1/APRIL/2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Di ekosistem perairan dengan tingkat polusi tinggi, oksigen rendah, dan sanitasi buruk, hanya sedikit makhluk yang mampu bertahan hidup. Namun, dua kontestan utama sering kali ditemukan mendominasi wilayah ini: Ikan Lele (Clarias) dan Ikan Pleco atau Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys).
Keduanya sering kali dipandang sebagai "ikan sampah," namun di balik julukan tersebut terdapat adaptasi evolusi luar biasa yang memungkinkan mereka bertahan di tempat di mana ikan lain akan mati dalam hitungan menit.
Persenjataan Adaptasi: Labirin vs Kulit Baja
Kedua ikan ini memiliki strategi bertahan hidup yang sangat berbeda namun sama-sama efektif:
Ikan Lele (Si Pengambil Napas): Lele memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut Arborescent (Labirin). Organ ini memungkinkan lele mengambil oksigen langsung dari udara. Itulah sebabnya lele sering terlihat memunculkan kepalanya ke permukaan air yang keruh. Mereka tidak terlalu bergantung pada kadar oksigen di dalam air.
Ikan Pleco (Si Baju Besi): Pleco tidak memiliki labirin seperti lele, namun mereka memiliki kemampuan menyerap oksigen melalui lapisan lambung yang termodifikasi saat menelan udara. Selain itu, tubuh mereka dilapisi oleh lempengan tulang keras (scutes) yang bertindak sebagai perisai dari polutan fisik dan serangan predator.
Rivalitas Makanan: Si Predator vs Si Pemulung
Meskipun hidup di habitat yang sama, mereka tidak selalu bertarung secara langsung. Lele adalah predator oportunistik yang memakan hampir segala benda organik—mulai dari cacing hingga bangkai. Sementara itu, Pleco adalah detritivora (pemakan detritus) yang menghabiskan waktunya menyapu alga dan lapisan sedimen di dasar air yang kotor.
Siapa Juara Bertahan dalam Air Paling Kotor?
Jika harus memilih satu pemenang dalam hal ketahanan murni di air dengan polusi ekstrem dan kekeringan, gelarnya jatuh kepada: Ikan Pleco.
Alasannya:
Ketahanan Kimia: Pleco terbukti lebih toleran terhadap logam berat dan limbah domestik dibandingkan lele.
Ketahanan Fisik: Kulit baja Pleco membuatnya lebih tahan terhadap gesekan di lingkungan yang penuh sampah atau bebatuan tajam.
Invasi Ekstrem: Dalam banyak kasus di sungai-sungai tercemar di Indonesia, populasi Pleco (sebagai spesies invasif) sering kali menggeser populasi lele lokal karena mereka jauh lebih sulit dibasmi dan memiliki tingkat reproduksi yang masif di lingkungan buruk.
Klasifikasi Taksonomi
Berikut adalah perbandingan posisi ilmiah kedua kompetitor tersebut:
Ikan Lele (Contoh: Lele Dumbo)
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Actinopterygii
Order: Siluriformes
Family: Clariidae
Genus: Clarias
Species: Clarias gariepinus
Ikan Pleco (Sapu-Sapu)
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Actinopterygii
Order: Siluriformes
Family: Loricariidae
Genus: Pterygoplichthys
Species: Pterygoplichthys pardalis
Notes : Meskipun kedua ikan ini sangat tangguh, PARAMIDSN mengingatkan bahwa mengonsumsi lele atau pleco yang hidup di air dengan sanitasi buruk sangat berbahaya bagi manusia karena mereka bertindak sebagai "bio-akumulator" logam berat seperti merkuri dan timbal dalam daging mereka.
Penulis: Ali Maruf
Editor: Adi Mikayasa
Foto by : iNaturalist| felipecampos (Pleco) & Database PARAMI DSN | Sendang Seliran Kota Gede (Lele Putih)