Nova & Extinct | PARAMIDSN
(Amfibi | 2026 ) Leptobrachium widianai | Tschudi, 1838 | Bali dan Jawa Timur, Indonesia |
Surabaya,Paramidsn.com- Dunia konservasi Indonesia kembali menyambut anggota keluarga baru. Para peneliti baru saja mengidentifikasi spesies katak unik yang menghuni wilayah Buleleng (Bali) dan Kediri (Jawa Timur). Spesies yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari kelompok Leptobrachium hasseltii ini resmi dinyatakan sebagai spesies berbeda setelah melalui analisis genetik dan morfologi yang mendalam.
Katak baru ini diberi nama ilmiah Leptobrachium santosae (merujuk pada nama serapan dari tokoh yang dihormati), atau secara umum diusulkan dengan nama Katak Serasah Widiana.
Meski sekilas mirip dengan kerabatnya di Jawa Barat, Katak Serasah Widiana memiliki ciri khas yang mencolok bagi mata yang jeli:
-Mata yang Unik: Jika matanya terbuka penuh, akan terlihat lengkungan biru muda yang kontras di atas iris matanya yang berwarna cokelat gelap.
-"Gonggongan" Misterius: Tidak seperti katak biasa, suara panggilannya terdiri dari rangkaian gonggongan pendek yang diakhiri dengan pekikan rendah yang khas.
-Pola Tubuh: Bagian punggungnya dihiasi bercak gelap dengan garis melintang yang artistik, sementara bagian perutnya berwarna abu-abu dengan bintik-bintik putih di area dada.
-Kelenjar Femoral Besar: Ia memiliki kelenjar di bagian paha yang sangat besar dan mencolok dengan tepian warna gelap.
Nama Widiana diambil dari nama I Made Widiana Darma Santosa, Direktur Taman Reptil Bali. Pemberian nama ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi beliau selama puluhan tahun dalam menjaga dan meningkatkan kesadaran konservasi amfibi serta reptil di Indonesia, khususnya di tanah Bali.
Secara ilmiah, penemuan ini mengubah peta biogeografi amfibi di Indonesia. Selama ini, katak di wilayah Sunda Kecil dan Jawa Timur dianggap sama dengan spesies yang ada di Sumatera dan Jawa Barat.
Namun, hasil tes DNA (mtDNA) menunjukkan jarak genetik mencapai 3,2% hingga 5,2%, yang menegaskan bahwa mereka adalah spesies yang telah berevolusi secara terpisah. Peneliti juga mencatat perbedaan pada fase berudu, di mana Katak Serasah Widiana memiliki struktur gigi (LTRF) yang lebih kompleks dibandingkan kerabat dekatnya.
Penulis: Dila
Editor: Ali Maruf
Foto by : Tschudi