Mamalia | 1766 ) Alcelaphus buselaphus buselaphus | Peter Simon Pallas |utara Gurun Sahara | Maroko-Mesir (PUNAH : 1923)
Surabaya, Paramidsn.com – Bubal hartebeest (Alcelaphus buselaphus buselaphus) adalah salah satu subspesies antelop besar yang dahulu menghuni padang rumput dan stepa di Afrika Utara, membentang dari Maroko hingga Mesir di sebelah utara Gurun Sahara. Satwa ini dikenal sebagai salah satu mamalia besar paling penting dalam sejarah kawasan tersebut, baik dalam kebudayaan Mesir Kuno maupun catatan para sejarawan Yunani dan Romawi. Namun, pada awal abad ke-20, bubal hartebeest dinyatakan punah setelah mengalami perburuan besar-besaran selama masa kolonial Prancis.
Etimologi & Persebaran
Nama Alcelaphus berasal dari bahasa Yunani Kuno yang menggabungkan kata alkē yang berarti "kekuatan" dan elaphos yang berarti "rusa", merujuk pada tubuhnya yang besar dan kuat menyerupai rusa. Nama spesies buselaphus juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu bous yang berarti "sapi" dan elaphos yang berarti "rusa", sehingga secara harfiah berarti "rusa-sapi", menggambarkan perpaduan bentuk tubuhnya. Nama kuno satwa ini dalam bahasa Latin adalah bubalus, sedangkan dalam bahasa Yunani disebut boubalos. Seiring perkembangan bahasa selama berabad-abad, istilah tersebut akhirnya berkembang menjadi kata bahasa Inggris buffalo, meskipun bubal hartebeest sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan kerbau (buffalo) modern. Bubal hartebeest dahulu tersebar luas di wilayah Afrika Utara, mulai dari Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya hingga Mesir. Habitat utamanya berupa padang rumput terbuka, stepa, dan dataran semi-kering di utara Gurun Sahara yang menyediakan vegetasi bagi kawanan besar antelop ini.
Peran Bubal dalam Sejarah
Bubal hartebeest bukanlah satwa yang asing bagi peradaban kuno. Bangsa Mesir Kuno memeliharanya sebagai ternak, menggunakannya dalam upacara pengorbanan, bahkan menjadikannya sebagai salah satu simbol dalam sistem hieroglif. Satwa ini juga disebutkan dalam Perjanjian Lama (Old Testament). Sejumlah sejarawan terkenal seperti Herodotus, Strabo, Polybius, dan Dio Cassius turut mencatat keberadaan bubal hartebeest dalam tulisan mereka. Pada masa Kekaisaran Romawi, ratusan individu dibawa ke arena pertunjukan dan mosaik bergambar bubal ditemukan di berbagai wilayah Afrika Utara. Bahkan hingga tahun 1738, kawanan besar bubal hartebeest masih dilaporkan hidup di Maroko.
Sejarah Ilmiah
Bubal hartebeest pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh naturalis Jerman Peter Simon Pallas pada tahun 1766 dengan nama ilmiah Antilope buselaphus. Seiring perkembangan kajian taksonomi, spesies ini kemudian dipindahkan ke dalam genus Alcelaphus, sehingga nama ilmiah yang diterima menjadi Alcelaphus buselaphus. Bubal hartebeest merupakan subspesies nominotip, yaitu Alcelaphus buselaphus buselaphus, yang dahulu menghuni wilayah Afrika Utara sebelum akhirnya dinyatakan punah pada awal abad ke-20
Faktor Kepunahan
Kemunduran populasi bubal hartebeest dimulai setelah dimulainya penaklukan Prancis atas Aljazair pada tahun 1830. Menurut para naturalis pada masa itu, penurunan populasinya bukan sekadar akibat perburuan biasa, melainkan sebuah pembantaian. Pasukan kolonial Prancis menemukan kawanan bubal yang belum pernah menghadapi perburuan manusia dalam skala besar. Satwa-satwa tersebut kemudian ditembak secara massal sebagai hiburan. Banyak perwira dan tentara Prancis membantai seluruh kawanan dalam satu kesempatan. Akibat tekanan perburuan yang sangat tinggi, bubal hartebeest terpaksa mundur ke wilayah Pegunungan Atlas. Pada tahun 1867 satwa ini telah menghilang dari dataran rendah Afrika Utara, kemudian punah dari Tunisia sekitar tahun 1870.
Pada tahun 1917 ditemukan kawanan terakhir yang terdiri atas sekitar 15 individu di dekat Outat El Haj, Maroko. Seorang pemburu kemudian menembak 12 ekor dalam satu perburuan. Tiga individu yang tersisa menjadi bubal hartebeest liar terakhir yang pernah dikonfirmasi di dunia. Individu liar terakhir di Maroko akhirnya ditembak pada tahun 1925. Sementara itu, individu terakhir dalam penangkaran berupa seekor betina di Kebun Binatang Paris telah mati lebih dahulu pada tahun 1923. Satu-satunya foto individu hidup yang diketahui diambil di Kebun Binatang London pada tahun 1895. Faktor utama kepunahan bubal hartebeest adalah perburuan berlebihan (overhunting) yang dilakukan secara sistematis selama periode kolonial Prancis. Perburuan massal terhadap seluruh kawanan menyebabkan populasinya runtuh dalam waktu singkat hingga tidak mampu pulih kembali.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Bovidae
Subfamili: Alcelaphinae
Genus: Alcelaphus
Spesies: Alcelaphus buselaphus
Subspesies: Alcelaphus buselaphus buselaphus
Status: Punah (Extinct/EX)
Notes : Bubal hartebeest merupakan salah satu sedikit satwa yang memberikan warisan linguistik bagi bahasa Inggris. Nama kunonya, bubalus, menjadi asal-usul kata buffalo, meskipun kedua hewan tersebut berasal dari kelompok yang berbeda.
Ironisnya, satwa yang pernah dipelihara oleh para Firaun Mesir, dicatat oleh sejarawan Yunani, dan dipertontonkan oleh Kekaisaran Romawi ini akhirnya punah hanya dalam satu masa kehidupan manusia akibat perburuan yang dilakukan sebagai olahraga selama era kolonial.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Adi Mikayasa
Foto by : Lewis Medland (1895)