6 / OKTOBER / 2026 | Nova & Extinct PARAMIDSN
(Amphibia | 1968 ) Anaxyrus baxteri | Kenneth R. Porter | Laramie Plains, Wyoming | Amerika Serikat
Herpetologi • 1968] Anaxyrus baxteri • Kodok Wyoming yang Pernah Hilang dari Alam Liar dan Kembali Berkembang Biak
SURABAYA, Paramidsn.com — Tidak semua spesies yang dinyatakan hilang dari alam liar benar-benar berakhir di halaman sejarah. Anaxyrus baxteri, atau Wyoming Toad, pernah mengalami kondisi yang hampir membawa spesies ini menuju kepunahan total. Dahulu, kodok ini tersebar luas di Laramie Plains, Wyoming, Amerika Serikat. Namun, populasinya mengalami penurunan tajam sepanjang dekade 1970-an dan 1980-an. Penyebab utama kehancuran populasinya kemudian diketahui berkaitan erat dengan penyakit jamur mematikan yang disebabkan oleh Batrachochytrium dendrobatidis (Bd), salah satu patogen paling berbahaya bagi amfibi dunia.
Pada 1991, tidak ada lagi Wyoming Toad yang dapat ditemukan di alam liar. Spesies tersebut kemudian dianggap Extinct in the Wild, atau punah di alam liar.
Namun, beberapa individu masih bertahan di fasilitas penangkaran.
Selamat Beberapa Individu Dipelihara
Ketika populasi liar menghilang, sejumlah kecil Wyoming Toad masih dipelihara di Saratoga National Fish Hatchery, Wyoming.
Kelompok kecil tersebut kemudian menjadi dasar bagi seluruh program konservasi beriIndivid.Para ahli biologi mulai mengembangbiakkan kodok-kodok yang tersisa untuk mempertahankan garis keturunan spesies sekaligus menghasilkan individu yang dapat digunakan dalam program pelepasliaran.
Upaya tersebut menjadi sangat penting karena tanpa populasi penangkaran, hilangnya individu terakhir di alam liar pada 1991 berpotensi berubah menjadi kepunahan total spesies.
Namun, menyelamatkan Wyoming Toad ternyata bukan sekadar menghasilkan keturunan baru.
Musuh terbesar masih berada di alam.
Jamur yang Menghancurkan Populasi
Batrachochytrium dendrobatidis, atau Bd, merupakan jamur chytrid yang menyerang kulit amfibi. Bagi amfibi, kulit bukan hanya pelindung tubuh. Kulit memiliki fungsi fisiologis penting, termasuk dalam pengaturan air dan elektrolit.Infeksi Bd dapat menyebabkan penyakit chytridiomycosis, yang pada kasus berat dapat menyebabkan gangguan fisiologis hingga kematian. Karena patogen tersebut tetap terdapat di lingkungan, melepaskan Wyoming Toad hasil penangkaran ke alam menjadi tantangan besar.
Banyak individu yang dilepaskan tidak mampu bertahan hidup dalam jangka panjang.
Program konservasi kemudian harus menghadapi dua persoalan sekaligus: menghasilkan cukup banyak individu dan menemukan cara agar individu tersebut mampu bertahan di habitat yang masih memiliki ancaman penyakit.
Kembali ke Danau Wyoming
Salah satu lokasi penting dalam program konservasi adalah Mortenson Lake National Wildlife Refuge. Wyoming Toad hasil program pembiakan kemudian dilepaskan kembali ke sejumlah lokasi di Wyoming.
Hasilnya tidak selalu berhasil. Namun, beberapa lokasi pelepasliaran akhirnya menunjukkan sesuatu yang sangat penting:
Wyoming Toad kembali berkembang biak di alam liar. Temuan tersebut menjadi tonggak besar dalam sejarah konservasi spesies ini.
Setelah tidak ditemukan sama sekali di alam liar pada 1991, suara panggilan Wyoming Toad kembali terdengar dari habitat tempat program reintroduksi dilakukan.
Dengan kata lain, spesies yang pernah dianggap hilang dari alam liar kembali menghasilkan generasi baru di habitat alaminya.
Belum Benar-Benar Aman
Kembalinya reproduksi di alam liar bukan berarti Wyoming Toad telah keluar dari ancaman kepunahan.
Populasi spesies ini masih sangat bergantung pada dukungan manusia, termasuk program pembiakan dan pelepasliaran.
Jamur chytrid masih menjadi ancaman besar, sementara ukuran populasi liar yang belum stabil membuat spesies ini tetap sangat rentan terhadap perubahan lingkungan dan kejadian penyakit.
Karena itu, keberhasilan reproduksi di beberapa lokasi harus dipandang sebagai langkah pemulihan, bukan sebagai tanda bahwa konservasi telah selesai.
Tujuan akhirnya adalah terbentuknya populasi liar yang cukup besar, stabil, dan mampu mempertahankan dirinya sendiri tanpa ketergantungan terus-menerus terhadap pelepasan dari fasilitas penangkaran.
Dari “Hilang” Menjadi Terdengar Kembali
Salah satu aspek paling menarik dari kisah Wyoming Toad adalah perubahan statusnya dalam rentang beberapa dekade.
Pada 1991, tidak ditemukan lagi individu liar.
Namun, karena sejumlah individu masih dipelihara di fasilitas konservasi, garis keturunan spesies tidak benar-benar terputus. Program pembiakan kemudian memungkinkan manusia menghasilkan generasi baru yang secara bertahap dikembalikan ke habitat Wyoming.
Ketika individu hasil reintroduksi mulai berkembang biak, alam liar kembali menjadi tempat berlangsungnya siklus kehidupan spesies tersebut. Suara panggilan Wyoming Toad di sebuah danau Wyoming menjadi simbol bahwa spesies yang pernah hilang dari alam liar masih memiliki kesempatan untuk kembali.
Etimologi & Nilai Ekologis
Nama genus Anaxyrus berasal dari kombinasi unsur bahasa Yunani yang digunakan dalam pembentukan nama takson untuk kelompok kodok Amerika Utara.
Epitet spesifik baxteri merupakan nama patronimik yang diberikan untuk menghormati George Baxter, seorang tokoh yang berkaitan dengan sejarah eksplorasi dan penelitian wilayah Wyoming.
Nama umum Wyoming Toad secara langsung merujuk pada wilayah geografis tempat spesies ini berasal dan memiliki persebaran alaminya, yaitu Wyoming, Amerika Serikat. Anaxyrus baxteri memiliki nilai ekologis penting sebagai bagian dari komunitas amfibi Laramie Plains. Sebagai pemakan berbagai invertebrata kecil, Wyoming Toad turut berperan dalam mengendalikan populasi serangga dan arthropoda lainnya di lingkungan darat maupun sekitar perairan.
Sebaliknya, Wyoming Toad juga menjadi bagian dari jaringan makanan dan dapat dimangsa oleh berbagai predator.
Keberadaannya memiliki nilai lebih luas sebagai indikator kesehatan ekosistem. Amfibi sangat sensitif terhadap perubahan kualitas habitat, penyakit, pencemaran, perubahan hidrologi, serta perubahan kondisi lingkungan.
Karena itu, pemulihan Wyoming Toad tidak hanya berarti menyelamatkan satu jenis kodok, tetapi juga mempertahankan komponen penting ekosistem Laramie Plains.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Order : Anura
Family : Bufonidae
Genus : Anaxyrus
Species : Anaxyrus baxteri (Porter, 1968)
Notes : Anaxyrus baxteri merupakan salah satu contoh paling terkenal mengenai perbedaan antara kepunahan global dan kepunahan di alam liar.
Pada 1991, tidak ditemukan lagi Wyoming Toad liar sehingga spesies ini dianggap punah di alam liar. Namun, sejumlah kecil individu masih bertahan dalam penangkaran di Saratoga National Fish Hatchery.
Individu-individu tersebut menjadi dasar program pembiakan dan reintroduksi yang kemudian menghasilkan populasi di beberapa lokasi Wyoming.
Keberhasilan reproduksi alami di beberapa lokasi reintroduksi merupakan pencapaian konservasi yang sangat penting karena menunjukkan bahwa spesies ini mampu kembali menyelesaikan siklus hidupnya di alam. Meskipun demikian, Wyoming Toad masih berada dalam kondisi Critically Endangered dan belum memiliki populasi liar yang sepenuhnya mandiri dan aman dari dukungan konservasi. Ancaman utama yang menjadi perhatian adalah penyakit chytridiomycosis yang disebabkan oleh Batrachochytrium dendrobatidis, selain ancaman terhadap kualitas dan ketersediaan habitat. Kisah Wyoming Toad menunjukkan bahwa “punah di alam liar” tidak selalu menjadi akhir, selama masih terdapat individu yang dapat mempertahankan garis keturunan spesies dan program konservasi mampu mengembalikannya ke habitat yang sesuai.
Informasi & Publikasi:
NatureServe Explorer; Amphibian Species of the World – American Museum of Natural History; Integrated Taxonomic Information System (ITIS); U.S. Fish & Wildlife Service – Wyoming Toad Revised Recovery Plan; Odum, R.A. & Corn, P.S. (2005), Bufo baxteri Porter, 1968: Wyoming toad, dalam Amphibian Declines – The Conservation Status of United States Species, hlm. 390–392; Taylor, S.K., Williams, E.S., Thorne, E.T., Mills, K.W., Withers, D.I. & Pier, A.C. (1999), Causes of mortality of the Wyoming toad, Journal of Wildlife Diseases 35: 49–57; Polasik, J.S. et al. (2016), Factors limiting early life stage survival and growth during endangered Wyoming toad reintroductions, The Journal of Wildlife Management 80(3): 540–552, DOI: 10.1002/jwmg.1031.
Publikasi Deskripsi Awal:
Porter, K.R. (1968), Evolutionary status of a relict population of Bufo hemiophrys Cope, Evolution 22: 583–594. Publikasi ini merupakan deskripsi ilmiah awal yang menjadi dasar penamaan takson tersebut.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Adi Mikayasa
Link : DOI:
10.1002/jwmg.1031 — Polasik et al. (2016), The Journal of Wildlife Management.