Ilmuwan Temukan 3 Spesies Ikan Baru dari Genus Psalidodon di Sungai São Francisco

Ilmuwan Temukan 3 Spesies Ikan Baru dari Genus Psalidodon  di Sungai São Francisco

Ilmuwan Temukan 3 Spesies Ikan Baru dari Genus Psalidodon di Sungai São Francisco

Status: Active
09 Sep 2026
Dsn Mamalia
69 Views

09/SEPTEMBER/2026-20.00| Nova & Extinc  PARAMIDSN


 

(Pisces | 2025 ) Psalidodon terezinhae , P. velhochico & P. ​​paiva | Igor Henrique Rodrigues-Oliveira, Priscila Martins de Assis, Luiz Guilherme Pereira Pimente, Rafael Augusto Silva Soares, Iuri Batista da Silva, Renan Rodrigues Rocha, Fabiano Bezerra Menegidio, Rubens Pasa dan Karine Frehner Kavalco | Sungai piaba do córrego | Brazil



 

[Iktiologi • 2025] Psalidodon terezinhae , P. velhochico & P. ​​paiva • Mengungkap Teka-Teki Berusia 150 Tahun: Psalidodon rivularis (Characiformes: Acestrorhamphidae : Acestrorhampinae ) , Kompleks Spesies atau Spesies Polimorfik



 

Surabaya, Paramidsn.com – Selama sekitar 150 tahun, ikan kecil penghuni sungai yang dikenal masyarakat Brasil sebagai “piaba do córrego” dianggap sebagai satu spesies, Psalidodon rivularis. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap bahwa nama tersebut menyembunyikan keragaman yang jauh lebih besar. Melalui pendekatan integratif yang menggabungkan morfometri, karakter meristik, kariotipe atau jumlah kromosom, serta data genomik berbasis next-generation sequencing atau NGS, para peneliti menemukan bahwa Psalidodon rivularis sensu lato sebenarnya merupakan kompleks sedikitnya lima spesies berbeda.

Dari lima garis keturunan tersebut, satu merupakan Psalidodon rivularis sejati, satu lainnya ditetapkan sebagai Psalidodon santae dengan kombinasi baru (comb. nov.), sedangkan tiga lainnya merupakan spesies baru bagi ilmu pengetahuan, yakni Psalidodon terezinhae, Psalidodon velhochico, dan Psalidodon paiva. Penelitian yang dilakukan Igor Henrique Rodrigues-Oliveira dan rekan-rekannya menganalisis 419 spesimen yang sebelumnya diidentifikasi sebagai P. rivularis, kemudian menambahkan data genomik dari 25 individu. Hasilnya memperlihatkan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan hanya sebagai variasi dalam satu spesies.

Salah satu petunjuk terkuat datang dari kromosom. P. rivularis sejati memiliki 2n = 46 kromosom, sedangkan sebagian besar garis keturunan lain dalam kompleks tersebut memiliki 2n = 50 kromosom. Perbedaan tersebut kemudian diperkuat oleh karakter bentuk tubuh, jumlah sisik, distribusi geografis, serta analisis DNA mitokondria dan nuklir. Dengan demikian, ikan yang selama ini terlihat sebagai satu spesies ternyata menyimpan sejarah evolusi yang jauh lebih kompleks.


 

3 Nama Baru dari Satu Kompleks Spesies

Psalidodon terezinhae sp. nov.

Spesies pertama adalah Psalidodon terezinhae, yang ditemukan di dua lokasi, yakni aliran Lage pada drainase Sungai Abaeté dan Sungai Funchal pada drainase Sungai Indaiá, keduanya berada di bagian barat hulu Cekungan Sungai São Francisco, Minas Gerais, Brasil.

Spesies ini memiliki panjang standar sekitar 38–59 mm pada spesimen yang dianalisis. Secara sitogenetik, P. terezinhae memiliki 2n = 50 kromosom. Ia juga dapat hidup simpatrik dengan P. rivularis sejati di lokasi yang sama. Peneliti membedakannya dari P. rivularis antara lain melalui jumlah sisik pada garis lateral, proporsi tubuh, karakter kepala, serta perbedaan jumlah kromosom.

Nama terezinhae diberikan untuk menghormati Terezinha Aparecida Rodrigues (1947–2015), nenek mendiang dari penulis pertama penelitian, Igor Henrique Rodrigues-Oliveira. Nama tersebut sekaligus menjadi penghormatan personal yang diabadikan dalam nomenklatur zoologi.

Psalidodon velhochico sp. nov.

Spesies kedua memiliki nama yang sangat erat dengan identitas geografis Brasil, yaitu Psalidodon velhochico. Spesies ini diketahui dari beberapa anak sungai di kawasan hulu Sungai São Francisco yang berada di Serra da Canastra National Park, termasuk kawasan Air Terjun Rasga Canga dan Casca d’Anta. Berbeda dengan beberapa anggota kompleks lainnya, P. velhochico sejauh penelitian tersebut merupakan satu-satunya OTU yang tidak menunjukkan simpatri dengan anggota lain dari kompleks P. rivularis. Habitatnya juga menarik karena berada pada lingkungan dataran tinggi. Spesies ini ditemukan pada kawasan hulu di Serra da Canastra pada ketinggian lebih dari 1.100 meter. Distribusinya yang terbatas membuatnya memiliki nilai penting dalam memahami endemisitas ikan air tawar di kawasan pegunungan Brasil. P. velhochico mempunyai 2n = 50 kromosom, dengan susunan kariotipe yang berbeda dari P. rivularis sejati. Beberapa individunya bahkan memiliki kromosom supernumerer berukuran besar yang disebut kromosom B.


 

Mengapa disebut “Velho Chico”?

Nama velhochico berasal dari “Velho Chico”, julukan penuh kasih masyarakat Brasil untuk Sungai São Francisco. Karena spesies ini ditemukan di anak-anak sungai pada wilayah hulu Sungai São Francisco, nama tersebut menjadi pengingat kuat bahwa identitas sebuah sungai tidak hanya melekat pada masyarakat manusia, tetapi juga pada organisme endemik yang bergantung pada sistem perairannya.

Psalidodon paiva sp. nov. Spesies ketiga adalah Psalidodon paiva, yang ditemukan di beberapa anak sungai pada bagian barat Cekungan Sungai São Francisco, termasuk drainase Abaeté, Borrachudo, dan Paracatu. Spesies ini ditemukan di empat lokasi. Di tiga lokasi, yaitu Bonito Stream, Tiros Stream, dan Crico Stream, P. paiva hidup simpatrik dengan P. rivularis sejati. Sementara di laguna bendungan Abaeté, spesies ini ditemukan bersama Astyanax lacustris.

Panjang standar spesimen yang dianalisis berkisar antara sekitar 31,5 hingga 77 mm. Secara kromosom, P. paiva termasuk garis keturunan dengan 2n = 50 kromosom, berbeda dari P. rivularis sejati yang memiliki 46 kromosom. Secara morfologi, P. paiva memiliki tubuh relatif lebih ramping dibandingkan P. terezinhae. Spesies ini juga memiliki karakter khas pada pola kromatofor di bagian anterior tubuh dan jumlah sisik pada deret lateral. Nama yang menyimpan sejarah Brasil

Yang membuat Psalidodon paiva sangat menarik bukan hanya karakter biologinya, tetapi juga alasan di balik namanya.

Epitet paiva diberikan untuk menghormati keluarga Paiva, terutama keluarga yang kehidupannya berkaitan erat dengan kisah Rubens Paiva pada masa kediktatoran militer Brasil. Kisah keluarga tersebut kemudian dikenal luas melalui film Brasil Ainda Estou Aqui (I'm Still Here, 2024), yang mengangkat pengalaman keluarga Paiva setelah penahanan, penghilangan, dan pembunuhan Rubens Paiva. Dengan demikian, nama Psalidodon paiva menjadi semacam memorial ilmiah, karena sebuah spesies baru membawa nama keluarga yang memiliki tempat penting dalam sejarah sosial Brasil.


 

Metode penemuan pada species baru

Penelitian ini memperlihatkan mengapa identifikasi spesies hanya berdasarkan penampilan luar terkadang tidak cukup.

Keempat garis keturunan yang dibandingkan dalam kompleks tersebut dapat terlihat sangat mirip. Namun, ketika peneliti menggabungkan morfometri, meristik, kromosom dan data genomik, pola pemisahan spesies menjadi lebih jelas.

Menariknya, penelitian juga menemukan indikasi bahwa sejarah evolusi kelompok ini kemungkinan dipengaruhi oleh perubahan jumlah kromosom, isolasi geografis, kemungkinan hibridisasi, serta divergensi morfologis. Proses geologi seperti perubahan sistem drainase dan penangkapan hulu sungai juga diduga berperan dalam membentuk persebaran beberapa garis keturunan.

Temuan tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa penggunaan DNA barcoding berbasis satu gen mitokondria saja tidak selalu cukup untuk memisahkan spesies kriptik. Dalam kompleks P. rivularis, hubungan antara garis keturunan mitokondria dan nuklir menunjukkan adanya ketidaksesuaian atau mito-nuclear discordance.


 

Etimologi & Nilai Ekologis

Psalidodon terezinhae — nama spesifik terezinhae diberikan untuk menghormati Terezinha Aparecida Rodrigues (1947–2015), nenek dari penulis pertama penelitian.

Psalidodon velhochico  berasal dari “Velho Chico”, nama panggilan populer dan penuh kasih masyarakat Brasil untuk Sungai São Francisco, tempat spesies tersebut ditemukan.Psalidodon paiva  diberikan untuk menghormati keluarga Paiva dan kisah sejarah keluarga tersebut, khususnya kehidupan Rubens Paiva dan keluarganya pada masa kediktatoran militer Brasil. Ketiga ikan baru ini memiliki nilai ekologis yang sangat penting sebagai bagian dari keanekaragaman hayati air tawar Cekungan São Francisco. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sungai kecil, anak sungai, dan wilayah hulu yang sering dianggap kurang penting ternyata dapat menjadi tempat hidup spesies yang memiliki distribusi sangat terbatas. Bahkan, beberapa anggota kompleks P. rivularis dapat hidup berdampingan dengan P. rivularis sejati dalam sistem sungai yang sama.

Keberadaan P. terezinhae yang hanya diketahui dari dua lokasi dan P. velhochico yang terbatas pada anak-anak sungai hulu Serra da Canastra menunjukkan bahwa perubahan kualitas habitat lokal dapat berdampak besar terhadap spesies yang distribusinya sempit. Nilai ekologis kelompok ini juga semakin penting karena Cekungan São Francisco merupakan sistem air tawar dengan keanekaragaman ikan yang tinggi. Penelitian tersebut secara khusus menekankan pentingnya perlindungan anak-anak sungai kecil, karena lingkungan tersebut ternyata dapat menyimpan keanekaragaman dan kasus simpatri yang tidak terlihat apabila penelitian hanya berfokus pada sungai utama. Dengan kata lain, penemuan tiga spesies baru ini bukan hanya menambah daftar ikan Brasil. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa satu nama spesies dapat menyembunyikan beberapa unit evolusioner yang berbeda, dan setiap unit tersebut mungkin memiliki kebutuhan konservasi sendiri.



 

Klasifikasi & Taksonomi

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Ordo: Characiformes

Family: Acestrorhamphidae 

Subfamily: Acestrorhampinae

Genus: Psalidodon 

Spesies baru: Psalidodon terezinhae 

Spesies baru: Psalidodon velhochico 

Spesies baru: Psalidodon paiva Rodrigues-Oliveira, de Assis, Pimentel, Soares, Batista da Silva, Rocha, Menegidio, Pasa & Kavalco, 2025

Genus Psalidodon sendiri merupakan kelompok ikan Characiformes yang sebelumnya banyak diwakili oleh spesies yang ditempatkan dalam Astyanax. Dalam penelitian tersebut, Psalidodon santae juga ditegaskan sebagai kombinasi baru, sedangkan Astyanax turmalinensis diperlakukan sebagai sinonim juniornya.

Notes :  Sebelum penelitian ini dilakukan, Psalidodon rivularis dipandang sebagai ikan yang memiliki persebaran relatif luas di Cekungan São Francisco. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam, persebaran tersebut ternyata merupakan gabungan beberapa spesies yang berbeda.

Artinya, jika suatu kawasan mengalami kerusakan habitat, kita tidak lagi hanya kehilangan “Psalidodon rivularis”, tetapi berpotensi kehilangan spesies endemik tertentu yang bahkan baru saja diketahui keberadaannya. Temuan ini menjadi contoh nyata bagaimana taksonomi modern, sitogenetika dan genomik dapat mengubah pemahaman kita terhadap keanekaragaman hayati. Bagi konservasi, pesan yang disampaikan penelitian ini cukup jelas: jangan abaikan sungai-sungai kecil. Di balik aliran air yang tampak sederhana, bisa terdapat spesies yang selama lebih dari satu abad tersembunyi di balik nama yang sama.


 

Informasi & Publikasi

Igor Henrique Rodrigues-Oliveira, Priscila Martins de Assis, Luiz Guilherme Pereira Pimente, Rafael Augusto Silva Soares, Iuri Batista da Silva, Renan Rodrigues Rocha, Fabiano Bezerra Menegidio, Rubens Pasa dan Karine Frehner Kavalco. 2025. Mengungkap Enigma Berusia 150 Tahun:  Psalidodon rivularis (Acestrorhamphidae: Acestrorhampinae), Kompleks Spesies atau Spesies Polimorfik.  Biologi.  14(12), 1793. DOI:  doi.org/10.3390/biology14121793  [16 Desember 2025]


 

Penulis : Dila

Editor : Ali Maruf

Foto By : Igor Henrique Rodrigues-Oliveira, Priscila Martins de Assis, Luiz Guilherme Pereira Pimente, Rafael Augusto Silva Soares, Iuri Batista da Silva, Renan Rodrigues Rocha, Fabiano Bezerra Menegidio, Rubens Pasa dan Karine Frehner Kavalco

Link & DOI:  doi.org/10.3390/biology14121793  [16 Desember 2025]

Informasi

Spesies ini merupakan bagian dari database keanekaragaman hayati kami. Bantu kami melestarikan mereka dengan menyebarkan informasi ini.