28 /Mei /2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Dalam jagat pewayangan Jawa, sosok naga sering digambarkan sebagai makhluk sakti penjaga alam bawah tanah, seperti Sanghyang Naga Antaboga, atau penjaga pusaka keris kuno. Bahkan di beberapa babad atau serat mengatakan bahwasanya mereka memiliki bangsa sendiri dsn hidup di Kahyangan Saptapratala dimana artinya adalah
Sapta = 7
Pratala = Lapisan
Yang artinya 7 lapisan bawah bumi
Namun, sebuah penemuan baru di kawasan hutan dataran tinggi yang lembap di Jawa Tengah telah mengejutkan para peneliti dan penjahit mitos. Sesosok makhluk kecil yang penampakannya sangat menyerupai deskripsi morfologi naga dalam ukiran dan cerita rakyat berhasil diabadikan dalam bidikan kamera yang jernih.
Jejak Sanghyang Antaboga di Dunia Nyata
Makhluk unik tersebut bukanlah naga raksasa yang bisa menyemburkan api, melainkan seekor ular kecil dengan keunikan visual yang menakjubkan. Gambar di atas memperlihatkan ciri paling menonjol dari ular ini: tiga baris sisik menonjol keras (tuberkel) yang berjajar rapi sepanjang punggungnya, mulai dari leher hingga ekor. Struktur ini memberikan kesan tekstur kasar mirip armor atau punggung naga mitologis yang sering digambarkan dalam seni ukir keris atau wayang kulit. "Ini adalah Xenodermus javanicus, yang secara lokal kita sebut sebagai Ular Naga Jawa," jelas Dr. Heru Setiawan, ahli herpetologi terkemuka di Indonesia. "Meskipun ukurannya tidak sebanding dengan naga dalam mitos, morfologi kulitnya memang sangat unik dan menjadikannya salah satu ular paling aneh di dunia. Sifatnya yang sangat pemalu dan habitatnya yang tersembunyi membuat penemuan ini menjadi sangat langka dan berharga."
Hidup di Antara Serasah dan Lumpur
Xenodermus javanicus adalah penghuni malam (nokturnal) yang semi-fosorial, artinya ia menghabiskan sebagian besar waktunya terkubur di bawah serasah daun, batang pohon lapuk, atau lumpur lembap di dekat aliran air seperti sungai atau sawah. Mereka tidak berbisa dan memiliki pertahanan diri yang unik alih-alih menyerang, mereka akan menjadi kaku seperti kayu untuk mengelabui predator.
Populasi ular ini sangat riskan terhadap perubahan lingkungan, terutama polusi air dari limbah pertanian dan kerusakan hutan dataran tinggi. Penemuannya kembali menegaskan bahwa hutan-hutan di Pulau Jawa masih menyimpan keanekaragaman hayati yang belum sepenuhnya terkuak, yang bahkan mungkin menjadi inspirasi di balik legenda-legenda kuno yang kita warisi hari ini.
Klasifikasi & Taksonomi Ular Naga Jawa
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Xenodermidae
Genus: Xenodermus
Spesies: Xenodermus javanicus Reinhardt, 1836
Ular ini merupakan satu-satunya spesies yang telah teridentifikasi dalam genus Xenodermus, menjadikannya sangat unik secara evolusi.
Notes : ada beberapa kilas balik sejarah Setelah gugurnya pandawa atau cerita akhir dari sebuah Pandawa dimana raja astina yang menggantikan adalah Raja Parikesit, nah cerita dari PARIKESIT sendiri meninggal atau matinya di gigit ular di bagian kakinya dan setelah itu para begawan & biksu sakti mengadakan upacara untuk memusnahkan banyak bangsa ular atau Naga.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Adi Mikayasa
Foto by : Cc Archive Paramidsn