13/FEBRUARI/2026-20.00| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya,Paramidsn.com- Burung Kakaktua Pink (Lophochroa leadbeateri), yang sering dijuluki sebagai salah satu burung tercantik di dunia karena gradasi warna merah muda dan jambulnya yang spektakuler, kini menjadi pusat perhatian dunia konservasi dan budaya.
Bukan hanya karena keindahannya, namun burung ini baru saja melewati perubahan penting dalam identitas dan status perlindungannya.
Selama lebih dari satu abad, burung ini secara luas dikenal dengan nama Major Mitchell’s Cockatoo. Namun, dalam semangat rekonsiliasi budaya di Australia, banyak lembaga botani dan ornitologi kini mulai memprioritaskan nama asli dari bahasa pribumi (Aborigin), yaitu Galah-Galah atau Pink Cockatoo.
Langkah ini diambil untuk menghormati hubungan mendalam antara masyarakat adat dengan burung yang telah menghuni pedalaman Australia selama ribuan tahun tersebut.
Meskipun terlihat memukau di dahan-dahan pohon eukaliptus, populasi Kakaktua Pink sebenarnya sedang menghadapi tantangan besar. Para ahli satwa melaporkan beberapa ancaman utama:
-Kehilangan Habitat: Berkurangnya pohon-pohon tua yang memiliki lubang (sarang alami) membuat mereka sulit berkembang biak.
-Persaingan Ketat: Mereka harus berebut lubang sarang dengan spesies lain yang lebih agresif, seperti lebah madu dan burung Galah biasa.
-Perubahan Iklim: Suhu panas yang ekstrem di pedalaman Australia mulai mengancam kelangsungan hidup anak-anak burung di dalam sarang.
Kakaktua Pink dikenal sebagai burung yang setia; mereka biasanya membentuk pasangan monogami yang bertahan seumur hidup. Jambul mereka adalah fitur yang paling ikonik—saat sedang bersemangat atau merasa terancam, mereka akan menegakkan jambul yang memamerkan lapisan warna merah terang dan kuning yang kontras dengan bulu tubuh yang putih lembut.
Tahukah Anda? Kakaktua Pink memiliki rentang hidup yang sangat panjang. Di penangkaran, mereka diketahui bisa hidup hingga lebih dari 80 tahun, menjadikannya saksi hidup sejarah yang luar biasa.
Penulis :Dila
Editor : Ali Maruf
Foto By : Inaturalist