15/JULI /2026 | REDAKSI PARAMIDSN
Surabaya, Paramidsn.com – Lidah ular yang bercabang dua telah lama menjadi bagian dari berbagai mitologi dunia. Dalam tradisi Hindu, salah satu kisah yang paling terkenal berkaitan dengan Dewa Wisnu, Garuda, dan bangsa naga (Naga). Di sisi lain, ilmu pengetahuan modern berhasil mengungkap bahwa bentuk lidah bercabang tersebut bukanlah kutukan ataupun kebetulan evolusi, melainkan adaptasi luar biasa yang membuat ular menjadi salah satu predator paling efisien di Bumi.
Kedekatan/Kepemilikan Visnu Ular kosmik
Dalam tradisi Hindu, Dewa Wisnu memiliki hubungan yang sangat erat dengan ular kosmik bernama Ananta Shesha atau Adishesha. Nama Ananta berarti "tak berujung" atau "abadi", sedangkan Shesha berarti "yang tersisa". Ular raksasa berkepala banyak ini dipercaya telah ada sejak awal penciptaan alam semesta dan akan tetap ada hingga akhir siklus kosmis.
Berbagai kitab suci Hindu, seperti Mahabharata, Bhagavata Purana, dan Vishnu Purana, menggambarkan Wisnu bersemayam atau berbaring di atas gulungan tubuh Ananta Shesha yang mengapung di Samudra Kausal (Kshira Sagara atau Lautan Susu). Posisi ini melambangkan bahwa Wisnu adalah pemelihara alam semesta, sementara Ananta Shesha menjadi penopang dan simbol kestabilan kosmos. Dalam sejumlah penggambaran seni Hindu, dari pusar Dewa Wisnu tumbuh bunga teratai yang menjadi tempat lahirnya Dewa Brahma, sang pencipta alam semesta. Kehadiran Ananta Shesha di bawah Wisnu bukan menunjukkan kepemilikan dalam arti harfiah, melainkan hubungan spiritual yang melambangkan kesetiaan, perlindungan, serta keseimbangan alam semesta. Menurut tradisi Vaishnava, Ananta Shesha juga dipercaya sebagai perwujudan kekuatan ilahi yang senantiasa mengabdi kepada Wisnu. Oleh karena itu, ular dalam kebudayaan Hindu tidak selalu dipandang sebagai simbol bahaya, tetapi juga dapat melambangkan keabadian, kebijaksanaan, kekuatan, dan siklus kehidupan.
Mitologi hindu lidah Ular bercabang
Dalam mitologi Hindu, dikisahkan bahwa Garuda berusaha membebaskan ibunya dari perbudakan para naga dengan mengambil kendi berisi amerta (air keabadian) yang dijaga oleh para dewa. Setelah berhasil mendapatkannya dengan restu Dewa Wisnu, Garuda menyerahkan amerta kepada para naga sebagai syarat pembebasan ibunya. Namun sebelum para naga sempat meminumnya, Dewa Indra mengambil kembali kendi tersebut. Konon, beberapa tetes amerta sempat menempel pada rerumputan tempat kendi diletakkan. Para naga kemudian menjilat rumput tersebut dengan harapan memperoleh sisa air keabadian. Rumput yang tajam justru melukai lidah mereka hingga terbelah menjadi dua. Sejak saat itu, ular digambarkan memiliki lidah bercabang. Kisah ini merupakan bagian dari mitologi Hindu dan tidak dimaksudkan sebagai penjelasan ilmiah mengenai asal-usul anatomi ular.
Penjelasan Ilmiah lidah Ular
Sains modern memberikan jawaban yang berbeda. Lidah bercabang bukan digunakan untuk mengecap rasa seperti lidah manusia, melainkan sebagai alat pengumpul partikel kimia di udara maupun di permukaan tanah. Ketika ular menjulurkan lidahnya, kedua ujung lidah akan menangkap molekul bau dari dua titik yang sedikit berbeda. Setelah lidah ditarik kembali, partikel tersebut dianalisis oleh organ Jacobson (organ vomeronasal) yang berada di langit-langit mulut. Karena kedua ujung lidah mengumpulkan informasi secara terpisah, ular dapat membandingkan intensitas bau dari sisi kanan dan kiri. Kemampuan ini membantu ular menentukan arah mangsa, mengenali pasangan, menghindari predator, hingga menavigasi lingkungan dengan sangat akurat. Penelitian biologi evolusi menunjukkan bahwa lidah bercabang merupakan adaptasi penting yang meningkatkan kemampuan chemoreception pada ular.
Etimologi & Contoh Ular
Nama genus Ophiophagus berasal dari bahasa Yunani, yaitu ophis yang berarti "ular" dan phagein yang berarti "memakan". Nama ini secara harfiah berarti "pemakan ular", sesuai kebiasaan makan King Cobra yang memang memangsa berbagai jenis ular, termasuk ular berbisa lainnya.
Epitet spesies hannah diyakini berasal dari penamaan historis oleh Theodore Cantor pada tahun 1836. Meskipun asal-usul pastinya tidak sepenuhnya terdokumentasi, nama tersebut telah lama dipertahankan sebagai nama ilmiah resmi spesies ini. Salah satu contoh terbaik adalah King Cobra (Ophiophagus hannah), ular berbisa terpanjang di dunia yang mampu mencapai panjang lebih dari 5 meter. Spesies ini aktif menjelajahi hutan sambil terus menjulurkan lidahnya untuk "membaca" jejak kimia mangsa, terutama ular lain yang menjadi makanan utamanya.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Elapidae
Genus: Ophiophagus
Spesies: Ophiophagus hannah (Cantor, 1836)
Notes : King Cobra merupakan ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang maksimum melebihi 5,5 meter. Berbeda dengan sebagian besar ular, King Cobra membuat sarang dari tumpukan daun dan menjaga telurnya hingga menetas.
Lidah bercabang bukan digunakan untuk menyengat atau mencicipi makanan, melainkan untuk mengumpulkan partikel kimia yang kemudian dianalisis oleh organ Jaefektif Ular dapat menjulurkan lidahnya berkali-kali setiap menit untuk terus memperbarui informasi mengenai lingkungan di sekitarnya. Adaptasi lidah bercabang diperkirakan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan evolusi ular sebagai predator yang sangat efektif.
Peran Kamu Satwa PARAMIDSN
Dalam hal kolektif species Tim PARAMI berusaha menyusun seluruh Species Ular yang terdaftar dalam khazanah ilmu Herpetology, kami memiliki beberapa data Satwa seperti King cobra yang mungkin cukup lengkap dimana kami mengurutkan sesuai nama ilmiah yang berlaku yakni Ophiopagus, untuk dapat mengetahui secara rinciannya dari ke 4 Species yg sudah ada kami menyertakan linknya bagi pembaca setia kami.
Link Kamus satwa :
https://paramidsn.com/edukasi/Reptil%20(Reptil)?q=King+cobra&sort=newest
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto by : Photogrid PARAMIDSN