anak
(Chronialogi) Masa Hidup :
Alam liar :15–20 tahun.
Penangkaran :25 tahun
Notes :Nycticebus coucang (Kukang Besar atau Kukang Sunda). Spesies ini adalah "wajah" utama dari genus Nycticebus karena merupakan spesies pertama yang dideskripsikan dan memiliki sejarah taksonomi yang panjang sebagai spesies induk (sebelum dipecah menjadi beberapa spesies baru).Nycticebus coucang memiliki keunikan dalam cara berkomunikasi melalui bau (olfaktori). Mereka sering mengolesi urin pada tangan dan kaki untuk menandai jalur di dahan pohon sebagai komunikasi dengan sesama jenis. Di pasar gelap, gigi depan mereka sering dicabut secara paksa oleh pedagang untuk meyakinkan pembeli bahwa mereka "aman" dipelihara, yang biasanya menyebabkan infeksi parah dan kematian pada hewan tersebut. Kukang sering menjadi korban mitos medis dan perdagangan ilegal. Salah satu praktik paling kejam adalah pemotongan gigi taring mereka tanpa pembius oleh pedagang agar tidak menggigit pemiliknya, yang sering kali menyebabkan infeksi fatal pada hewan tersebut.
Sumber Pustaka :
- National Geographic FAUNAPEDIA hlm 28-96.
- Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN 1 & 2.
- DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 6 - 47.
- DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Tumbuhan & Hewan jld 2 hlm 194-206.
- BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 6-22.
- BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 26-44.
- KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN Jean-Claude Corbel, Ariana Archambault hlm 51-72.
- DK e.encylopedia fauna hlm 240-305.
- Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 8 Mamalia.
- Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 8 -93
- Pustaka Alam Life Mamalia & Primata 1979-1987.
- Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Mamalia 1 & Mamalia 2 1989.
- Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Mamalia (Senia Julianti Rasya Salsabila).
Referensi :
-https://www.biolib.cz/en/taxon/id32061/
-https://www.biolib.cz/en/taxon/id32060/
-Kungkang sunda https://share.google/X02NC9TtfQY6xIV5s
-https://www.inaturalist.org/observations/303074795
-https://www.inaturalist.org/observations/303074795
Penulis : Dila
Editor : Aji Jipang
Foto By : Inaturalist| ahdiani_81