15/JANUARI/2026 – 12.40 | Redaksi PARAMIDSN
Surabaya, Paramidsn.com – Nama Kebo Bule Kyai Slamet tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Jawa, khususnya di Kota Surakarta. Kerbau berwarna putih yang selalu berjalan paling depan dalam Kirab Malam 1 Suro ini bukan sekadar hewan peliharaan Keraton Kasunanan Surakarta, melainkan pusaka hidup yang telah menjadi simbol keselamatan, kebijaksanaan, serta penolak bala selama ratusan tahun.
Secara ilmiah, kerbau domestik dikenal sebagai Bubalus arnee f. bubalis dengan nama Inggris Domestic Water Buffalo. Berdasarkan informasi yang dirujuk dari BioLib, kerbau domestik merupakan hasil domestikasi manusia sehingga tidak diperlakukan sebagai spesies liar tersendiri dalam genus Bubalus, melainkan bentuk domestik dari kerbau air liar.
Asal-usul Kebo Bule Kyai Slamet
Legenda menyebutkan bahwa Kebo Bule merupakan hadiah dari Kyai Hasan Besari, Bupati Ponorogo, kepada Sri Susuhunan Paku Buwono II. Kerbau tersebut dipercaya bertugas mengawal pusaka Keraton berupa tombak Kyai Slamet, sehingga masyarakat kemudian lebih mengenalnya dengan nama
Kebo Bule Kyai Slamet.
Ketika Keraton Kartasura dipindahkan ke lokasi Keraton Surakarta saat ini, kerbau tersebut dilepas. Menurut kisah yang diwariskan turun-temurun, kerbau itu berhenti tepat di lokasi berdirinya Keraton Surakarta. Peristiwa tersebut dipercaya sebagai pertanda baik sehingga keturunannya terus dipelihara hingga sekarang sebagai pusaka hidup Keraton Kasunanan Surakarta.
Mengapa Berwarna Putih?
Banyak masyarakat menganggap Kebo Bule sebagai jenis kerbau tersendiri. Padahal, warna putih tersebut umumnya disebabkan oleh kelainan genetik berupa albinisme, yaitu kondisi ketika tu.buh kekurangan pigmen melanin.
Kerbau albino memiliki ciri khas berupa:
Tubuh berwarna putih.
Kulit berwarna merah muda.
Mata tampak merah muda atau kemerahan karena minimnya pigmen.
Kondisi ini sangat jarang ditemukan di alam sehingga keberadaannya menjadi sangat istimewa.
Peran dalam Kirab Malam 1 Suro
Dalam tradisi Keraton Surakarta, Kebo Bule selalu berada di posisi paling depan sebagai cucuk lampah atau pemimpin iring-iringan kirab. Masyarakat Jawa meyakini bahwa Kebo Bule merupakan simbol:
Keselamatan.
Penolak bala.
Penjaga pusaka Keraton.
Lambang kerendahan hati dan rakyat kecil.
Pengingat agar pemimpin selalu berlaku bijaksana. Sebelum kirab berlangsung, kerbau biasanya dimandikan menggunakan air bunga dan mendapat perlakuan khusus sebagai bagian dari rangkaian ritual adat.
Jumlah Kebo Bule Terus Bertambah
Populasi keturunan Kebo Bule Kyai Slamet terus dipelihara oleh Keraton.
Dalam beberapa tahun terakhir jumlah yang mengikuti kirab antara lain:
Tahun 2019 mencapai sekitar 19 ekor.
Tahun 2023 terlihat sekitar 6 ekor.
Tahun 2024 sekitar 7 ekor ikut mengawal Kirab Malam 1 Suro.
Keberadaan mereka selalu menjadi daya tarik utama yang dinantikan ribuan masyarakat dan wisatawan setiap memasuki Tahun Baru Jawa.
Etimologi & Nilai Ekologis
Nama genus Bubalus berasal dari bahasa Yunani boubalos, yang berarti kerbau atau sapi liar besar. Sementara nama spesies arnee berasal dari kata lokal di India yang merujuk pada kerbau liar Asia. Istilah bubalis berasal dari bahasa Latin yang juga berarti "kerbau". Adapun nama Kyai Slamet berasal dari kata Jawa slamet yang berarti selamat, aman, tenteram, dan terhindar dari segala mara bahaya. Walaupun merupakan hewan domestik, kerbau air memiliki peranan ekologis yang cukup penting. Aktivitas berkubang membantu menciptakan kubangan yang menjadi habitat bagi berbagai serangga, amfibi, hingga burung air. Kerbau juga membantu menyebarkan biji tumbuhan melalui kotorannya serta menjaga padang rumput tetap terbuka melalui aktivitas merumput. Di sektor pertanian tradisional, kerbau telah lama menjadi tenaga pengolah sawah yang ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap mesin berbahan bakar fosil.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Subfamili : Bovinae
Tribus : Bovini
Genus : Bubalus
Spesies liar : Bubalus arnee
Bentuk domestik : Bubalus arnee f. bubalis (sering juga ditulis Bubalus bubalis dalam banyak literatur modern)
Notes : Kebo Bule Kyai Slamet bukanlah spesies khusus, melainkan kerbau domestik yang mengalami albinisme sehingga seluruh tubuhnya tampak putih.
Banyak masyarakat mengikuti jalur yang dilewati Kebo Bule saat Kirab Malam 1 Suro karena dipercaya membawa berkah dan keselamatan. Dalam tradisi Keraton Surakarta, Kebo Bule diperlakukan layaknya pusaka hidup dan mendapat perawatan khusus sepanjang tahun. Albino berbeda dengan leucistic. Hewan albino memiliki mata kemerahan akibat tidak adanya pigmen melanin, sedangkan hewan leucistic umumnya tetap memiliki mata berwarna normal. Kebo Bule Kyai Slamet telah menjadi salah satu ikon budaya paling terkenal di Kota Solo dan menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia.
Peran PARAMI dalam Kamussatwa
Kami telah merangkum semua Speciea & Subspesies dsri bubalus bubalus baik dari sisi xbread dan subspesies yg telah di Domestikasi oleh karena itu kami akan menaruh informasi komplit dari subspesies yg barusan kita bahas di atas .
Link kamus satwa :
https://paramidsn.com/edukasi/read/bubalus-arnee-spp-f-bubalis-domestic-water-buffalo
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (perpusnas.go.id)