24/AGUSTUS/2026 | Redaksi PARAMIDSN
Invertebrata | 2026) |Hemitrygon ariakensis | Yamazaki Tomoyasu, Shimada Hiroshi dan Zhang Jing. | pesisir dangkal Laut Okhotsk bagian selatan| Jepang
[Mollusca • 2025] Clione japonica • Spesies kriptik baru dari Clione (Gastropoda: Gymnosomata) di perairan dalam Laut Jepang (Laut Timur) dan perairan dangkal Laut Okhotsk selatan
Surabaya, PARAMIDSN.com — Laut Jepang kembali mengungkap rahasia keanekaragaman hayati yang selama ini tersembunyi. Para peneliti kelautan berhasil mengidentifikasi dan mendeskripsikan Clione japonica sp. nov., spesies baru dari kelompok pteropoda yang populer dijuluki "Malaikat Laut" atau sea angel. Spesies mungil ini ditemukan di perairan menengah hingga dalam Laut Jepang, serta di perairan pesisir dangkal Laut Okhotsk bagian selatan. Sekilas, Clione japonica tampak seperti anggota genus Clione lainnya. Namun, pemeriksaan morfologi secara lebih mendalam menunjukkan adanya kombinasi karakter yang konsisten dan berbeda. Analisis DNA menggunakan gen cytochrome c oxidase subunit I atau COI kemudian memberikan dukungan tambahan terhadap pemisahan garis keturunan tersebut.
Penemuan ini menjadi menarik karena C. japonica merupakan spesies kriptik, yaitu spesies yang secara penampilan sangat mirip dengan kerabat dekatnya sehingga keberadaannya dapat luput dari pengamatan selama bertahun-tahun.
Malaikat Laut yang Bukan Malaikat Sebenarnya
Nama "Malaikat Laut" memang terdengar seperti nama makhluk fantasi. Namun, hewan ini sebenarnya merupakan moluska laut dari kelompok pteropoda.
Tidak seperti siput laut yang memiliki cangkang jelas, anggota genus Clione dewasa tidak memiliki cangkang eksternal. Tubuhnya relatif transparan dan memiliki sepasang struktur menyerupai sayap yang digunakan untuk berenang di dalam kolom air. Gerakannya yang mengepakkan struktur tersebut membuat Clione tampak seperti sedang terbang di dalam air. Karena penampilannya yang unik inilah kelompok tersebut mendapatkan nama populer "sea angel". Di balik penampilannya yang mungil dan indah, Clione merupakan organisme predator dalam ekosistem pelagis.
Tersembunyi di Balik Kemiripan
Masalah utama dalam mengenali Clione japonica adalah kemiripan morfologinya dengan spesies lain. Spesies kriptik seperti ini dapat hidup sebagai garis keturunan berbeda tetapi mempunyai bentuk tubuh yang sangat mirip. Akibatnya, pengamatan berdasarkan bentuk luar saja tidak selalu cukup untuk memastikan identitasnya.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan pendekatan gabungan antara morfologi dan genetika molekuler. Analisis dilakukan menggunakan gen COI, salah satu penanda DNA yang banyak digunakan untuk membandingkan hubungan kekerabatan hewan. Hasil analisis menunjukkan bahwa spesimen dari Laut Jepang hanya ditemukan pada salah satu klad yang juga mencakup spesies baru, sedangkan spesimen dari Laut Okhotsk selatan terdapat pada kedua klad.
Menariknya, analisis Automatic Barcode Gap Discovery atau ABGD menghasilkan satu unit taksonomi operasional molekuler atau MOTU. Hal tersebut menunjukkan bahwa jarak genetiknya relatif dangkal dan tidak terdapat celah barcode yang sangat jelas.
Karena itu, para peneliti tidak hanya bergantung pada DNA. Perbedaan morfologi yang stabil serta pola garis keturunan menjadi dasar penting dalam mengakui Clione japonica sebagai spesies tersendiri.
Ciri-Ciri Unik Clione japonica
Walaupun ukurannya kecil, Clione japonica memiliki sejumlah karakter yang dapat membantu ilmuwan membedakannya dari kerabat dekat.
Tiga Cincin Bersilia
Tubuhnya memiliki tiga cincin bersilia yang berada pada bagian anterior, bagian tengah tubuh, dan wilayah ekor. Silia berupa struktur seperti rambut mikroskopis tersebut menjadi salah satu karakter morfologi yang diamati dalam penelitian. Lobus Kaki yang Memanjang Salah satu ciri paling penting terdapat pada lobus kaki lateral. Pada C. japonica, lobus tersebut berbentuk elips dan memanjang ke arah luar. Struktur ini menjadi salah satu karakter diagnostik yang membantu membedakannya dari spesies Clione lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, struktur tersebut dapat terlihat seperti sepasang "sayap" yang membantu hewan bergerak di dalam air. Massa Visceral Berwarna Jingga hingga Merah. Karakter lainnya terdapat pada bagian organ dalam. Massa visceral C. japonica memiliki warna jingga terang hingga merah tua dan menempati sebagian besar bagian anterior tubuh. Warna mencolok tersebut menjadi salah satu karakter yang dapat diamati ketika spesimen diperiksa. Gigi Radula yang Lebih Lebar.Perbedaan yang lebih kecil terdapat pada struktur mulut. Clione japonica memiliki gigi radula bagian tengah yang lebih lebar, dengan perluasan lateral yang menonjol. Radula merupakan struktur seperti pita yang memiliki gigi-gigi mikroskopis dan digunakan dalam proses makan. Karakter tersebut mungkin tidak dapat diamati dengan mata telanjang, tetapi menjadi sangat penting dalam penelitian taksonomi.
Mengapa Clione japonica Bisa Terbentuk?
Para peneliti mengajukan hipotesis bahwa sejarah geologi dan oseanografi Laut Jepang berperan dalam pembentukan garis keturunan Clione japonica. Laut Jepang memiliki karakter sebagai laut semi-tertutup. Hubungannya dengan samudra terbuka dibatasi oleh sejumlah jalur laut dan selat. Pada masa lalu, terutama selama perubahan lingkungan pada akhir Kuarter, perubahan permukaan laut dan kondisi hidrografi dapat memengaruhi pertukaran massa air antara Laut Jepang dengan kawasan sekitarnya. Populasi organisme pelagis yang mengalami isolasi dalam jangka waktu panjang dapat mengikuti jalur evolusi yang berbeda.
Perubahan tersebut pada akhirnya dapat menghasilkan garis keturunan yang secara morfologi maupun genetik mulai berbeda dari kerabatnya. Dalam kasus C. japonica, kondisi Laut Jepang diduga menjadi salah satu faktor yang membantu membentuk garis keturunan unik tersebut.
Bagaimana Bisa Sampai ke Laut Okhotsk?
Pertanyaan menarik berikutnya adalah mengapa spesies ini juga ditemukan di Laut Okhotsk bagian selatan. Para peneliti menduga keberadaannya di kawasan tersebut berkaitan dengan transportasi oleh massa air regional. Sebagai organisme pelagis, Clione hidup di dalam kolom air dan memiliki hubungan erat dengan dinamika oseanografi. Artinya, persebarannya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berenang, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pergerakan massa air dan arus laut.
Fenomena tersebut memungkinkan organisme kecil yang hidup di laut terbuka atau semi-tertutup berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Mengungkap Keanekaragaman Tersembunyi
Penemuan Clione japonica menunjukkan bahwa daftar keanekaragaman hayati laut belum sepenuhnya selesai. Organisme berukuran kecil, transparan, dan hidup di dalam kolom air sering kali jauh lebih sulit dipelajari dibandingkan hewan laut berukuran besar. Lebih menarik lagi, kasus ini menunjukkan bahwa bahkan ketika analisis DNA tidak menghasilkan pemisahan yang sangat tegas, morfologi yang konsisten dan bukti filogenetik dapat menjadi bagian penting dalam mendeskripsikan spesies baru. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa taksonomi modern bukan hanya tentang DNA.Taksonomi yang kuat justru dapat lahir dari kombinasi morfologi, genetika, anatomi, biogeografi, ekologi, dan sejarah evolusi.
Nilai ekologis & Etimologi
Meskipun berukuran kecil, Clione japonica memiliki nilai ekologis yang tidak dapat dianggap remeh. Anggota genus Clione merupakan predator di ekosistem pelagis dan diketahui memangsa pteropoda bercangkang seperti Limacina. Dengan demikian, keberadaan Clione ikut memengaruhi hubungan predator-mangsa di dalam komunitas plankton dan organisme pelagis berukuran kecil. Pada saat yang sama, Clione juga menjadi bagian dari jaringan makanan laut dan dapat berkontribusi sebagai sumber energi bagi predator yang memangsa organisme pelagis kecil. Keberadaan C. japonica juga penting untuk penelitian perubahan ekosistem laut.
Karena pteropoda memiliki hubungan erat dengan kondisi massa air dan lingkungan pelagis, perubahan persebaran serta kelimpahannya dapat memberikan informasi mengenai dinamika ekosistem laut.
Clione : Nama genus yang digunakan oleh Peter Simon Pallas pada 1774. Nama ini berkaitan dengan Clio, salah satu Muse dalam mitologi Yunani.
japonica : Berasal dari nama geografis Jepang, yang merujuk pada wilayah Laut Jepang sebagai lokasi penemuan pertama spesies ini. Akhiran -ica merupakan bentuk feminin yang digunakan untuk menyesuaikan epitet spesifik dengan tata nama genus Clione. Dengan demikian, Clione japonica dapat diartikan secara sederhana sebagai "Clione dari Jepang".
Klasifikasi dan Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Heterobranchia
Infraclass : Euthyneura
Clade : Pteropoda
Order : Pteropoda
Suborder : Gymnosomata
Family : Clionidae Rafinesque, 1815
Genus : Clione Pallas, 1774
Species : Clione japonica sp. nov.
Nama umum : Sea angel atau Malaikat Laut
Status : Spesies baru dan spesies kriptik
Persebaran : Laut Jepang dan Laut Okhotsk bagian selatan
Notes: Clione japonica bukan berarti baru muncul di laut pada tahun penemuannya.
Spesies tersebut kemungkinan telah hidup di kawasan Jepang jauh sebelum manusia mengenal dan memberinya nama ilmiah. Yang baru adalah pengakuan ilmiahnya sebagai garis keturunan dan spesies tersendiri. Kisah C. japonica juga memperlihatkan bahwa lautan masih menyimpan banyak organisme yang secara visual tampak biasa atau bahkan telah dikenal luas, tetapi ternyata menyimpan keanekaragaman tersembunyi. Bagi ilmu zoologi, penemuan ini menjadi contoh bahwa seekor "Malaikat Laut" berukuran kecil dapat membawa informasi besar mengenai evolusi, sejarah Laut Jepang, arus laut, dan keanekaragaman hayati pelagis.
Informasi & publikasi
Yamazaki Tomoyasu, Shimada Hiroshi dan Zhang Jing. 2025. Spesies Clione (Gastropoda) kriptik baru di perairan dalam Laut Jepang (Laut Timur) dan perairan dangkal Laut Okhotsk selatan. Jurnal Keanekaragaman Hayati Asia-Pasifik. Dalam Proses Penerbitan, DOI: doi.org/10.1016/j.japb.2025.10.002 [7 November 2025]
Penulis :Dila
Editor : Ali Setyaki
Foto By :Yamazaki Tomoyasu, Shimada Hiroshi dan Zhang Jing.
Link & DOI: doi.org/10.1016/j.japb.2025.10.002 [7 November 2025]