New Spesies Burung Purba "Chromeornis funkyi" Bertubuh Mungil dengan Gastrolit Tidak Biasa dari Tiongkok

New Spesies  Burung Purba "Chromeornis funkyi" Bertubuh Mungil dengan Gastrolit Tidak Biasa dari Tiongkok

New Spesies Burung Purba "Chromeornis funkyi" Bertubuh Mungil dengan Gastrolit Tidak Biasa dari Tiongkok

Status: Active
18 Okt 2026
Dsn Mamalia
3 Views

18/Oktober/2026 | Nova & Extinct PARAMIDSN


 

(Paleo | 2025 ) Chromeornis funkyi | Jingmai O’Connor, Xiaoli Wang, Alexander Clark, Pei-Chen Kuo, Ryan Davila, Yan Wang, Xiaoting Zheng dan Zhonghe Zhou | Formasi Jiufotang, Liaoning, | Tiongkok 


 

PaleoOrnitologi • 2025] Chromeornis funkyi • Spesies baru longipterygid bertubuh kecil (Aves: Enantiornithes) dari Formasi Jiufotang Aptian yang menyimpan gastrolit yang tidak biasa


 

SURABAYA, Paramidsn.com — Dunia paleontologi kembali mengungkap keunikan evolusi burung purba melalui penemuan Chromeornis funkyi, spesies baru burung Enantiornithes bertubuh kecil yang hidup pada Zaman Kapur Awal, sekitar kala Aptian, kurang lebih 120 juta tahun lalu. Fosilnya ditemukan di Formasi Jiufotang, Provinsi Liaoning, Tiongkok, kawasan yang terkenal karena kekayaan fosil Biota Jehol.

Spesies ini diperkirakan memiliki massa tubuh hanya sekitar 33,5 gram. Meskipun berukuran mungil, Chromeornis funkyi menyimpan informasi penting mengenai anatomi burung purba, karakteristik bulu, kemungkinan kemampuan terbang, dan keberadaan kumpulan batu kecil yang dikenal sebagai gastrolit.

Penelitian yang mendeskripsikan spesies ini diterbitkan pada 2025 dalam jurnal ilmiah Palaeontologia Electronica. Penelitian tersebut memperkenalkan Chromeornis funkyi sebagai genus dan spesies baru berdasarkan kombinasi karakter anatomi yang membedakannya dari kerabat dekat dalam famili Longipterygidae.


 

 Kehidupan Burung Purba dari Kapur Awal

Formasi Jiufotang merupakan salah satu formasi geologi penting dalam penelitian Biota Jehol di Tiongkok. Fosil-fosil dari kawasan ini memberikan gambaran mengenai kehidupan vertebrata pada Kapur Awal, termasuk burung purba, dinosaurus berbulu, dan berbagai organisme lain yang hidup di lingkungan purba Asia Timur.

Chromeornis funkyi termasuk dalam Enantiornithes, kelompok burung purba yang berkembang dan mengalami diversifikasi selama Zaman Kapur. Kelompok ini mempunyai sejumlah karakter anatomi yang berbeda dari burung modern, terutama pada struktur gelang bahu dan bagian kerangkanya. Enantiornithes bukanlah kelompok yang memiliki bentuk tubuh seragam. Anggotanya menunjukkan variasi ukuran, bentuk paruh, struktur sayap, serta kemungkinan strategi memperoleh makanan. Keberadaan Chromeornis funkyi memperlihatkan bahwa kelompok tersebut juga mencakup burung berukuran sangat kecil. Spesies ini ditempatkan dalam famili Longipterygidae, kelompok burung purba yang dikenal melalui moncong memanjang dan susunan gigi yang terkonsentrasi di bagian distal atau ujung paruh. Berdasarkan analisis kekerabatan, Chromeornis termasuk subfamili Longipteryginae dan memiliki hubungan evolusioner yang lebih dekat dengan genus Longipteryx dibandingkan dengan longipterygid lainnya dalam analisis tersebut.


 

Fosil yang Mempertahankan Jejak Bulu dan Jaringan Lunak

Salah satu aspek penting dari penemuan Chromeornis funkyi adalah pelestarian fosil yang tidak hanya memperlihatkan struktur tulang, tetapi juga jejak jaringan lunak. Spesimen yang dideskripsikan mempertahankan jejak bagian mata, kulit, dan bulu sehingga memberikan informasi tambahan mengenai anatomi luar burung purba tersebut. Spesimen utama penelitian memiliki kode STM7-156. Meskipun beberapa bagian tubuh tidak terawetkan secara sempurna, susunan tulang yang tersisa memperlihatkan kombinasi karakter yang memungkinkan para peneliti membedakannya dari kerabat dekatnya.

Perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies ini memiliki rostrum yang memanjang, sekitar 60 persen panjang tengkorak atau lebih, serta gigi yang terbatas pada bagian distal rahang. Tulang dentary atau bagian utama rahang bawahnya relatif lurus. Pada bagian dada, sternum atau tulang dada memperlihatkan trabekula lateral yang sedikit melebar dengan perluasan distal berbentuk kipas asimetris. Sementara itu, tulang tangan lebih pendek daripada humerus atau tulang lengan atas. Jari alularnya juga pendek dan memiliki cakar kecil. Bagian ekornya memiliki pigostil yang kokoh dan lebih panjang daripada tarsometatarsus, yaitu tulang gabungan pada bagian bawah kaki burung. Tulang pahanya atau femur relatif lurus. Kombinasi ciri tersebut menjadi bagian dari diagnosis ilmiah yang mendukung pengenalan Chromeornis funkyi sebagai spesies baru.


 

Misteri Kumpulan Gastrolit Dekat Tulang Leher

Keunikan lain dari fosil Chromeornis funkyi adalah keberadaan kumpulan gastrolit yang terawetkan di dekat tepi lateral kiri vertebra servikal atau tulang leher. Gastrolit merupakan benda keras, biasanya berupa batu kecil, yang tertelan oleh hewan. Pada sejumlah burung, batu-batu tersebut dapat terkumpul di ampela dan membantu menghancurkan makanan secara mekanis.

Namun, keberadaan kumpulan batu pada fosil Chromeornis tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai bukti adanya ampela penggiling. Para peneliti membandingkan temuan ini menggunakan tomografi terkomputasi atau CT dengan struktur penggiling lambung yang terawetkan pada burung purba lain, termasuk Archaeorhynchus dan Iteravis. Hasil perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kumpulan batu pada Chromeornis kemungkinan besar bukan batu penggiling lambung seperti yang ditemukan pada sejumlah burung lainnya. Posisi dan karakter temuannya memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana batu-batu tersebut berada di dekat tulang leher.

Salah satu kemungkinan yang dibahas adalah bahwa kumpulan batu itu berkaitan dengan batu yang tertelan dan berada di saluran pencernaan bagian atas. Akan tetapi, penyebab pasti dan proses yang mengakibatkan batu-batu tersebut terawetkan di posisi itu belum dapat dipastikan hanya berdasarkan fosil.

Temuan tersebut menjadi penting karena memberikan petunjuk bahwa strategi pencernaan burung purba tidak selalu sama. Perbedaan anatomi, kebutuhan energi, dan kemampuan bergerak mungkin turut memengaruhi manfaat yang diperoleh dari menelan batu. Para peneliti juga mengajukan hipotesis bahwa pengumpulan batu dalam jumlah besar dapat menambah massa tubuh dan berpotensi menyulitkan aktivitas terbang. Pada sebagian Enantiornithes awal, lepas landas dari permukaan tanah untuk mencari batu mungkin memerlukan biaya energi yang relatif tinggi. Namun, gagasan tersebut merupakan penjelasan evolusioner yang masih memerlukan pengujian lebih lanjut.


 

Etimologi  Chromeornis funkyi

Nama genus Chromeornis terinspirasi oleh grup musik elektronik funk Chromeo dan dipadukan dengan kata Yunani ornis, yang berarti burung. Sementara itu, nama spesifik funkyi diberikan untuk menghormati P-Thugg dan Dave 1, anggota grup musik Chromeo yang juga dikenal sebagai Funklordz. Penamaan ini merupakan penghormatan kepada musisi yang menghasilkan musik dengan karakter khas, sebagaimana dijelaskan oleh para peneliti dalam publikasi ilmiahnya. Nama Chromeornis funkyi diucapkan kira-kira “kroh-mee-OR-niss funk-ee”. Pemberian nama tersebut memperlihatkan bahwa etimologi spesies fosil tidak selalu berasal dari ciri morfologi atau lokasi penemuan, tetapi terkadang juga mencerminkan penghormatan terhadap tokoh, budaya, atau karya seni.


 

Nilai Ekologis dan  Evolusioner

Keanekaragaman Burung Kapur Awal

Chromeornis funkyi menambah pengetahuan mengenai keragaman burung purba pada Kapur Awal. Ukurannya yang sangat kecil memperlihatkan bahwa Enantiornithes terdiri atas berbagai bentuk tubuh, mulai dari anggota yang mungil hingga kelompok dengan ukuran lebih besar. Keragaman tersebut menjadi petunjuk bahwa burung purba telah menempati beragam relung ekologis.

Rekonstruksi Jaring-Jaring Makanan

Bentuk paruh yang memanjang dan keberadaan gigi pada bagian distal memberikan informasi mengenai karakter anatomi yang mungkin berkaitan dengan cara memperoleh makanan. Namun, jenis makanan spesifik Chromeornis funkyi belum dapat dipastikan berdasarkan bentuk paruh saja. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah spesies ini lebih banyak memanfaatkan serangga, hewan kecil, atau sumber makanan lainnya.

Evolusi Pencernaan dan Kemampuan Terbang

Kumpulan gastrolit yang tidak biasa pada fosilnya membuka peluang untuk memahami hubungan antara sistem pencernaan dan pergerakan burung purba. Penelitian ini mengemukakan bahwa manfaat pengumpulan batu mungkin tidak selalu sebanding dengan biaya energi dan tambahan massa tubuh yang ditimbulkannya, khususnya pada burung dengan kemampuan terbang yang terbatas.

Rekaman Anatomi dan Jaringan Lunak

Pelestarian jejak bulu, kulit, dan bagian mata memperkaya informasi mengenai anatomi luar burung purba. Data tersebut membantu para ilmuwan memahami karakter tubuh yang tidak selalu dapat direkonstruksi hanya melalui tulang.


 

Klasifikasi dan Taksonomi 

Chromeornis funkyi

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Clade: Vertebrata

Clade: Gnathostomata

Clade: Tetrapoda

Clade: Amniota

Clade: Sauropsida

Clade: Archosauria

Clade: Dinosauria

Clade: Theropoda

Clade: Avialae

Class: Aves — Linnaeus, 1758

Clade: Ornithothoraces — Chiappe, 1995

Clade: Enantiornithes — Walker, 1981

Family: Longipterygidae — Zhang et al., 2000

Subfamily: Longipteryginae

Genus: Chromeornis

Species: Chromeornis funkyi O’Connor et al., 2025

Notes : Sebagai spesies yang telah punah, Chromeornis funkyi tidak memiliki kategori status konservasi IUCN modern seperti spesies yang masih hidup. Nilai pentingnya terletak pada kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami evolusi burung, variasi anatomi, serta hubungan antara organisme dan lingkungannya pada masa lampau. Pelestarian situs fosil seperti Formasi Jiufotang sangat penting agar rekaman sejarah kehidupan tersebut tetap dapat diteliti oleh generasi berikutnya.


 

Kesimpulan

Chromeornis funkyi merupakan salah satu penemuan yang memperkaya pemahaman tentang evolusi burung purba pada Kapur Awal. Tubuhnya yang diperkirakan hanya memiliki massa 33,5 gram, karakter anatomi yang khas, serta kumpulan gastrolit yang tidak biasa menjadikannya penting dalam penelitian mengenai keanekaragaman Enantiornithes.

Fosil ini juga menunjukkan bahwa penelitian paleontologi tidak hanya berfokus pada penemuan tulang dan penentuan nama spesies. Melalui analisis anatomi, perbandingan fosil, dan rekonstruksi evolusi, para ilmuwan dapat mengembangkan hipotesis mengenai bagaimana hewan purba bergerak, memperoleh makanan, dan beradaptasi dengan lingkungannya.

Meskipun sebagian perilaku dan fungsi biologis Chromeornis funkyi masih menjadi misteri, keberadaannya memberikan satu lagi potongan penting dalam rekonstruksi sejarah evolusi burung di Bumi.



 

Informasi & Publikasi

Jingmai O’Connor, Xiaoli Wang, Alexander Clark, Pei-Chen Kuo, Ryan Davila, Yan Wang, Xiaoting Zheng, and Zhonghe Zhou. 2025. A new small-bodied longipterygid (Aves: Enantiornithes) from the Aptian Jiufotang Formation preserving unusual gastroliths. Palaeontologia Electronica. 28(3):a56. DOI: doi.org/10.26879/1589 

palaeo-electronica.org/content/2025/5712-longipterygid-enantiornithine-chromeornis

https://palaeo-electronica.org/content/current-in-press-articles/5713-longipterygid-enantiornithine-chromeornis



 

Penulis: Ali Setyaki

Editor: Agung Monche

Foto by : Artwork: Sunny Dror

Link & DOI: doi.org/10.26879/1589 

palaeo-electronica.org/content/2025/5712-longipterygid-enantiornithine-chromeornis

https://palaeo-electronica.org/content/current-in-press-articles/5713-longipterygid-enantiornithine-chromeornis






 

Informasi

Spesies ini merupakan bagian dari database keanekaragaman hayati kami. Bantu kami melestarikan mereka dengan menyebarkan informasi ini.