Tujuan sebagian Burung mengkonsumsi Kerikil "Rahasia "Gigi Kedua" yang Tersembunyi"

Tujuan sebagian Burung mengkonsumsi Kerikil "Rahasia "Gigi Kedua" yang Tersembunyi"

Tujuan sebagian Burung mengkonsumsi Kerikil "Rahasia "Gigi Kedua" yang Tersembunyi"

Aves
Kamis, 09 Juli 2026
Dsn Mamalia
33 Views

2 / JULI /2026 | REDAKSI PARAMIDSN



 

SURABAYA, Paramidsn.com — Burung sering terlihat mematuk tanah, pasir, atau kerikil kecil di pinggir jalan maupun tepian sungai. Bagi sebagian orang, perilaku ini tampak aneh karena batu jelas bukan makanan. Namun, di balik kebiasaan tersebut tersimpan salah satu adaptasi paling cerdas dalam dunia burung.


 

Istilah Grit/ Gastrolit

Tidak seperti mamalia, burung tidak memiliki gigi untuk mengunyah makanan. Sebagai gantinya, banyak spesies menelan kerikil kecil (grit atau gastrolit) yang kemudian disimpan di dalam ampela (gizzard), yaitu bagian lambung berotot yang berfungsi sebagai "mesin penggiling" alami. Ketika ampela berkontraksi, kerikil akan menghancurkan biji-bijian, kacang, serat tumbuhan, hingga cangkang serangga sehingga makanan lebih mudah dicerna dan nutrisinya dapat diserap secara maksimal.

Kebiasaan ini paling sering dijumpai pada burung pemakan biji-bijian, seperti ayam, merpati, puyuh, kalkun, bebek, hingga burung unta. Sebaliknya, burung pemakan nektar atau buah lunak umumnya memiliki ampela yang lebih kecil sehingga tidak terlalu bergantung pada kerikil.


 

Jangka Waktu Kerikil

Menariknya, kerikil tersebut tidak berada di dalam tubuh selamanya. Seiring waktu, permukaannya akan menjadi halus akibat terus bergesekan dengan makanan. Setelah tidak lagi efektif, kerikil akan dikeluarkan melalui saluran pencernaan atau digantikan dengan kerikil baru yang dipungut dari alam.

Selain membantu proses penghancuran makanan, penggunaan kerikil membuat burung tidak perlu berevolusi memiliki rahang dan gigi yang berat. Tubuh menjadi lebih ringan sehingga lebih efisien untuk terbang, sekaligus tetap mampu memanfaatkan makanan yang keras sebagai sumber energi. 


 

Adaptasi dari Jutaan tahun

Adaptasi ini bahkan telah diketahui ada sejak lebih dari 100 juta tahun lalu berdasarkan temuan fosil gastrolit pada burung purba dan beberapa dinosaurus. Fenomena ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana, seperti memakan kerikil, sebenarnya merupakan hasil evolusi yang sangat efektif. Bagi burung, kerikil bukanlah makanan, melainkan "alat bantu pencernaan" yang menggantikan fungsi gigi.


 

Klasifikasi & Taksonomi (Contoh Burung Merpati Batu)

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Aves

Order : Columbiformes

Family : Columbidae

Genus : Columba

Species : Columba livia

Notes :  Istilah gastrolit berasal dari bahasa Yunani, yaitu gaster (lambung) dan lithos (batu), yang berarti "batu lambung".

Tidak semua burung membutuhkan kerikil. Burung pemakan nektar, buah lunak, atau mangsa berdaging biasanya memiliki kebutuhan yang jauh lebih sedikit terhadap grit. Burung pemangsa, seperti burung hantu, menggunakan ampela untuk memadatkan tulang, bulu, dan rambut mangsa menjadi pelet yang kemudian dimuntahkan kembali, bukan untuk menggiling biji-bijian. Kebiasaan memanfaatkan gastrolit juga ditemukan pada sejumlah dinosaurus serta beberapa reptil purba, menandakan bahwa strategi pencernaan ini telah bertahan selama jutaan tahun dalam sejarah evolusi.


 

Penulis: Mas Tahzain

Editor : Agung Monche

Foto by : Inaturlist | almithos

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.