25/MEI/2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Jika Anda mengira suara kodok di kolam belakang rumah sudah cukup mengganggu tidur, mungkin Anda belum pernah mendengar suara "paduan suara" dari Katak Natterjack (Epidalea calamita). Spesies amfibi unik ini bukan sekadar kodok biasa; mereka memegang predikat sebagai salah satu hewan dengan panggilan suara paling keras dan paling intens di dunia amfibi.
Panggilan yang Mengguncang Malam
Katak Natterjack memiliki karakteristik suara yang sangat berbeda dari katak pada umumnya. Jika katak lain mengeluarkan suara "koak" yang bersahutan, jantan Natterjack menghasilkan serangkaian suara mekanis yang berirama, tajam, dan sangat keras. Suara ini dihasilkan melalui kantung suara yang besar di bawah tenggorokannya, yang saat menggembung, berfungsi seperti pengeras suara alami. Dalam kondisi ideal, suara panggilan kawin mereka dapat terdengar hingga jarak 1,5 kilometer. Bayangkan seekor makhluk berukuran kurang dari 10 sentimeter mampu memecah kesunyian malam dengan decibel yang mampu menyaingi kebisingan lingkungan perkotaan.
Mengapa Mereka Begitu Berisik?
Ternyata, "kebisingan" ini memiliki tujuan krusial. Katak Natterjack sering hidup di habitat kolam-kolam kecil yang sementara (ephemeral) yang mudah kering. Karena waktu hidup mereka di air terbatas sebelum kolam tersebut menguap, para pejantan harus bersaing ketat untuk menarik perhatian betina secepat mungkin.
"Mereka tidak punya waktu untuk santai. Kompetisi antar pejantan sangat tinggi, dan satu-satunya cara untuk memastikan betina datang ke kolam mereka adalah dengan menjadi yang paling nyaring dan gigih," ujar seorang pakar herpetologi.
Fakta Unik di Balik Tubuh Kecilnya
Selain suaranya yang legendaris, Katak Natterjack memiliki beberapa fakta unik yang membuat mereka istimewa:
Pelari, Bukan Pelompat: Berbeda dengan kebanyakan katak yang mahir melompat jauh, Natterjack lebih suka berjalan atau berlari cepat di tanah dengan kaki pendeknya yang kekar.
Garis Kuning Ikonik: Mereka mudah dikenali dari garis vertikal berwarna kuning cerah di punggungnya.
Adaptasi Gurun: Mereka mampu bertahan hidup di lingkungan berpasir dan kering di sepanjang pesisir pantai atau lahan terbuka, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki amfibi lain.
Ancaman di Balik Suara Nyaring
Sayangnya, meski suaranya sangat dominan, populasi Katak Natterjack kini tengah menghadapi tantangan serius. Perubahan habitat, drainase lahan basah, dan polusi lingkungan telah membuat populasi mereka menyusut di banyak wilayah Eropa.
Upaya konservasi kini gencar dilakukan, mulai dari pembuatan "kolam buatan" hingga perlindungan area pesisir, agar konser malam hari si "penyanyi paling berisik" ini tidak menghilang dari alam liar.
Apakah Anda penasaran bagaimana rasanya berada di dekat kolam yang dipenuhi oleh ribuan Katak Natterjack yang sedang bernyanyi serempak?
Klasifikasi dan taksonomi
Berikut adalah klasifikasi dan taksonomi lengkap dari Katak Natterjack (Epidalea calamita) yang disusun secara menurun dari tingkatan tertinggi hingga spesies:
Klasifikasi Ilmiah Katak Natterjack
Kingdom (Kerajaan): Animalia
Phylum (Filum): Chordata
Class (Kelas): Amphibia
Order (Ordo): Anura
Family (Famili): Bufonidae
Genus (Marga): Epidalea
Species (Spesies): Epidalea calamita
Notes : Sebagai informasi tambahan, Epidalea calamita adalah satu-satunya spesies dalam genus Epidalea. Sebelumnya, kodok ini sempat diklasifikasikan ke dalam genus Bufo, namun para ilmuwan kemudian memisahkannya ke dalam genus tersendiri karena perbedaan karakteristik genetik dan perilaku yang cukup spesifik dibandingkan dengan kodok sejati lainnya.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto by : Inaturalist | braniegoasturcones