Kormoran Terbesar "Urile perspicillatus" yang Hilang dari Kepulauan Komander

Kormoran Terbesar "Urile perspicillatus" yang Hilang dari Kepulauan Komander

Kormoran Terbesar "Urile perspicillatus" yang Hilang dari Kepulauan Komander

Status: Active
21 Agt 2026
Dsn Mamalia
47 Views

21/AGUSTUS/2026 | Redaksi PARAMIDSN



 

Aves | 1741 ) Urile perspicillatus | Georg Wilhelm Steller | Bering Island, Kepulauan Komander | Rusia


 

PUNAH : 1850


 

Surabaya, Paramidsn.com — Di antara burung laut yang pernah menghuni kawasan Pasifik Utara, terdapat satu spesies kormoran yang memiliki ukuran luar biasa besar. Burung tersebut adalah Urile perspicillatus, yang dikenal dengan nama spectacled cormorant atau kormoran berkacamata. Spesies ini kini telah punah dan dikenang sebagai kormoran terbesar yang pernah diketahui hidup. Bobot tubuhnya diperkirakan dapat mencapai lebih dari 6 kilogram, hampir tiga kali berat beberapa spesies kormoran yang masih bertahan hingga sekarang. Namun, ukuran tubuhnya yang besar bukan satu-satunya keunikan. Urile perspicillatus memiliki lingkaran pucat di sekitar mata yang memberikan kesan seperti mengenakan kacamata, jambul ganda di kepala, serta sayap yang sangat kecil dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Kombinasi tersebut membuatnya memiliki kemampuan terbang yang sangat terbatas dan pada dasarnya dianggap tidak mampu terbang secara efektif.


 

Satu-Satunya Pengamatan Saat Masih Hidup

Kisah ilmiah Urile perspicillatus memiliki hubungan erat dengan naturalis Jerman Georg Wilhelm Steller. Pada tahun 1741, Steller berada dalam ekspedisi Vitus Bering ketika kapal ekspedisi mengalami kecelakaan dan karam. Steller bersama para penyintas kemudian terdampar di Bering Island, salah satu Kepulauan Komander di Pasifik Utara. Selama berada di pulau tersebut, Steller melakukan pengamatan terhadap berbagai satwa lokal. Salah satunya adalah kormoran berukuran raksasa yang kemudian dideskripsikan sebagai Urile perspicillatus. Catatan Steller menjadi sangat penting karena merupakan satu-satunya laporan ilmiah tangan pertama mengenai individu spesies ini ketika masih hidup.

Ia mencatat bahwa burung tersebut tidak menunjukkan ketakutan yang berarti terhadap manusia. Bahkan, individu yang ditemuinya dapat didekati dengan mudah dan ditangkap menggunakan tangan. Bagi manusia modern, perilaku tersebut mungkin tampak aneh. Namun bagi spesies pulau yang berevolusi dalam lingkungan dengan tekanan predator yang berbeda, kurangnya kewaspadaan terhadap manusia dapat menjadi kelemahan yang sangat fatal ketika manusia akhirnya datang dalam jumlah besar.


 

Tubuh Raksasa, Sayap yang Terlalu Kecil untuk Terbang

Urile perspicillatus memiliki tubuh yang sangat besar dibandingkan dengan kormoran modern. Bobot lebih dari enam kilogram membuatnya menjadi salah satu burung laut terbesar dalam kelompoknya. Akan tetapi, ukuran tubuh tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan terbang.

Sayapnya relatif kecil terhadap tubuh sehingga spesies ini diyakini telah kehilangan kemampuan terbang secara fungsional. Kondisi tersebut kemungkinan merupakan hasil evolusi di lingkungan pulau. Ketika penerbangan tidak lagi menjadi kebutuhan utama untuk melarikan diri dari predator atau berpindah tempat dalam jarak jauh, energi yang biasanya digunakan untuk mempertahankan kemampuan terbang dapat dialihkan untuk pertumbuhan tubuh dan aktivitas lainnya. Fenomena serupa juga muncul pada sejumlah burung pulau lain yang berevolusi menuju kondisi tidak dapat terbang. Namun, keuntungan tersebut memiliki konsekuensi besar. Burung yang tidak dapat terbang akan memiliki kemampuan sangat terbatas untuk melarikan diri dari manusia maupun predator baru yang masuk ke habitatnya.


 

Dari Penemuan Menuju Kepunahan

Ketika para penyintas ekspedisi Bering akhirnya kembali ke Rusia, cerita mengenai kekayaan fauna Kepulauan Komander turut tersebar. Informasi tersebut kemudian menarik perhatian para pemburu dan pedagang bulu. Kepulauan Komander menjadi lokasi aktivitas manusia yang semakin intensif. Urile perspicillatus yang berukuran besar, mudah ditangkap, dan tidak takut terhadap manusia akhirnya menjadi sasaran perburuan. Steller sendiri telah mencatat bahwa satu ekor burung berukuran besar dapat menyediakan makanan bagi beberapa orang. Bagi kelompok manusia yang hidup atau bekerja di pulau tersebut, karakteristik itu menjadikan spesies ini sumber daging yang sangat mudah diperoleh. Perburuan berlangsung selama akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Masalahnya, Urile perspicillatus tidak memiliki kemampuan untuk menghindari manusia secara efektif. Burung yang dapat didekati dan ditangkap dengan tangan tentu memiliki peluang sangat kecil untuk bertahan ketika menghadapi perburuan secara terus-menerus.


 

109 Tahun dari Penemuan hingga Hilang

Steller mendokumentasikan spesies ini pada 1741. Lebih dari satu abad kemudian, individu-individu terakhir yang telah dikonfirmasi dilaporkan pada awal dekade 1850-an. Dengan demikian, hanya sekitar 109 tahun yang memisahkan pengamatan ilmiah pertama terhadap spesies ini dengan lenyapnya dari alam. Kisah tersebut menjadi salah satu contoh mencolok tentang betapa cepat aktivitas manusia dapat menghancurkan populasi satwa pulau yang memiliki persebaran sangat terbatas.

Urile perspicillatus hanya diketahui berasal dari kawasan Bering Island di Kepulauan Komander, Rusia, sehingga seluruh populasinya pada dasarnya bergantung pada wilayah geografis yang sangat kecil.

Ketika tekanan perburuan meningkat, spesies tersebut tidak memiliki wilayah lain yang cukup luas untuk menjadi tempat perlindungan.


 

Enam Spesimen yang Tersisa

Meskipun spesiesnya telah menghilang, sebagian kecil peninggalan fisiknya masih tersimpan dalam koleksi ilmiah. Saat ini diketahui terdapat enam spesimen preparat Urile perspicillatus yang tersimpan di lima institusi. Spesimen-spesimen tersebut menjadi bukti fisik penting mengenai keberadaan burung raksasa yang pernah menghuni Kepulauan Komander. Ironisnya, tidak satu pun dari spesimen tersebut diketahui sedang dipamerkan kepada publik. Dengan demikian, sebagian besar pengetahuan mengenai penampilan dan perilaku burung ini berasal dari kombinasi spesimen museum dan catatan Steller.


 

Etimologi & Nilai Ekologis

Nama genus Urile merupakan nama taksonomi yang digunakan untuk kelompok kormoran dalam famili Phalacrocoracidae.

Epitet spesifik perspicillatus berasal dari bahasa Latin perspicillatus, yang berkaitan dengan sesuatu yang memiliki kacamata atau tampilan seperti berkacamata.

Nama tersebut merujuk pada ciri khas berupa lingkaran atau area pucat di sekitar mata, yang membuat wajah burung ini terlihat seolah-olah mengenakan kacamata.

Nama umum spectacled cormorant juga berasal dari karakteristik visual tersebut.

Meskipun telah punah, Urile perspicillatus tetap memiliki nilai ekologis dan ilmiah yang penting. Sebagai burung laut berukuran besar, spesies ini kemungkinan memainkan peran sebagai predator tingkat menengah hingga tinggi dalam ekosistem pesisir, terutama melalui aktivitas mencari ikan dan organisme laut lainnya. Kehadirannya juga dapat membantu menghubungkan ekosistem laut dengan ekosistem daratan. Burung laut mengambil nutrien dari laut melalui makanan, kemudian mengembalikannya ke daratan melalui kotoran, sisa makanan, telur, dan bangkai.

Selain itu, kisah kepunahannya memiliki nilai ekologis yang jauh lebih luas. Urile perspicillatus menunjukkan bagaimana spesies endemik pulau dapat menjadi sangat rentan ketika memiliki kombinasi persebaran geografis sempit, tubuh besar, reproduksi yang relatif lambat, kemampuan terbang buruk, dan perilaku yang tidak mengenali manusia sebagai ancaman. Kepunahan spesies ini menjadi pengingat bahwa keberadaan populasi yang melimpah di sebuah pulau tidak selalu berarti suatu spesies aman dari kepunahan.


 

Pelajaran dari Kormoran yang Hilang

Urile perspicillatus memiliki kisah yang hampir paradoksal. Spesies ini ditemukan oleh seorang naturalis, didokumentasikan dengan sangat baik, dan bahkan memiliki sejumlah spesimen museum yang masih bertahan hingga kini. Namun, hanya sekitar satu abad setelah pertama kali dicatat secara ilmiah, burung tersebut telah menghilang dari dunia. Ia memiliki tubuh raksasa, tetapi tidak memiliki kemampuan terbang yang memadai untuk melarikan diri. Ia hidup di pulau dengan sumber daya melimpah, tetapi memiliki persebaran yang sangat terbatas. Ia tidak takut kepada manusia, tetapi justru sifat tersebut menjadi salah satu faktor yang membuatnya mudah diburu. Urile perspicillatus pada akhirnya menjadi simbol bagaimana satwa pulau yang berevolusi tanpa tekanan manusia dapat menjadi sangat rentan ketika berhadapan dengan manusia untuk pertama kalinya.

Dari seekor burung yang dahulu dapat ditangkap dengan tangan, kini yang tersisa hanyalah catatan Steller dan beberapa spesimen yang tersimpan di institusi ilmiah.


 

Klasifikasi dan Taksonomi

Kingdom : Animalia
 

Phylum : Chordata
 

Class : Aves
 

Order : Suliformes
 

Family : Phalacrocoracidae
 

Genus : Urile
 

Species : Urile perspicillatus

Nama ilmiah : Urile perspicillatus
 

Nama umum : Spectacled cormorant
 

Nama Indonesia : Kormoran berkacamata
Status : Punah (Extinct)

Notes : Dalam literatur taksonomi, spesies ini juga pernah ditempatkan dalam genus Phalacrocorax dan dikenal sebagai Phalacrocorax perspicillatus. Penggunaan genus Urile mencerminkan pengaturan taksonomi yang lebih baru untuk kelompok kormoran tertentu.Satu pengamat ilmiah, 109 tahun, dan sebuah spesies yang tidak pernah mendapatkan kesempatan kedua untuk menghindari manusia.



 

Penulis : Ali Setyaki

Editor : Agung Monche

Link : https://www.naturalis.nl/

Photo by : Naturalis Biodiversity Center (CC BY-SA 3.0)

Informasi

Spesies ini merupakan bagian dari database keanekaragaman hayati kami. Bantu kami melestarikan mereka dengan menyebarkan informasi ini.