Fossil Baru Species Sapi Laut Kuno "Salwasiren qatarensis" Perkiraan hidup Miosen Awal dari Qatar

Fossil Baru Species Sapi Laut Kuno "Salwasiren qatarensis" Perkiraan hidup Miosen Awal dari Qatar

Fossil Baru Species Sapi Laut Kuno "Salwasiren qatarensis" Perkiraan hidup Miosen Awal dari Qatar

Status: Active
08 Okt 2026
Dsn Mamalia
14 Views

08/OKTOBER/2026 | Nova & Extinct PARAMIDSN


 

(Paleo | 2025 ) Salwasiren qatarensis  | Nicholas D. Pyenson​, Ferhan Sakal, Jacques LeBlanc, Jon Blundell, Katherine D. Klim, Christopher D. Marshall, Jorge Velez-Juarbe, Katherine Wolfe and Faisal Al-Naimi | Al Maszhabiya bonebed, Southern Reserve, Al Rayyan Municipality, barat daya | Qatar 


 

Paleomamologi • 2025] Salwasiren qatarensis • Kelimpahan Tinggi Sapi Laut Miosen Awal (Sirenia: Dugongidae) dari Qatar menunjukkan Evolusi berulang dari Insinyur Ekosistem Lamun di Tethys Timur



 

Surabaya | PARAMIDSN —  Sekitar 21–23 juta tahun lalu, wilayah yang kini menjadi Qatar merupakan bagian dari lingkungan laut dangkal yang jauh berbeda dari lanskap gurun modern. Di dasar laut tersebut hidup sapi laut purba dari kelompok Dugongidae yang kemudian meninggalkan salah satu konsentrasi fosil sirenian paling luar biasa yang pernah ditemukan di kawasan Teluk.

Spesies tersebut kini dikenal sebagai Salwasiren qatarensis, sapi laut purba dari Miosen Awal yang secara ilmiah dideskripsikan pada 2025. Penemuan ini berasal dari Al Maszhabiya bonebed, Qatar barat daya, pada lapisan Lower Al-Kharrara Member dari Dam Formation yang berumur Aquitanian, sekitar 23,03–21,6 juta tahun lalu. Yang membuat penemuan ini istimewa bukan hanya statusnya sebagai spesies baru, tetapi juga kelimpahan fosilnya. Para peneliti mendokumentasikan lebih dari 172 lokasi fosil dalam area kurang dari 1 km², dengan lebih dari 300 fragmen atau elemen tulang yang mewakili sedikitnya enam individu. Kepadatan tersebut menunjukkan bahwa sapi laut merupakan bagian penting dari komunitas laut purba di kawasan tersebut.


 

Penemuan Spesies

Al Maszhabiya sebenarnya telah diketahui oleh ahli geologi sejak 1970-an, tetapi pada awalnya belum diketahui bahwa kumpulan tulang tersebut merupakan fosil sapi laut. Identitasnya mulai dipahami pada awal 2000-an. Penelitian yang lebih terarah kemudian berkembang setelah Christopher Marshall mengetahui keberadaan situs tersebut dan mendorong Nicholas Pyenson untuk menyelidikinya lebih lanjut. Eksplorasi ilmiah akhirnya mendapatkan izin pada 2023 setelah menghadapi berbagai kendala penelitian sebelumnya, termasuk pandemi COVID-19. Dari lapisan batuan yang sama, peneliti menemukan konsentrasi fosil yang sangat tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Salwasiren bukan sekadar hewan yang sesekali hadir di kawasan tersebut, tetapi kemungkinan merupakan komponen penting komunitas laut dangkal di wilayah itu.


 

Ciri Morfologi Sp. Nov

Salwasiren qatarensis diketahui melalui sejumlah elemen rangka, termasuk tengkorak, premaxilla, tulang jugal, bagian braincase, gigi seri, gigi molar atas M2, mandibula, vertebra lumbar, sakral dan kaudal, ilium serta humerus.

Secara anatomi, genus Salwasiren memiliki kombinasi karakter yang membedakannya dari sirenian lain. Bagian nasal process pada premaxilla berbentuk panjang, tipis dan meruncing ke bagian posterior. Supraorbital process pada tulang frontal relatif tebal secara dorsoventral, sementara atap frontalnya relatif datar. Spesies ini juga memiliki nasal incisure yang dalam dan sempit, bagian supraoccipital yang lebih lebar di sisi ventral, serta karakter khusus pada jugal dan orbit. Mandibulanya memiliki simfisis yang lebar dan berbentuk subpersegi panjang. Gigi seri pertama atau I1 memiliki alveolus yang relatif kecil, sedangkan gigi I1 yang diketahui mempunyai penampang suboval dengan enamel pada seluruh permukaannya. Kombinasi karakter tersebut menjadi bagian penting dalam membedakan Salwasiren dari dugongid lainnya. Dalam rekonstruksi berdasarkan material fosilnya, hewan ini diperkirakan memiliki bentuk tubuh yang menyerupai kerabat dugong modern, tetapi dengan moncong yang lebih lurus dan taring yang lebih kecil.


 

Habitat dan Makanan Sp. Nov

Sebagai anggota Dugonginae, Salwasiren qatarensis diperkirakan merupakan mamalia laut herbivor yang berasosiasi dengan lingkungan pesisir dangkal.

Kelimpahan fosilnya dan kondisi lingkungan geologis Al Maszhabiya memberikan petunjuk bahwa kawasan tersebut kemungkinan memiliki ekosistem produktif, termasuk habitat yang mendukung keberadaan tumbuhan laut seperti lamun.

Lamun sangat penting bagi ekosistem pesisir karena menyediakan habitat dan sumber makanan bagi berbagai organisme. Dugong modern diketahui memakan lamun secara langsung dan melalui aktivitas makannya dapat mengaduk sedimen serta memindahkan nutrien. Karena itu, dugong dan kerabatnya dapat berperan sebagai ecosystem engineer, yaitu hewan yang secara fisik memengaruhi struktur habitatnya. Penelitian terhadap Salwasiren memberikan indikasi bahwa hubungan antara sapi laut dan ekosistem lamun kemungkinan telah berlangsung selama jutaan tahun.


 

Mengapa Fosilnya Sangat Banyak?

Salah satu aspek paling menarik dari situs Al Maszhabiya adalah sifatnya yang monodominan, yaitu sebagian besar material sapi laut tampaknya berasal dari satu kelompok taksonomi utama.

Lebih dari 172 lokasi fosil ditemukan dalam wilayah kurang dari satu kilometer persegi. Pola tersebut menyerupai beberapa karakteristik kumpulan fosil modern yang terbentuk dari hewan yang hidup dan kemudian mati di lingkungan yang sama.

Kepadatan fosil ini memberikan gambaran bahwa wilayah tersebut mungkin merupakan habitat penting bagi Salwasiren pada Miosen Awal.


 

Ekosistem Laut Purba Qatar

Penemuan Salwasiren qatarensis tidak berdiri sendiri. Lapisan fosil Al Maszhabiya juga menyimpan bukti keberadaan berbagai hewan laut purba lainnya, termasuk hiu yang telah punah, ikan mirip barracuda, lumba-lumba purba dan penyu laut.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kawasan Qatar pada masa itu merupakan bagian dari lingkungan laut yang kaya secara biologis.

Menariknya, lokasi fosil ini berada tidak jauh dari kawasan Teluk yang pada masa modern masih menjadi habitat dugong. Dengan demikian, terdapat kesinambungan geografis yang menarik: kawasan Teluk telah berulang kali menjadi habitat bagi komunitas sapi laut sepanjang sejarah geologinya, meskipun takson yang menghuni kawasan tersebut berubah dari waktu ke waktu.


 

Evolusi Berulang Sapi Laut di Teluk

Salah satu kesimpulan penting penelitian ini adalah bahwa komunitas sapi laut di wilayah Teluk tidak selalu terdiri dari garis keturunan yang sama. Salwasiren qatarensis ternyata tidak berkerabat dekat dengan beberapa dugongid Miosen Awal sezamannya dari India dan kawasan Tethys Timur, serta hanya berkerabat jauh dengan dugong modern (Dugong dugon). Artinya, ekosistem yang sesuai bagi sapi laut dapat bertahan atau muncul kembali selama jutaan tahun, sementara spesies yang menghuninya mengalami pergantian evolusioner.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Teluk telah berulang kali menghasilkan komunitas sapi laut yang berbeda selama sekitar 20 juta tahun terakhir. Peneliti juga menghubungkan keberadaan Salwasiren dengan fase ketika Arabia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati laut pada Miosen Awal, sebelum pusat keanekaragaman dugong kemudian lebih bergeser ke kawasan Indo-Australia.


 

Lokasi Penemuan

Fosil Salwasiren qatarensis ditemukan di Al Maszhabiya bonebed, sebuah kawasan fosil di barat daya Negara Qatar, yang secara administratif berada di Al Rayyan Municipality. Situs ini terletak di dalam Southern Reserve, kawasan lindung yang berada di sebelah timur dan selatan Salwa Road serta di sebelah utara perbatasan Qatar–Arab Saudi. Kawasan Al Maszhabiya juga berdekatan dengan Al Eraiq Reserve. 

Lokasi penemuan: Al Maszhabiya bonebed, Southern Reserve, Al Rayyan Municipality, barat daya Qatar, dekat Al Eraiq Reserve dan utara perbatasan Qatar–Arab Saudi.

Koordinat: sekitar 24°45′36,3″ LU, 50°54′36,2″ BT.

Formasi: Dam Formation.

Horizon: Lower Al-Kharrara Member.

Umur: Aquitanian, sekitar 23,03–21,6 juta tahun lalu (Miosen Awal).  Lokasi ini juga penting karena Al Maszhabiya termasuk salah satu situs fosil sapi laut terkaya di dunia, dan Smithsonian mencatat bahwa konsentrasi tulang tersebut kemungkinan merepresentasikan keberadaan jangka panjang sapi laut di kawasan yang pada Miosen Awal menjadi salah satu hotspot keanekaragaman hayati laut Arabia. 


 

Etimologi & Nilai Ekologis

Nama genus Salwasiren berasal dari Salwa, merujuk pada Teluk Salwa, kawasan habitat dugong yang melintasi wilayah perbatasan di kawasan Teluk, kemudian digabungkan dengan unsur “siren”, yang mengacu pada kelompok Sirenia. Nama spesifik qatarensis merujuk pada Qatar, negara tempat fosil spesies ini ditemukan. Dengan demikian, Salwasiren qatarensis dapat dimaknai secara sederhana sebagai “sapi laut Sirenia dari kawasan Salwa, Qatar.” Nilai ekologis Salwasiren qatarensis terutama terletak pada kemampuannya memberikan rekonstruksi sejarah ekosistem lamun dan pesisir.

Meskipun tumbuhan lamun sendiri memiliki catatan fosil yang relatif kurang lengkap, keberadaan herbivora khusus seperti sapi laut dapat menjadi proxy paleo-ekologis untuk mengetahui bahwa lingkungan pesisir produktif kemungkinan telah tersedia.

Jika Salwasiren memang memanfaatkan padang lamun sebagai sumber makanan, aktivitas makan populasi yang melimpah kemungkinan turut memengaruhi dasar laut melalui pengadukan sedimen, pemindahan nutrien dan perubahan struktur vegetasi.

Dalam konteks evolusi, hal tersebut menunjukkan bahwa peran mamalia laut sebagai insinyur ekosistem bukan fenomena baru. Jejak ekologis semacam itu kemungkinan telah berlangsung selama puluhan juta tahun. Penemuan ini juga memberikan perspektif konservasi modern. Dugong yang masih hidup saat ini bergantung pada habitat lamun dan menghadapi tekanan akibat perubahan habitat, aktivitas manusia serta rendahnya laju reproduksi. Memahami sejarah panjang hubungan sapi laut dengan ekosistem lamun dapat membantu menjelaskan mengapa perlindungan konsumen tingkat tinggi dan habitat pesisir sama-sama penting bagi kesehatan ekosistem.


 

Klasifikasi & Taksonomi

Kingdom: Animalia
 

Phylum: Chordata
 

Class: Mammalia 


Clade: Afrotheria 

Clade: Tethytheria 


Order: Sirenia 


Family: Dugongidae 

Subfamily: Dugonginae

Genus: Salwasiren
 

Species: Salwasiren qatarensis

Notes : Salwasiren qatarensis hidup sekitar 21–23 juta tahun lalu, jauh sebelum munculnya manusia modern. Fosilnya ditemukan dalam konsentrasi luar biasa tinggi, dengan 172 lokasi dalam area kurang dari 1 km². Spesies ini merupakan salah satu bukti bahwa kawasan yang sekarang menjadi Qatar pernah menjadi bagian dari lingkungan laut produktif yang mendukung komunitas mamalia laut. Penemuan ini juga memperlihatkan bahwa Teluk telah menjadi kawasan penting bagi evolusi sapi laut berulang kali, meskipun jenis sapi laut yang menghuni wilayah tersebut berubah sepanjang waktu. Yang paling menarik, hubungan ekologis antara sapi laut dan lamun yang terlihat pada dugong modern kemungkinan mempunyai sejarah jauh lebih tua daripada yang sebelumnya dapat dibuktikan melalui catatan fosil.


 

Kesimpulan

Salwasiren qatarensis bukan sekadar tambahan baru dalam daftar mamalia laut purba. Spesies ini membuka jendela menuju sejarah ekosistem pesisir Arabia pada Miosen Awal. Kelimpahan fosilnya menunjukkan bahwa sapi laut pernah menjadi komponen penting komunitas laut Qatar sekitar 21 juta tahun lalu. Hubungannya dengan lingkungan lamun juga memperkuat gagasan bahwa mamalia laut herbivor telah lama berperan sebagai pengubah atau “insinyur” ekosistem.

Dari gurun Qatar masa kini, fosil-fosil tersebut membawa cerita tentang laut purba yang kaya kehidupan—ketika sapi laut bergerak di dasar laut, mencari tumbuhan laut, dan kemungkinan tanpa disadari membentuk ekosistem tempat mereka hidup.



 

Informasi & Publikasi

Nicholas D. Pyenson​, Ferhan Sakal, Jacques LeBlanc, Jon Blundell, Katherine D. Klim, Christopher D. Marshall, Jorge Velez-Juarbe, Katherine Wolfe and Faisal Al-Naimi. 2025. High Abundance of Early Miocene Sea Cows from Qatar shows repeated Evolution of Seagrass Ecosystem Engineers in Eastern Tethys.  PeerJ. 13:e20030. DOI: doi.org/10.7717/peerj.20030 [December 10, 2025]

https://www.smithsonianmag.com/smart-news/a-trove-of-sea-cow-fossils-in-qatar-reveals-a-new-species-that-munched-on-seagrass-21-million-years-ago-180987820/



 

Penulis: Ali Setyaki

Editor: Agung Monche

Foto by : 

Artwork: Alex Boersma & 

Fossil :Nicholas D. Pyenson​, Ferhan Sakal, Jacques LeBlanc, Jon Blundell, Katherine D. Klim, Christopher D. Marshall, Jorge Velez-Juarbe, Katherine Wolfe and Faisal Al-Naimi

Link DOI: doi.org/10.7717/peerj.20030 [December 10, 2025]

https://www.smithsonianmag.com/smart-news/a-trove-of-sea-cow-fossils-in-qatar-reveals-a-new-species-that-munched-on-seagrass-21-million-years-ago-180987820

:

Informasi

Spesies ini merupakan bagian dari database keanekaragaman hayati kami. Bantu kami melestarikan mereka dengan menyebarkan informasi ini.