26/AGUSTUS/2026-20.00| Redaksi PARAMIDSN
Invertebrata | 2026) |Plutogeophilus jurupariquibaba | Lucio Bonato dan Rodrigo Lopes Ferreira. |gua-gua Sistem Areias| Brasil
[Chilopoda • 2023] Plutogeophilus jurupariquibaba • Menilai Ciri-Ciri Troglomorfik dan Filogenetik yang Informatif pada Troglobiont: Kelabang Penghuni Gua Baru (Geophilidae) Menerangi Evolusi Garis Keturunan Penghuni Tanah
Surabaya, PARAMIDSN.com – Dunia fauna bawah tanah kembali memperlihatkan keunikannya. Para ilmuwan mengungkap spesies kelabang baru yang hidup di dalam gua-gua Sistem Areias, Brasil. Spesies tersebut diberi nama Plutogeophilus jurupariquibaba dan menjadi salah satu anggota Geophilomorpha yang menarik perhatian karena menunjukkan sejumlah perubahan tubuh yang berkaitan erat dengan kehidupan di lingkungan gua yang gelap. Spesies ini merupakan troglobiont, yaitu organisme yang menjalani sebagian besar atau seluruh siklus hidupnya di lingkungan gua dan memiliki adaptasi khusus terhadap kondisi bawah tanah. Berbeda dengan kelabang yang hidup di permukaan, P. jurupariquibaba memperlihatkan sejumlah karakter yang diduga berkaitan dengan kehidupan dalam kegelapan abadi.
Penghuni Kegelapan Abadi
Kehidupan di dalam gua menghadirkan tantangan yang sangat berbeda dibandingkan habitat permukaan. Cahaya hampir tidak tersedia, sumber makanan cenderung terbatas, dan lingkungan dapat memiliki kondisi mikroklimat yang relatif stabil. Dalam kondisi tersebut, Plutogeophilus jurupariquibaba menunjukkan sejumlah karakter troglomorfik. Para peneliti mengidentifikasi kemungkinan adanya tubuh yang lebih besar, antena yang memanjang, kaki dan cakar yang lebih panjang, serta seta yang memanjang dan pori-pori coxal yang relatif besar. Antena yang panjang kemungkinan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan spesies ini. Dalam lingkungan tanpa cahaya, informasi dari lingkungan tidak dapat mengandalkan penglihatan sehingga struktur sensorik menjadi sangat penting untuk membantu organisme mendeteksi kondisi di sekitarnya. Kaki yang memanjang juga dapat memberikan keuntungan ketika bergerak melewati permukaan gua yang kompleks, sementara perubahan pada struktur sensorik kemungkinan membantu kelabang menemukan mangsa dan merespons lingkungan.
Bukan Sekadar Kelabang Gua
Penemuan Plutogeophilus jurupariquibaba memiliki arti lebih besar daripada sekadar penambahan satu spesies baru dalam daftar fauna Brasil. Para peneliti menggunakan analisis filogenetik dan perbandingan morfologi untuk mengetahui posisi spesies tersebut dalam hubungan evolusioner Geophilomorpha. Hasilnya menunjukkan bahwa Plutogeophilus merupakan garis keturunan saudara dari genus Macronicophilus, kelompok kelabang yang hidup di habitat tanah. Posisi tersebut menjadi menarik karena Macronicophilus memiliki morfologi yang sangat terspesialisasi dan sebelumnya memiliki posisi filogenetik yang sulit dipahami secara jelas. Kehadiran Plutogeophilus memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk membandingkan bentuk tubuh kelabang gua dengan kerabat yang hidup di permukaan. Dari perbandingan tersebut, sejumlah karakter yang ditemukan pada P. jurupariquibaba tampaknya merupakan kombinasi karakter sederhana, karakter turunan, serta karakter yang bersifat peralihan. Dengan kata lain, spesies ini dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana perubahan bentuk tubuh terjadi secara bertahap dalam sejarah evolusi kelompok tersebut.
Jejak Evolusi pada Struktur Mulut dan Kaki
Salah satu aspek yang menarik perhatian adalah struktur bagian mulut dan kaki.
Perbandingan dengan kerabatnya memberikan petunjuk mengenai kemungkinan perubahan bertahap pada labrum, aparatus forcipular, dan kaki terakhir. Forcipula merupakan struktur khas kelabang yang berasal dari pasangan kaki pertama yang telah termodifikasi dan berfungsi untuk menangkap serta melumpuhkan mangsa. Pada garis keturunan yang berkerabat dengan Plutogeophilus, perubahan struktur tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana karakter morfologi yang sangat terspesialisasi muncul melalui tahapan evolusi. Hal serupa terlihat pada bagian ujung maksila kedua. Pada bentuk yang lebih umum, struktur tersebut berkaitan dengan cakar yang runcing. Namun, pada garis keturunan yang berkerabat dengan Plutogeophilus, terdapat bentuk yang lebih unik berupa ujung yang membulat dan memiliki duri. Karakter tersebut menjadi salah satu petunjuk penting untuk memahami hubungan evolusioner antara Plutogeophilus dan Macronicophilus.
Mengapa Disebut Plutogeophilus?
Nama genus Plutogeophilus memiliki unsur yang berasal dari Ploutōn, nama Yunani kuno yang merujuk kepada penguasa dunia bawah dalam mitologi klasik. Pemilihan nama tersebut sangat sesuai dengan habitat spesies ini yang berada jauh di bawah permukaan tanah, di lingkungan gua yang gelap dan relatif terisolasi.
Sementara itu, nama spesifik jurupariquibaba berasal dari bahasa Tupi-Guarani. Istilah tersebut secara harfiah berarti “sisir setan” dan digunakan oleh masyarakat asli Brasil untuk menyebut kelabang. Nama ilmiahnya sekaligus menggabungkan karakter habitat dan hubungan budaya dengan masyarakat asli yang telah lama mengenali hewan tersebut.
Etimologi
Plutogeophilus berasal dari Ploutōn, istilah Yunani kuno yang merujuk kepada penguasa dunia bawah, dikombinasikan dengan nama Geophilus, yang berkaitan dengan kelompok kelabang tanah. jurupariquibaba berasal dari bahasa Tupi-Guarani dan berarti “sisir setan”, istilah tradisional yang digunakan untuk menyebut kelabang di kalangan masyarakat asli Brasil. Nama tersebut memberikan identitas yang tidak hanya bersifat ilmiah, tetapi juga mencerminkan keterkaitan spesies dengan budaya lokal dan habitat bawah tanahnya.
Nilai Ekologis
Sebagai predator kecil di ekosistem gua, Plutogeophilus jurupariquibaba kemungkinan memiliki peran dalam mengendalikan populasi organisme tanah dan arthropoda berukuran kecil yang menjadi mangsanya. Ekosistem gua memiliki jaringan makanan yang relatif sederhana dibandingkan banyak ekosistem permukaan. Karena itu, hilangnya satu predator atau perubahan kecil pada komunitas organisme bawah tanah dapat memberikan dampak terhadap keseimbangan ekologis. Spesies troglobiont seperti P. jurupariquibaba juga memiliki nilai penting sebagai indikator biologis. Keberadaannya dapat mencerminkan kondisi habitat gua yang masih menyediakan lingkungan mikro yang sesuai bagi organisme yang sangat terspesialisasi. Selain itu, keberadaan spesies ini menunjukkan bahwa gua bukan sekadar ruang kosong di bawah permukaan bumi. Sistem gua merupakan ekosistem yang memiliki sejarah evolusi, komunitas organisme unik, dan proses ekologis tersendiri.
Mengapa Dijuluki “Sisir Hantu”?
Plutogeophilus jurupariquibaba juga dapat disebut “sisir hantu”, sebuah julukan yang berkaitan dengan arti nama spesifik jurupariquibaba, yang secara harfiah berarti “sisir setan” dalam bahasa Tupi-Guarani dan merupakan istilah tradisional masyarakat asli Brasil untuk menyebut kelabang. Sebutan “sisir” kemungkinan berkaitan dengan bentuk tubuh kelabang yang memanjang dan dipenuhi banyak pasangan kaki yang tersusun sepanjang tubuh, memberikan kesan menyerupai sisir ketika dilihat dari atas. Sementara itu, istilah “hantu” merupakan penggambaran populer yang lebih halus dari unsur “setan” pada terjemahan nama tradisional tersebut, sekaligus terasa sesuai dengan habitat P. jurupariquibaba yang tersembunyi jauh di dalam gua-gua gelap Sistem Areias. Dengan demikian, “sisir hantu” bukanlah nama ilmiah resmi, melainkan julukan populer yang menggambarkan bentuk tubuh, kesan misterius, serta latar budaya di balik nama spesies tersebut.
Klasifikasi dan Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Myriapoda
Class : Chilopoda
Order : Geophilomorpha
Family : Geophilidae
Genus : Plutogeophilus
Species : Plutogeophilus jurupariquibaba
Notes : Spesies ini diperkenalkan sebagai Plutogeophilus jurupariquibaba gen. n. sp. n., yang menunjukkan bahwa tidak hanya spesiesnya yang baru bagi ilmu pengetahuan, tetapi genus Plutogeophilus juga merupakan genus yang baru didirikan
Penemuan Plutogeophilus jurupariquibaba memperlihatkan bahwa lingkungan gua masih menyimpan banyak rahasia evolusi. Tubuh besar, antena dan kaki yang memanjang, serta berbagai modifikasi morfologi pada spesies ini menunjukkan bagaimana kehidupan dalam kondisi ekstrem dapat mendorong perubahan bentuk tubuh. Lebih menarik lagi, posisinya sebagai kerabat dekat Macronicophilus memungkinkan para ilmuwan menggunakan spesies ini untuk menelusuri kemungkinan tahapan evolusi sejumlah karakter morfologi yang sangat terspesialisasi. Dengan demikian, Plutogeophilus jurupariquibaba bukan hanya kelabang baru dari Brasil. Ia merupakan potongan kecil dari sejarah evolusi yang selama jutaan tahun tersembunyi di dalam kegelapan gua.
Informasi & Publikasi
Lucio Bonato dan Rodrigo Lopes Ferreira. 2023. Menilai Ciri-Ciri Troglomorfik dan Filogenetik yang Informatif pada Troglobion: Kelabang Penghuni Gua Baru Menerangi Evolusi Garis Keturunan Penghuni Tanah (Chilopoda: Geophilidae). Organisms Diversity & Evolution.
Penulis :Dila
Editor : Ali Setyaki
Foto By :Lucio Bonato dan Rodrigo Lopes Ferreira.
Link & DOI: doi.org/10.1007/s13127-023-00618-7