7 Oktober 2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Seekor ular yang tubuhnya hanya sekitar sebesar mi spaghetti ternyata mampu menghilang dari pantauan ilmuwan selama hampir dua dekade. Ular benang Barbados (Tetracheilostoma carlae) kembali ditemukan di Barbados pada Maret 2025, setelah selama bertahun-tahun tidak ada penampakan terkonfirmasi terhadap spesies yang dikenal sebagai salah satu ular terkecil di dunia tersebut. Penemuan kembali ini menjadi kabar penting bagi dunia konservasi. Pasalnya, Tetracheilostoma carlae sebelumnya telah dimasukkan Re:wild ke dalam daftar spesies yang “lost to science”, yaitu spesies yang tidak berhasil ditemukan kembali selama bertahun-tahun meskipun telah dilakukan pencarian.
Hanya sekitar 10 sentimeter
Ukuran Tetracheilostoma carlae menjadi salah satu alasan utama mengapa spesies ini sangat sulit ditemukan. Individu dewasa hanya memiliki panjang sekitar 8–10 cm, sementara beberapa sumber menyebut rata-rata panjangnya sekitar 10,4 cm. Tubuhnya sangat ramping, bahkan diameternya hanya sekitar ukuran mi spaghetti. Ular ini dapat dengan mudah disangka sebagai cacing. Perilakunya yang sangat tersembunyi semakin menyulitkan pengamatan di alam. Sebagai kelompok ular buta, threadsnake menghabiskan banyak waktu di lingkungan yang tersembunyi seperti tanah, serasah, serta bawah batu dan akar. Karena ukurannya yang sangat kecil dan sifatnya yang kriptik, menemukan seekor individu di habitat alaminya bukan perkara mudah.
Hampir 20 tahun tanpa kepastian
Sebelum ditemukan kembali, Tetracheilostoma carlae tidak memiliki catatan penampakan terkonfirmasi selama hampir 20 tahun. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa ular endemik Barbados ini mungkin telah mengalami kepunahan. Kekhawatiran tersebut semakin serius karena habitat hutan alami Barbados telah mengalami kehilangan yang sangat besar. Lebih dari 98% hutan asli Barbados telah hilang, menyisakan habitat yang jauh lebih terbatas dan terfragmentasi bagi berbagai spesies endemik. Namun, tidak ditemukannya seekor spesies selama bertahun-tahun tidak selalu berarti spesies tersebut benar-benar punah. Pada hewan berukuran sangat kecil dan memiliki perilaku kriptik seperti T. carlae, kemungkinan bahwa individu masih bertahan tetapi sulit dideteksi tetap harus dipertimbangkan.
Ditemukan secara tidak sengaja di bawah batu
Harapan itu akhirnya terbukti pada Maret 2025. Dalam survei ekologi yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Barbados bersama organisasi konservasi Re:wild, seorang peneliti menemukan seekor ular mungil di bawah batu di Barbados tengah. Penemuan tersebut terjadi setelah tim melakukan pencarian terhadap reptil endemik pulau tersebut. Penemunya, Connor Blades, menemukan hewan yang sangat kecil tersebut ketika membalik batu. Karena kemiripannya dengan ular buta lain yang lebih umum, identitasnya kemudian diperiksa secara lebih cermat.Spesimen tersebut dibawa untuk pemeriksaan mikroskopis. Setelah karakter morfologinya dibandingkan, para peneliti memastikan bahwa hewan tersebut memang Tetracheilostoma carlae. Dengan demikian, spesies yang selama hampir dua dekade tidak terlihat itu ternyata belum punah.
Kenapa sangat sulit ditemukan?
Ada beberapa alasan yang membuat T. carlae sangat mudah luput dari survei.
Pertama, tubuhnya sangat kecil. Panjangnya hanya sekitar 10 cm dan tubuhnya sangat tipis. Kedua, spesies ini memiliki perilaku yang sangat tersembunyi. Ia bukan ular yang biasa terlihat bergerak di permukaan terbuka.Ketiga, habitatnya semakin terbatas akibat perubahan lingkungan di Barbados.
Keempat, penampilannya dapat menyerupai ular buta Brahminy (Indotyphlops braminus), spesies lain yang terdapat di Barbados. Karena itu, identifikasi tidak selalu dapat dilakukan hanya dengan pengamatan sekilas dan membutuhkan pemeriksaan yang lebih teliti.
1x reproduksi menghasilkan 1 telur
Salah satu fakta paling luar biasa dari Tetracheilostoma carlae adalah strategi reproduksinya. Betina diketahui menghasilkan hanya satu telur dalam satu kali reproduksi. Telur tersebut berukuran sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh induknya. Anak yang menetas juga relatif besar dibandingkan ukuran tubuh induknya, dapat mencapai sekitar setengah panjang induk. Strategi ini menunjukkan salah satu konsekuensi evolusioner dari tubuh yang sangat kecil. Ketika ukuran tubuh mencapai batas ekstrem, jumlah telur yang dapat diproduksi menjadi sangat terbatas.
Karena hanya menghasilkan satu telur, kehilangan satu individu betina atau satu keberhasilan reproduksi dapat menjadi penting bagi populasi kecil yang hidup di habitat terbatas.
Bukan sekadar ular kecil
Penemuan kembali Tetracheilostoma carlae bukan hanya menarik karena ukurannya.
Kisah ini memberikan gambaran mengenai betapa banyaknya kehidupan yang masih dapat tersembunyi di lingkungan yang tampak sederhana. Seekor ular sepanjang sekitar 10 cm dapat bertahan di habitat yang sangat terbatas dan bahkan luput dari perhatian ilmuwan selama hampir dua dekade.
Lebih penting lagi, penemuan tersebut menjadi tanda bahwa label “hilang dari sains” tidak selalu berarti punah.
Tetapi penemuan kembali bukan berarti ancamannya telah berakhir. Spesies ini tetap menghadapi risiko serius akibat keterbatasan habitat, fragmentasi hutan, serta kecilnya informasi mengenai ukuran dan kondisi populasinya. Re:wild menyebut penemuan ini sebagai kesempatan untuk mempelajari lebih jauh spesies tersebut sekaligus mendorong perlindungan habitatnya.
Bagi konservasi, Tetracheilostoma carlae memberikan pesan sederhana tetapi penting: spesies yang sangat kecil tetap memiliki nilai ekologis yang besar, dan sesuatu yang tidak terlihat selama bertahun-tahun belum tentu telah benar-benar menghilang.
Etimologi & Nilai Ekologis
Nama genus Tetracheilostoma berasal dari unsur bahasa Yunani yang digunakan dalam pembentukan nama takson dan berkaitan dengan karakter morfologi mulut.
Epitet spesifik carlae diberikan untuk menghormati Carla Hass, yang terkait dengan material dan penelitian yang mendukung pengenalan spesies tersebut. Tetracheilostoma carlae merupakan bagian dari ekosistem mikro di dalam tanah dan serasah hutan. Ular benang diketahui memangsa organisme berukuran sangat kecil, terutama larva semut dan rayap, sehingga turut berperan sebagai predator dalam jaringan makanan bawah permukaan.
Nilai ekologis spesies ini juga berkaitan dengan statusnya sebagai endemik Barbados. Persebaran yang sangat terbatas membuat kondisi habitat lokal menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidupnya.
Dari perspektif konservasi, T. carlae merupakan contoh nyata bahwa spesies berukuran kecil dapat sangat rentan terhadap kehilangan habitat. Penemuan kembali pada Maret 2025 menunjukkan bahwa populasi yang tersisa masih mungkin bertahan di habitat yang sesuai, tetapi sekaligus memperlihatkan pentingnya mempertahankan fragmen hutan yang masih tersisa di Barbados.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Reptilia
Order: Squamata
Suborder: Serpentes
Infraorder: Scolecophidia
Family: Leptotyphlopidae
Genus: Tetracheilostoma
Species: Tetracheilostoma carlae
Notes: Tetracheilostoma carlae hanya menghasilkan satu telur besar dalam satu kali reproduksi, dan anak yang menetas memiliki ukuran relatif besar dibandingkan tubuh induknya. Penemuan kembali pada Maret 2025 merupakan rediscovery, bukan bukti bahwa populasinya telah pulih. Spesies ini masih memerlukan survei lanjutan untuk mengetahui jumlah populasi, persebaran aktual, keberhasilan reproduksi, dan kondisi habitatnya. Re:wild melaporkan penemuan tersebut setelah hampir 20 tahun tanpa dokumentasi.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto by : Leptotyphlops carlae on a US quarter.