Melintasi Samudra Hingga 18 ribu KM Capung Pengelana, Sang Pemegang Rekor Migrasi Terjauh di Dunia

Melintasi Samudra Hingga 18 ribu KM Capung Pengelana, Sang Pemegang Rekor Migrasi Terjauh di Dunia

Melintasi Samudra Hingga 18 ribu KM Capung Pengelana, Sang Pemegang Rekor Migrasi Terjauh di Dunia

Inverterbrata
Sabtu, 24 Januari 2026
Dsn Mamalia
38 Views

24/JANUARI/2026-22.00| Redaksi PARAMIDSN

 

Surabaya,Paramidsn.com- Siapa sangka, gelar pengembara terjauh di planet ini tidak jatuh pada burung besar atau mamalia laut, melainkan pada serangga mungil bernama Capung Pengelana (Pantala flavescens). Dalam sebuah perjalanan lintas generasi yang epik, capung ini mampu menempuh jarak antara 14.000 hingga 18.000 kilometer sebuah bentangan yang jauh lebih panjang daripada jarak dari Sabang sampai Merauke.


 

Kemampuan Unik 

Rahasia ketangguhan capung ini terletak pada adaptasi evolusioner sayapnya yang dirancang khusus untuk penerbangan jarak jauh. Berdasarkan riset isotop dan model energi, terungkap bahwa serangga ini adalah "pilot" yang sangat efisien. ​Mereka memanfaatkan angin muson sebagai tenaga pendorong tambahan untuk melakukan penerbangan non-stop sejauh 1.000 hingga 2.000 kilometer melintasi Samudra Hindia. Hebatnya lagi, mereka sanggup bertahan di udara selama 230 hingga 286 jam tanpa mendarat, menghubungkan ekosistem dua benua besar: Asia dan Afrika. Migrasi luar biasa ini bukan sekadar perjalanan tanpa tujuan. Pantala flavescens memainkan peran vital dalam keseimbangan ekologi regional. Selama perjalanannya, mereka berfungsi sebagai pengontrol populasi serangga lain dan menjadi bagian penting dari rantai makanan di berbagai wilayah yang mereka singgahi.


 

Ancaman Konservasi 

Namun, masa depan pengembara kecil ini kini berada di ujung tanduk. Para ilmuwan memperingatkan bahwa perjalanan epik , mereka terancam oleh tiga faktor utama:

1) Perubahan Iklim : Mengganggu pola angin musiman yang selama ini menjadi "bahan bakar" mereka di udara.

2) Polusi dan Degradasi Habitat: Merusak tempat-tempat persinggahan krusial untuk berkembang biak.

3) Gangguan Navigasi: Perubahan kondisi lingkungan yang ekstrem dapat mengacaukan insting navigasi alami yang telah mereka gunakan selama jutaan tahun. Jika siklus hidup ini terputus, dampak ekologisnya tidak hanya akan dirasakan oleh satu wilayah, tetapi di sepanjang jalur migrasi mereka yang membentang dari Asia hingga Afrika.


 

Penulis :Dila

Editor : Ali Maruf

Foto By :Inaturalist| alf_auerbach

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.