9/ SEPTEMBER/2026 Nova & Extinct | PARAMIDSN
(Inveberata | 2026 ) Alloscopus ramanai | Areeruk Nilsai, Sopark Jantarit, Tadsanai Jeenthong, Matsapume Detcharoen dan Weeyawat Jaitrong | Museum Rama 9|Thailand tengah |
[Invertebrata • 2026] Alloscopus ramanai • Spesies Collembola Baru (Orchesellidae : Heteromurinae ) dari Thailand tengah , dengan genom mitokondria lengkap dan penempatan filogenetik
Surabaya, Paramidsn.com — Penemuan spesies baru tidak selalu berlangsung di hutan hujan terpencil, gua dalam, atau kawasan pegunungan yang sulit dijangkau. Hal tersebut dibuktikan oleh tim peneliti yang mendeskripsikan Alloscopus ramanai sp. nov., spesies ekor pegas atau Collembola baru dari Thailand bagian tengah.
Spesies ini menarik perhatian karena ditemukan di sekitar Museum Rama 9, bagian dari National Science Museum, Thailand. Penemuannya sekaligus memperluas pengetahuan mengenai distribusi genus Alloscopus, yang sebelumnya di Thailand lebih banyak dikenal dari habitat hutan di wilayah utara dan habitat gua maupun hutan sagu di bagian selatan. Penelitian yang dilakukan oleh Areeruk Nilsai, Sopark Jantarit, Tadsanai Jeenthong, Matsapume Detcharoen, dan Weeyawat Jaitrong menggunakan pendekatan taksonomi integratif, yakni menggabungkan karakter morfologi dengan data molekuler untuk memastikan status spesies tersebut.
Sekilas tentang Alloscopus ramanai
Alloscopus ramanai merupakan anggota kelompok Collembola, arthropoda berukuran sangat kecil yang lebih dikenal sebagai springtail atau ekor pegas. Seperti Collembola lainnya, hewan ini memiliki peran penting dalam ekosistem karena berhubungan erat dengan proses penguraian bahan organik dan dinamika mikroorganisme di dalam tanah maupun serasah. Secara penampilan, A. ramanai memiliki kemiripan kuat dengan Alloscopus tetracanthus, spesies yang memiliki persebaran luas di kawasan Asia hingga Australia. Keduanya memiliki sejumlah karakter morfologi yang sama, termasuk bercak mata merah gelap, bentuk PAO yang sebagian terbagi, pola seta kepala tertentu, struktur papila labral, serta karakter pada tungkai dan abdomen. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kemiripan tersebut tidak berarti keduanya merupakan spesies yang sama.
Ciri yang membedakannya
Salah satu pembeda menarik adalah pigmentasi tubuh. A. ramanai memiliki pigmentasi berupa titik-titik oranye, karakter yang tidak ditemukan pada A. tetracanthus.
Pada bagian kepala dorsal, spesies baru ini juga memiliki lima macrochaeta pada seri “A”, sedangkan A. tetracanthus memiliki empat. Perbedaan lainnya ditemukan pada kombinasi karakter seta atau rambut tubuh, jumlah makroseta pada bagian abdomen tertentu, serta jumlah seta pada sisi anterior ventral tube.Karena karakter pembeda tersebut muncul dalam kombinasi yang konsisten, peneliti menetapkan A. ramanai sebagai spesies tersendiri. Menariknya, informasi diagnosis juga menunjukkan adanya perbedaan pada struktur organ penglihatan dibandingkan kerabat dekatnya. Dengan demikian, identifikasi spesies ini tidak hanya bergantung pada satu ciri, melainkan pada gabungan karakter morfologi.
Hasil dari genom mitokondria
Untuk memperkuat identifikasi, penelitian ini tidak berhenti pada pengamatan morfologi.
Tim berhasil memperoleh genom mitokondria lengkap Alloscopus ramanai dengan panjang 14.757 pasangan basa (bp).
Genom tersebut mencakup:
13 protein-coding genes (PCGs)
22 gen transfer RNA (tRNA)
2 gen ribosomal RNA (rRNA)
Data mitokondria kemudian digunakan dalam analisis filogenetik untuk melihat hubungan evolusioner spesies baru tersebut dengan anggota genus Alloscopus lainnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa A. ramanai membentuk garis keturunan saudara (sister lineage) dengan Alloscopus bannaensis Zhang, 2020, spesies yang sebelumnya diketahui dari China.
Temuan ini memberikan petunjuk bahwa keanekaragaman Alloscopus kemungkinan masih lebih besar daripada yang telah diketahui saat ini.
Species Alloscopus unik dari Thailand
Sebelum penemuan A. ramanai, genus Alloscopus di Thailand telah diwakili oleh sejumlah spesies dengan habitat yang cukup beragam. Di Thailand bagian utara terdapat A. tetracanthus dan A. thailandensis yang berasosiasi dengan habitat hutan.
Sementara itu, wilayah selatan menjadi rumah bagi spesies yang berkaitan dengan habitat gua, seperti A. whitteni, A. namtip, dan A. jantapasoae. Spesies A. sago juga telah dideskripsikan dari habitat hutan pohon sagu. Kehadiran A. ramanai di Thailand tengah menjadi tambahan penting karena memperlihatkan bahwa anggota genus ini tidak hanya ditemukan pada habitat alami yang relatif terpencil.
Penemuan di sekitar museum juga menjadi pengingat bahwa lingkungan yang telah mengalami aktivitas manusia tetap dapat menyimpan keanekaragaman arthropoda yang belum terdokumentasi.
Etimologi & Nilai ekologis
Nama spesifik ramanai diberikan untuk menghormati Museum Rama 9, bagian dari National Science Museum, Thailand.
Spesimen yang menjadi dasar deskripsi spesies ini dikumpulkan di sekitar lingkungan museum tersebut. Karena itu, nama ramanai digunakan sebagai kata benda dalam aposisi untuk mengenang institusi yang menjadi lokasi penemuan. Nama ini sekaligus memberikan identitas geografis dan historis terhadap penemuan spesies tersebut. Walaupun berukuran sangat kecil dan sering luput dari perhatian manusia, Collembola memiliki fungsi ekologis yang cukup penting. Ekor pegas umumnya berhubungan dengan serasah, tanah, bahan organik yang membusuk, jamur, alga, bakteri, dan komunitas mikroorganisme lainnya. Aktivitas mereka membantu memecah material organik menjadi partikel yang lebih kecil sehingga dapat berkontribusi terhadap siklus nutrien dalam ekosistem. Collembola juga merupakan bagian dari jaring-jaring makanan tanah, menjadi sumber makanan bagi berbagai predator mikroarthropoda seperti tungau dan kelompok arthropoda lainnya. Karena sensitif terhadap perubahan kondisi mikrohabitat, komunitas Collembola juga dapat memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan tanah dan serasah.
Dalam konteks A. ramanai, keberadaannya menunjukkan bahwa kawasan sekitar Museum Rama 9 memiliki mikrohabitat yang mampu mendukung organisme tanah berukuran mikroskopis hingga sub-mikroskopis yang belum sepenuhnya terinventarisasi.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Collembola
Order: Entomobryomorpha
Family: Orchesellidae
Subfamily: Heteromurinae
Genus: Alloscopus Börner, 1906
Species: Alloscopus ramanai Nilsai, Jantarit & Jaitrong, 2026
Status: Spesies baru (sp. nov.)
Catatan taksonomi: Alloscopus ditempatkan dalam Orchesellidae, subfamili Heteromurinae. Collembola sendiri secara modern diperlakukan sebagai kelas dalam Arthropoda.
Notes : Alloscopus ramanai mungkin hanya berukuran sangat kecil, tetapi penemuannya memiliki arti besar bagi ilmu keanekaragaman hayati Thailand.
Spesies ini menunjukkan bagaimana taksonomi integratif menggabungkan morfologi, genom mitokondria, dan analisis filogenetik dapat mengungkap spesies yang sebelumnya tersembunyi di balik kemiripan fisik dengan kerabatnya. Penemuan tersebut juga memperkuat pentingnya survei biodiversitas di berbagai tipe lingkungan. Hutan dan gua memang sering menjadi sasaran utama penelitian, tetapi kawasan yang berada di sekitar institusi, permukiman, maupun lingkungan yang telah mengalami modifikasi manusia juga dapat menyimpan spesies yang belum dikenali. Dengan ditemukannya A. ramanai, daftar keanekaragaman Heteromurinae di Thailand kembali bertambah, sekaligus membuka peluang bahwa masih terdapat anggota genus Alloscopus lainnya yang menunggu untuk ditemukan.
Informasi & publikasi
Areeruk Nilsai, Sopark Jantarit, Tadsanai Jeenthong, Matsapume Detcharoen dan Weeyawat Jaitrong. 2026. Alloscopus ramanai sp. nov. (Orchesellidae, Heteromurinae), Spesies Collembola Baru dari Thailand tengah, dengan genom mitokondria lengkap dan penempatan filogenetik. Jurnal Data Keanekaragaman Hayati. 14: e173157. DOI: doi.org/10.3897/BDJ.14.e173157
Penulis :Dila
Editor : Ali Setyaki
Foto By :Areeruk Nilsai, Sopark Jantarit, Tadsanai Jeenthong, Matsapume Detcharoen dan Weeyawat Jaitrong.
Link & DOI: doi.org/10.3897/BDJ.14.e173157