04/JANUARI/2026 | PARAMIDSN
Nama Ilmiah : Rhyticeros plicatus jungei
Nama English :apuan Hornbill / Blyth's Hornbill
Nama Lokal :Mandar / Julang Papua
Penemu : Mayr, 1937
Sinonim :Aceros plicatus Forster 1781
Biogeografi :Australasia
Ekologi (Habitat) : Hutan Tropis & Hutan Hujan
Taksonomi & Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Bucerotiformes
Famili: Bucerotidae
Genus: Rhyticeros
Spesies: Rhyticeros plicatus jungei
Similar species/ species Fosil :
-species Rhyticeros cassidix (Temminck, 1823) - Knobbed Hornbill
-species Rhyticeros everetti (Rothschild, 1897) - Sumba Hornbill
-species Rhyticeros narcondami Hume, 1873- Narcondam Hornbill
-species Rhyticeros plicatus (J. R. Forster, 1781) - Blyth's Hornbill
-species Rhyticeros subruficollis (Blyth, 1843)- Plain-pouched Hornbill
-species Rhyticeros undulatus (Shaw, 1811) - Wreathed Hornbill
Subspesies :
-subspecies Rhyticeros plicatus dampieri Mayr, 1934
-subspecies Rhyticeros plicatus harterti Mayr, 1934
-subspecies Rhyticeros plicatus jungei Mayr, 1937
-subspecies Rhyticeros plicatus mendanae Hartert, 1924
-subspecies Rhyticeros plicatus plicatus (J. R. Forster, 1781)
-subspecies Rhyticeros plicatus ruficollis (Vieillot, 1816)"
Status Konservasi: LC (Least Concern/Risiko rendah)
Morfologi :
Panjang:65-85 cm
Berat Badan:1,2-2,0 Kg
Fisiologi :
-Jantan memiliki kepala dan leher berwarna cokelat madu keemasan.
-sedangkan betina memiliki kepala dan leher hitam.
-Paruh pucat dengan balung (casque) yang memiliki lipatan-lipatan (kerutan) seiring bertambahnya usia.
-Suara kepakan sayapnya sangat keras, terdengar seperti suara uap dari lokomotif karena struktur bulu sayap yang memungkinkan udara lewat di sela-selanya. -Memiliki penglihatan binokular yang sangat tajam untuk mendeteksi buah matang.
Ekologi (Tingkah Laku) :Diurnal
Diet (Makanan) : Pemakan Buah
Reproduksi : Ovipar
Musim Reproduksi :Agustus-Desember
Jumlah anak/Telur :1-2 Telur
(Chronialogi) Masa Hidup :
Alam liar :25-30 Tahun
Penangkaran :40-50 Tahun
Notes : Bagi masyarakat di Papua dan Kepulauan Solomon, burung ini memiliki nilai budaya yang tinggi. Paruh dan kepala Julang Papua sering digunakan sebagai mas kawin atau hiasan kepala dalam upacara adat, yang jika tidak dikelola dengan bijak, dapat mengancam populasi lokal di pulau-pulau kecil.
Sumber Pustaka :
- National Geographic FAUNAPEDIA hlm 98-144.
- Ensiklopedia BIOLOGI DUNIA HEWAN 1 & 3.
- DK 4 Ensiklopedia Mengenal Sains Hewan hlm 48-71.
- DK Ensiklopedia Sains & Teknologi Tumbuhan & Hewan jld 2 hlm 188-190.
- BIP The Ultimate Guide Hewan hlm 26-39.
- BIP THE ULTIMATE BOOK HEWAN hlm 46-64.
- KAMUS IPA BERGAMBAR DUNIA HEWAN & TUMBUHAN Jean-Claude Corbel, Ariana Archambault hlm 45-50.
- DK e.encylopedia fauna hlm 192-237.
- Ensiklopedia Sains Spektakuler Vol 4. Burung.
- Abisakha Santoso, Buku Pintar Hewan Untuk Pelajar hlm 94-124.
- Pustaka Alam Life Burung 1979-1987.
- Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna Burung 1989.
- Ensiklopedia Hewan Beraneka Ragam Burung/Aves (Alya Fathiya).
Referensi :
●Julang papua https://share.google/qOURsqkhKQhLuTBBs
●https://www.biolib.cz/en/taxon/id168012/
●https://www.biolib.cz/en/taxon/id23745/
●https://www.inaturalist.org/observations?taxon_id=514337
●https://www.inaturalist.org/observations/328498998
Penulis : Dila
Editor : Ali Maruf
Foto By : Inatularist|tuenf