6 / OKTOBER / 2026 | Nova & Extinct PARAMIDSN
(Paleo | 2025 ) Byeoljubuchelys yeosuensis | Nama penemu | Di temukan di Lokasi | Negara
Paleontologi • 2025] Byeoljubuchelys yeosuensis • Seekor Kura-kura Carettochelyidae (Trionychia: Carettochelyidae) Baru dari Awal Periode Cretaceous dari Korea Selatan memberikan wawasan tentang Evolusi Kura-kura Bercangkang Lunak dan Ekologi Perairan
PARAMIDSN — Spesies Baru & Punah
Sebuah fosil kura-kura dari Kapur Awal yang ditemukan di Pulau Soneuk, Yeosu, Korea Selatan, memperkenalkan genus dan spesies baru yang memberikan gambaran penting mengenai tahap awal evolusi kelompok kura-kura bercangkang lunak. Spesies tersebut diberi nama Byeoljubuchelys yeosuensis gen. et sp. nov., berdasarkan material fosil yang ditemukan dalam Formasi Hasandong dan berasal dari sekitar batas Aptian–Albian. Penemuan ini dideskripsikan oleh Minguk Kim dan rekan-rekannya pada 2025 dalam Journal of Paleontology Swiss.
Fosilnya memiliki karapas yang hampir lengkap, disertai beberapa elemen sabuk dan tungkai. Kelengkapan material tersebut memungkinkan peneliti tidak hanya mengenali karakter anatominya, tetapi juga merekonstruksi sebagian pola evolusi dan adaptasi akuatik Carettochelyidae pada masa awal sejarah kelompok tersebut.
Kura-kura Carettochelyidae dari Kapur Awal
Secara filogenetik, Byeoljubuchelys yeosuensis ditempatkan sebagai anggota paling basal dalam Carettochelyidae. Posisi ini membuatnya penting untuk memahami bagaimana karakter-karakter khas carettochelyid berkembang dari bentuk yang lebih awal menuju anggota yang lebih modern. Spesies ini memiliki beberapa karakter yang mendukung penempatannya dalam Carettochelyidae, antara lain 10 pasang tulang perifer, satu suprapygal berbentuk segitiga, pygal yang menebal dengan alur anterior, kinesis pada plastron, entoplastron berbentuk segitiga, serta tidak adanya sisik plastral. Namun, kombinasi karakter pada B. yeosuensis membedakannya dari carettochelyid lainnya.
Karakter tersebut meliputi neural dan pygal yang tidak memiliki lunas garis tengah, deretan neural yang lebar dan kontinu, pembalikan orientasi neural kedua, ornamen vermikulasi pada tulang perifer, tidak adanya sulkus sisik karapas yang jelas, tidak adanya proses nuchal berpasangan, plastron berbentuk salib yang relatif lebar, vertebra serviks yang panjang, serta humerus dengan batang sigmoid.
Dari Cangkang Bersisik Menuju Cangkang Lunak
Salah satu aspek paling menarik dari Byeoljubuchelys yeosuensis adalah kondisi permukaan cangkangnya.
Cangkangnya tidak menunjukkan alur sisik yang jelas, tetapi masih terdapat jejak yang menyerupai pola sisik juvenil yang ditemukan pada Carettochelys insculpta, satu-satunya carettochelyid modern yang masih hidup.
Temuan ini memberikan petunjuk bahwa hilangnya sisik pada garis evolusi trionychian kemungkinan tidak terjadi secara tiba-tiba. Proses tersebut mungkin berkaitan dengan perubahan dan penebalan epidermis yang secara bertahap mengurangi atau menghilangkan struktur sisik eksternal.
Dengan demikian, B. yeosuensis dapat membantu mengisi sebagian celah dalam pemahaman mengenai transisi menuju bentuk kura-kura bercangkang lunak.
Plastron dan Perubahan Evolusi
Plastron Byeoljubuchelys yeosuensis berukuran relatif sedang dan berbentuk salib. Menurut penelitian, kondisi tersebut kemungkinan merupakan karakter plesiomorfik, atau karakter leluhur, bagi Carettochelyidae. Menariknya, plastron pada carettochelyid kemudian mengalami perluasan selama evolusinya, terutama pada kelompok yang hidup pada Paleogen. Perubahan tersebut diduga dapat berhubungan dengan peningkatan ukuran tubuh maupun tekanan ekologis seperti meningkatnya ancaman predator mamalia.
Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan bentuk cangkang tidak hanya berkaitan dengan perlindungan tubuh, tetapi juga dapat mencerminkan perubahan ekologis dan tekanan seleksi yang dialami suatu kelompok sepanjang sejarah evolusinya.
Cara Berenang Berbeda
Bagian tubuh lain yang memberikan informasi penting adalah humerus.
Byeoljubuchelys yeosuensis memiliki humerus yang dianggap plesiomorfik, dengan proses lateral yang terletak pada bagian proksimal dan batang yang berbentuk sigmoid tanpa torsi seperti yang terlihat pada beberapa carettochelyid yang lebih berkembang. Karakter tersebut mengindikasikan bahwa hewan ini kemungkinan menggunakan pola gerakan mendayung di bawah air, bukan gerakan mengepak yang lebih menyerupai gaya berenang pada beberapa carettochelyid yang lebih muda secara evolusioner.
Dengan kata lain, bentuk tulangnya menyimpan petunjuk mengenai bagaimana kura-kura ini bergerak di lingkungan perairan sekitar lebih dari 100 juta tahun lalu.
Adaptasi Ekosistem Air Tawar
Penemuan Byeoljubuchelys yeosuensis juga berkaitan dengan perubahan lingkungan pada pertengahan Kapur. Akuisisi cangkang lunak diketahui terjadi secara berulang pada dua klad Trionychia. Para peneliti mengusulkan bahwa perubahan tersebut mungkin berhubungan dengan pergeseran menuju kondisi iklim yang lebih lembap pada periode tersebut. Lingkungan yang semakin lembap kemungkinan menyediakan jaringan ekosistem air tawar yang lebih luas. Dalam konteks tersebut, perubahan bentuk tubuh dan cangkang dapat menjadi bagian dari adaptasi terhadap kehidupan akuatik.
B. yeosuensis karena itu bukan sekadar spesies baru dalam catatan fosil, tetapi juga menjadi petunjuk mengenai hubungan antara evolusi bentuk tubuh, perubahan iklim, dan ekspansi ekosistem air tawar pada Kapur.
Etimologi Nilai Ekologis & Paleoekologis
Nama genus Byeoljubuchelys merupakan gabungan dari “Byeoljubu”, karakter kura-kura dalam Sugungga, salah satu kisah epik dalam seni bercerita musikal tradisional Korea Pansori, dengan kata Yunani Kuno “chelys” yang berarti kura-kura.
Nama spesifik yeosuensis merujuk pada Yeosu, kota di Korea Selatan tempat fosil spesies ini ditemukan.Byeoljubuchelys yeosuensis memiliki nilai penting dalam rekonstruksi ekosistem perairan Kapur Awal Korea. Karakter humerus dan cangkangnya menunjukkan bahwa spesies ini telah mengalami adaptasi terhadap kehidupan akuatik, tetapi masih mempertahankan sejumlah karakter leluhur Carettochelyidae.
Dari sudut pandang evolusi, posisinya sebagai carettochelyid paling basal memberikan informasi mengenai tahap awal perubahan menuju bentuk tubuh dan cangkang yang lebih terspesialisasi.
Fosil ini juga menunjukkan bahwa evolusi cangkang lunak kemungkinan merupakan proses kompleks yang berkaitan dengan perubahan anatomi, lingkungan perairan, iklim yang semakin lembap, serta tekanan ekologis selama sejarah awal Trionychia.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Reptilia
Order: Testudines Batsch, 1788
Clade: Cryptodira Cope, 1868
Clade: Trionychia Hummel, 1929
Family: Carettochelyidae Gill, 1889
Genus: Byeoljubuchelys Kim, Jung, Joyce, Park, Jung, Jo & Huh, 2025
Species: Byeoljubuchelys yeosuensis Kim, Jung, Joyce, Park, Jung, Jo & Huh, 2025
Lokasi Tipe: Pulau Soneuk, Yeosu, Republik Korea.
Horizon Tipe: Dekat batas Aptian–Albian, Kapur Awal.
Formasi: Hasandong Formation.
Notes : Byeoljubuchelys yeosuensis hidup lebih dari 100 juta tahun lalu, jauh sebelum kemunculan sebagian besar kelompok kura-kura modern. Meskipun merupakan kerabat awal Carettochelyidae, fosilnya telah memperlihatkan sejumlah karakter yang berkaitan dengan adaptasi akuatik dan memberikan gambaran mengenai bagaimana kelompok kura-kura bercangkang lunak berevolusi.
Penemuan ini juga menarik karena berasal dari Korea Selatan, memperluas pemahaman mengenai sejarah evolusi Carettochelyidae di Asia Timur pada Kapur Awal.
Informasi & Publikasi
Minguk Kim, Jongyun Jung, Walter G. Joyce, Jae-Il Park, Hye-Yeon Jung, Hyemin Jo dan Min Huh. 2025. Seekor Kura-kura Carettochelyid Baru dari Awal Cretaceous dari Korea Selatan Memberikan Wawasan tentang Evolusi Kura-kura Bercangkang Lunak dan Ekologi Perairan. Jurnal Paleontologi Swiss. 144, 75. DOI: doi.org/10.1186/s13358-025-00415-z [08 Desember 2025]
Penulis: Ali Setyaki
Editor: Agung Monche
Foto by : Minguk Kim, Jongyun Jung, Walter G. Joyce, Jae-Il Park, Hye-Yeon Jung, Hyemin Jo dan Min Huh.
Link : DOI: doi.org/10.1186/s13358-025-00415-z [08 Desember 2025]