Mengapa Karapas Penyu Sisik Pernah Menjadi Barang Mewah?

Mengapa Karapas Penyu Sisik Pernah Menjadi Barang Mewah?

Mengapa Karapas Penyu Sisik Pernah Menjadi Barang Mewah?

Reptil
Kamis, 03 September 2026
Dsn Mamalia
49 Views

3/September/2026 | REDAKSI PARAMIDSN



 

SURABAYA, Paramidsn.com — Dari lautan tropis hingga etalase perhiasan, karapas penyu sisik pernah menjadi bahan mewah bernilai tinggi. Namun di balik warna indah dan pola alaminya, terdapat kisah panjang eksploitasi salah satu penyu laut paling terancam di dunia.Bayangkan sebuah aksesori dengan warna cokelat madu, kuning keemasan, hingga semburat gelap yang tersusun seperti pola marmer. Dahulu, bahan seperti itu bukan sekadar ornamen biasa. Ia digunakan untuk membuat sisir, bingkai kacamata, kotak, perhiasan, aksesori, hingga berbagai benda dekoratif bernilai tinggi.

Material tersebut dikenal luas sebagai tortoiseshell atau dalam perdagangan Jepang dikenal sebagai bekko. Namun, ada sesuatu yang tidak terlihat dari benda cantik tersebut: sumber materialnya adalah karapas penyu sisik (Eretmochelys imbricata).


 

Bukan Sekadar “Cangkang Penyu”

Penyu sisik memiliki karapas yang tersusun atas kepingan keras yang disebut scutes. Kepingan ini kaya akan keratin, bahan yang juga menjadi penyusun rambut dan kuku manusia. Yang membuat penyu sisik sangat berharga dalam perdagangan historis adalah bentuk scutes pada karapasnya yang saling bertumpang tindih, menghasilkan pola alami yang khas. Pola tersebut dapat memiliki perpaduan warna cokelat, kuning, amber, dan gelap yang membuat setiap potongan tampak berbeda. Karena keindahan tersebut, scutes penyu sisik kemudian diolah menjadi berbagai benda bernilai ekonomi. Dalam perdagangan tortoiseshell, bukan seluruh cangkang yang menjadi material utama. Bagian yang paling banyak diperdagangkan adalah kepingan karapas dan sisik marginal. Kajian perdagangan historis menunjukkan bahwa satu ekor penyu sisik dapat menghasilkan ratusan gram material tortoiseshell yang dapat diproses menjadi berbagai produk.


 

Dari Penyu Menjadi Barang Mahal

Ketertarikan manusia terhadap material karapas penyu sisik sebenarnya telah berlangsung selama berabad-abad.

Di Jepang, material tersebut dikenal sebagai bekko dan berkembang menjadi bagian dari kerajinan tradisional. Bahan ini pernah digunakan untuk membuat berbagai benda, termasuk sisir, kotak, aksesori, serta bingkai kacamata. Popularitasnya kemudian meluas ke berbagai wilayah dunia. Pada abad ke-19, perdagangan tortoiseshell berkembang menjadi industri internasional yang besar.

Pada titik inilah keindahan biologis berubah menjadi persoalan konservasi.

Semakin tinggi permintaan terhadap material tersebut, semakin besar pula tekanan terhadap penyu sisik di alam.


 

Mengapa Pengambilannya kejam?

Berbeda dengan mengambil rambut atau kuku manusia yang dapat tumbuh kembali, scutes pada karapas penyu bukanlah bahan yang dapat dipanen begitu saja tanpa konsekuensi. Perdagangan tradisional tortoiseshell bergantung pada tubuh penyu yang dibunuh untuk memperoleh material karapasnya. Karena itu, seekor penyu tidak hanya kehilangan sebagian “cangkangnya”, tetapi menjadi sumber bahan mentah bagi industri kerajinan. Dengan kata lain, sebuah perhiasan tortoiseshell secara historis dapat merepresentasikan kematian seekor penyu sisik. Inilah yang membuat nilai estetika material tersebut menjadi paradoks: semakin indah dan berharga bagi manusia, semakin besar pula tekanan yang dapat diberikan terhadap satwanya.


 

Penyu Sisik, Spesialis Terumbu Karang

Penyu sisik bukan sekadar penghuni laut yang memiliki karapas indah.

Spesies ini sangat berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang, terutama ketika memasuki fase juvenil dan dewasa. Individu muda dan dewasa dapat memanfaatkan kawasan pesisir dan terumbu sebagai habitat mencari makan. Salah satu keunikan penyu sisik adalah pola makannya. Spesies ini dikenal banyak memakan spons laut, selain berbagai organisme lain yang tersedia di habitatnya. Aktivitas tersebut menjadikan penyu sisik bagian dari dinamika komunitas terumbu. Dengan memakan spons tertentu, penyu sisik dapat membantu memengaruhi kompetisi antara spons dan organisme lain yang hidup di terumbu. Artinya, hilangnya penyu sisik bukan hanya kehilangan satu jenis reptil laut. Ia juga berarti hilangnya salah satu komponen dalam jaringan ekologis terumbu karang.


 

Dari  Mewah Menjadi  Eksploitasi

Ironisnya, karakteristik biologis yang membuat penyu sisik begitu menarik justru menjadi salah satu sumber ancaman terbesar baginya. Karapas dengan pola unik menjadikan materialnya mudah dikenali dan memiliki nilai estetika tinggi. Dalam sejarah perdagangan, bagian tubuh penyu sisik bahkan menjadi komoditas yang diperdagangkan lintas wilayah. Sebuah penelitian mengenai sejarah perdagangan satwa laut memperkirakan bahwa jutaan penyu sisik telah dieksploitasi dalam perdagangan tortoiseshell selama periode perdagangan historis yang dikaji. Estimasi tersebut menunjukkan betapa besarnya skala eksploitasi terhadap spesies ini. Masalahnya bukan hanya jumlah penyu yang diambil. Penyu merupakan hewan dengan pertumbuhan relatif lambat dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kematangan seksual. Karena itu, eksploitasi terhadap individu dewasa dapat memberikan dampak besar terhadap kemampuan populasi untuk pulih.


 

Ketika Dunia Mulai Melindungi Penyu Sisik

Perubahan pandangan terhadap perdagangan satwa liar kemudian mendorong munculnya berbagai regulasi internasional. Penyu sisik telah masuk dalam Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasional komersialnya mendapat tingkat perlindungan yang sangat ketat. Spesies ini juga tercantum dalam Appendix I dan II Convention on Migratory Species (CMS) dan berstatus Critically Endangered menurut IUCN. Namun, larangan perdagangan internasional tidak otomatis menghapus permintaan. Sejarah perdagangan tortoiseshell menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan material tersebut telah tertanam dalam budaya kerajinan di sejumlah wilayah. Bahkan setelah perdagangan internasional dilarang, pasar domestik dan barang lama tetap dapat menjadi persoalan konservasi. Karena itu, perlindungan penyu sisik tidak cukup hanya dengan menyita barang ilegal.

Permintaan terhadap produknya juga harus dihentikan.


 

Karapas Indah, Bukan Untuk komersil

Saat ini, pola karapas penyu sisik mungkin masih terlihat pada benda-benda lama yang diwariskan, koleksi antik, atau produk yang dibuat sebelum berbagai larangan diberlakukan. Hal tersebut membuat identifikasi material menjadi penting.

Benda yang tampak seperti tortoiseshell belum tentu berasal dari penyu. Perkembangan teknologi material memungkinkan dibuatnya imitasi tortoiseshell menggunakan bahan sintetis tanpa harus mengambil bagian tubuh satwa.

Dengan demikian, keindahan pola tortoiseshell sebenarnya dapat dipertahankan tanpa mengorbankan penyu.


 

Etimologi & Nilai Ekologis 

Penyu sisik memiliki nilai ekologis penting bagi ekosistem laut, terutama terumbu karang.Sebagai pemakan spons dan organisme bentik lainnya, penyu sisik ikut memengaruhi struktur komunitas organisme di terumbu. Hubungannya dengan ekosistem terumbu membuat keberadaannya bukan sekadar persoalan mempertahankan satu spesies, tetapi juga menjaga interaksi biologis di habitat laut tropis. Selain itu, sebagai reptil laut yang bermigrasi antara berbagai habitat selama hidupnya, penyu sisik menghubungkan ekosistem laut terbuka, kawasan pesisir, padang lamun, dan terumbu karang dalam siklus hidupnya.

Karena itu, menjaga penyu sisik berarti mempertahankan salah satu bagian dari jaringan kehidupan laut tropis. Nama genus Eretmochelys berasal dari bahasa Yunani, dari eretmon yang berarti “dayung” atau “pendayung” dan chelys yang berarti “kura-kura/penyu”. Nama tersebut mengacu pada tungkai depan penyu yang telah berubah menjadi sirip dan berfungsi seperti dayung ketika berenang. Nama spesies imbricata berasal dari bahasa Latin imbricatus, yang bermakna bertumpang tindih seperti genteng. Nama tersebut merujuk pada scutes karapas penyu sisik yang tersusun saling menindih, salah satu ciri yang sangat khas dari spesies ini. Sementara itu, nama umum hawksbill merujuk pada bentuk paruh bagian atas yang panjang dan melengkung menyerupai paruh burung pemangsa.


 

Klasifikasi dan Taksonomi

Domain : Eukaryota

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Reptilia

Order : Testudines

Family : Cheloniidae

Genus : Eretmochelys

Species : Eretmochelys imbricata (Linnaeus, 1766)

Notes :  Dahulu, pola karapas penyu sisik dianggap sebagai simbol keindahan dan kemewahan. Kini, pola yang sama justru menjadi pengingat mengenai harga yang harus dibayar satwa liar ketika keindahan biologis berubah menjadi komoditas.

Penyu sisik tidak berevolusi untuk menjadi bahan perhiasan. Ia berevolusi untuk hidup di lautan, menjelajah kawasan tropis, mencari makan di antara terumbu, dan meneruskan generasinya. Karapas yang dahulu dianggap barang mewah seharusnya kini lebih dihargai ketika masih melekat pada penyu yang berenang bebas di laut.Taksonomi modern mengakui Eretmochelys imbricata sebagai satu spesies penyu sisik yang tersebar luas, sementara beberapa nama subspecies historis tidak lagi selalu diperlakukan sebagai takson yang sah. NCBI mencatat nama asli yang diberikan Linnaeus adalah Testudo imbricata pada 1766, sebelum spesies ini ditempatkan dalam genus Eretmochelys.



 

Penulis : Ali setyaki

Editor: Agung monche

Foto by : INaturalist | yodthekid

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.