Perubahan Iklim Bisa Mengubah Bentuk Tubuh Satwa, Paruh dan Tubuh Burung pun beradaptasi

Perubahan Iklim Bisa Mengubah Bentuk Tubuh Satwa, Paruh dan Tubuh Burung pun beradaptasi

Perubahan Iklim Bisa Mengubah Bentuk Tubuh Satwa, Paruh dan Tubuh Burung pun beradaptasi

Aves
Senin, 10 Agustus 2026
Dsn Mamalia
75 Views


 

10/AGUSTUS/2026  | Redaksi PARAMIDSN



 

Surabaya, PARAMIDSN.com — Perubahan iklim bukan hanya persoalan meningkatnya suhu bumi, mencairnya es, atau naiknya permukaan laut. Perubahan kondisi lingkungan ternyata juga dapat meninggalkan jejak pada tubuh satwa.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian hewan berdarah panas atau endoterm dapat mengalami perubahan morfologi sebagai respons terhadap perubahan kondisi iklim. Perubahan tersebut antara lain terlihat pada ukuran paruh, telinga, kaki, serta bagian tubuh lainnya.

Fenomena ini menarik perhatian para ilmuwan karena bentuk tubuh memiliki hubungan erat dengan kemampuan hewan dalam mengatur suhu tubuh.


 

Ketika Tubuh Satwa Mengikuti Perubahan Iklim

Pada kondisi lingkungan yang semakin panas, hewan menghadapi tantangan untuk membuang panas tubuh. Beberapa bagian tubuh yang memiliki banyak pembuluh darah, seperti telinga, kaki, dan paruh pada burung, dapat berperan dalam pertukaran panas. Secara sederhana, permukaan tubuh yang relatif lebih besar dapat membantu pelepasan panas ke lingkungan. Konsep tersebut sejalan dengan aturan Allen (Allen's rule), sebuah prinsip biogeografi yang menyatakan bahwa pada hewan endoterm, individu atau populasi yang hidup di lingkungan lebih hangat cenderung memiliki bagian tubuh yang lebih menonjol atau relatif lebih panjang dibandingkan kerabatnya yang hidup di lingkungan lebih dingin. Namun, perubahan morfologi akibat iklim tidak selalu berarti satu spesies secara sengaja “mengubah tubuhnya”. Perubahan dapat terjadi melalui kombinasi plastisitas fenotip, seleksi alam, perubahan perkembangan, dan perubahan kondisi lingkungan.


 

Burung Beo Australia Mengalami Perubahan Ukuran Paruh

Salah satu contoh yang menarik berasal dari kelompok burung beo Australia.

Penelitian yang dirangkum dalam artikel tinjauan pada jurnal Trends in Ecology & Evolution menunjukkan adanya perubahan ukuran beberapa bagian tubuh burung sebagai respons terhadap perubahan iklim.

Pada beberapa jenis burung beo Australia, ukuran paruh dilaporkan mengalami peningkatan selama periode pengamatan panjang sejak abad ke-19. Paruh bukan hanya alat untuk mengambil dan memproses makanan. Pada burung, paruh juga dapat berperan sebagai organ pelepasan panas. Ketika suhu lingkungan meningkat, perubahan ukuran paruh berpotensi membantu proses termoregulasi. Namun demikian, perubahan ukuran paruh tidak boleh langsung dianggap semata-mata akibat suhu. Faktor lain seperti perubahan makanan, habitat, seleksi seksual, dan perubahan lingkungan lainnya juga dapat memengaruhi morfologi burung.


 

Junco hyemalis: Burung Kecil dengan Petunjuk Perubahan Iklim

Contoh menarik lainnya datang dari Amerika Utara, yaitu dark-eyed junco (Junco hyemalis). Burung kecil ini memiliki wilayah persebaran luas di Amerika Utara dan mampu hidup pada lingkungan yang sangat beragam. Penelitian yang dibahas dalam literatur perubahan morfologi akibat iklim menemukan adanya hubungan antara peningkatan ukuran paruh Junco hyemalis dan kondisi suhu ekstrem dalam jangka pendek, terutama pada lingkungan yang biasanya lebih dingin. Hal tersebut menjadi menarik karena paruh dapat berfungsi sebagai salah satu jalur pelepasan panas. Dengan meningkatnya suhu lingkungan, ukuran paruh yang lebih besar secara teoritis dapat memberikan permukaan tambahan untuk membantu pelepasan panas.Tetapi para ilmuwan juga menekankan bahwa perubahan morfologi tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama pada setiap populasi atau spesies.


 

Burung di Chicago Juga Menunjukkan Perubahan

Fenomena perubahan bentuk tubuh tidak hanya ditemukan pada penelitian mengenai paruh. Sebuah penelitian terhadap 70.716 burung migran dari 52 spesies yang ditemukan mati akibat menabrak bangunan di Chicago juga memberikan gambaran mengenai perubahan morfologi selama beberapa dekade. Burung-burung tersebut dikumpulkan dan disimpan di Field Museum di Chicago. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama sekitar empat dekade, sejumlah burung migran mengalami kecenderungan ukuran tubuh yang lebih kecil, sementara ukuran relatif sayap meningkat. Perubahan tersebut menarik perhatian karena ukuran tubuh berhubungan dengan termoregulasi, metabolisme, migrasi, dan kebutuhan energi.


 

Apakah Satwa Sedang “Berevolusi” Karena Pemanasan Global?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Perubahan bentuk tubuh yang ditemukan oleh para ilmuwan dapat berasal dari beberapa mekanisme. Plastisitas fenotip memungkinkan individu mengalami perubahan karakter tubuh sebagai respons terhadap kondisi lingkungan selama hidup atau perkembangan. Sementara itu, evolusi melalui seleksi alam terjadi apabila variasi sifat tertentu diwariskan dan individu dengan sifat tertentu memiliki keberhasilan hidup atau reproduksi yang lebih tinggi. Karena itu, menemukan bahwa ukuran paruh atau tubuh berubah dari waktu ke waktu belum otomatis membuktikan bahwa suatu spesies telah berevolusi secara genetik akibat perubahan iklim. Diperlukan penelitian jangka panjang untuk mengetahui mekanisme sebenarnya.


 

Mengapa Perubahan Kecil Bisa Sangat Penting?

Tubuh hewan merupakan sebuah sistem yang saling terhubung. Perubahan ukuran paruh, misalnya, mungkin membantu pelepasan panas. Namun paruh juga digunakan untuk mencari makanan. Jika bentuknya berubah, kemampuan burung dalam memecahkan biji, menangkap makanan, atau memanfaatkan sumber makanan tertentu juga dapat berubah. Demikian pula perubahan ukuran tubuh dan sayap dapat memengaruhi penerbangan, migrasi, kebutuhan energi, serta kemampuan menghindari predator.

Artinya, perubahan morfologi akibat perubahan iklim dapat memberikan keuntungan tertentu, tetapi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi ekologis lainnya.


 

Perubahan Tubuh Bukan Berarti Satwa “Aman” dari Perubahan Iklim

Kemampuan beradaptasi secara morfologis tidak berarti satwa pasti mampu mengimbangi perubahan iklim.

Pemanasan global juga menyebabkan perubahan musim, kekeringan, gelombang panas, perubahan ketersediaan makanan, perubahan habitat, serta perubahan waktu migrasi dan reproduksi.

Jika perubahan lingkungan berlangsung terlalu cepat, kemampuan adaptasi suatu spesies mungkin tidak cukup untuk mengimbanginya.

Karena itu, perubahan bentuk tubuh justru dapat menjadi salah satu tanda bahwa tekanan lingkungan sedang terjadi.


 

Nilai Ekologis Junco hyemalis

Junco hyemalis memiliki peran penting dalam ekosistem Amerika Utara.

Burung ini memakan berbagai jenis biji, buah kecil, dan serangga, sehingga berperan dalam mengatur populasi organisme kecil sekaligus membantu proses penyebaran biji.

Ketika mencari makanan di permukaan tanah, aktivitasnya juga dapat membantu memindahkan material organik dan berkontribusi terhadap dinamika ekosistem lantai hutan serta habitat terbuka.

Pada sisi lain, Junco hyemalis merupakan bagian dari rantai makanan. Telur, anak, dan individu dewasanya dapat menjadi sumber makanan bagi berbagai predator seperti burung pemangsa dan mamalia karnivor kecil.Yang tidak kalah penting, spesies ini dapat menjadi objek pemantauan perubahan lingkungan. Perubahan ukuran tubuh, ukuran paruh, pola migrasi, waktu berkembang biak, dan distribusi Junco hyemalis dapat memberikan informasi mengenai bagaimana perubahan kondisi lingkungan memengaruhi satwa.


 

Etimologi

Nama genus Junco berasal dari bahasa Latin iuncus, yang berarti “rumput terburu” atau rush, sejenis tumbuhan berbatang ramping yang tumbuh di habitat lembap. Nama tersebut diduga berkaitan dengan habitat atau perilaku burung yang sering berasosiasi dengan vegetasi rendah.

Nama spesifik hyemalis juga berasal dari bahasa Latin, dari hiemalis, yang berarti “berkaitan dengan musim dingin”.

Nama tersebut sangat sesuai dengan karakter burung ini karena Junco hyemalis terkenal sebagai burung yang banyak ditemukan di wilayah Amerika Utara selama musim dingin.

Sementara nama Inggris dark-eyed junco mengacu pada ciri matanya yang tampak gelap.


 

Klasifikasi & Taksonomi Junco hyemalis

Kerajaan : Animalia
 

Filum : Chordata

 

 Kelas : Aves


Ordo : Passeriformes
 

Famili : Passerellidae
 

Genus : Junco
 

Spesies : Junco hyemalis (Linnaeus, 1758)

Notes : Junco hyemalis merupakan salah satu anggota famili Passerellidae, kelompok burung pengicau yang mencakup berbagai jenis burung pipit Dunia Baru.Spesies ini memiliki banyak variasi warna dan bentuk geografis sehingga dahulu sejumlah bentuknya pernah diperlakukan sebagai spesies berbeda. Saat ini berbagai bentuk tersebut umumnya ditempatkan sebagai variasi atau subspesies dalam Junco hyemalis.Perubahan iklim ternyata dapat meninggalkan jejak pada tubuh satwa.

Paruh yang semakin besar, tubuh yang semakin kecil, hingga perubahan ukuran sayap menunjukkan bahwa hewan dapat merespons perubahan lingkungan melalui berbagai mekanisme. Namun, perubahan tersebut bukan berarti alam akan selalu mampu “menyesuaikan diri” dengan cepat. Bagi Junco hyemalis, perubahan ukuran paruh yang dikaitkan dengan kondisi suhu ekstrem menjadi salah satu contoh menarik bagaimana perubahan iklim dapat berhubungan dengan karakter fisik satwa. Tubuh satwa ternyata dapat menjadi “rekaman hidup” perubahan lingkungan. Dan semakin cepat iklim berubah, semakin penting bagi ilmuwan untuk membaca tanda-tanda tersebut.



 

Penulis : Dilla
 

Editor : Ali Setyaki
 

Foto by : Wikimedia Commons/Ken Thomas/

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.