6/ AGUSTUS/2026| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya,Paramidsn.com Selama ribuan tahun, manusia telah mengandalkan seekor makhluk tangguh untuk melintasi lautan pasir yang tak berujung. Dijuluki sebagai "Kapal Padang Pasir", Unta (Camelus) bukan sekadar hewan tunggangan. Mereka adalah mesin biologis yang dirancang khusus untuk bertahan hidup di salah satu lingkungan paling ekstrem di Bumi. Namun, mengapa julukan "Kapal" melekat pada mereka? Jawabannya bukan hanya karena fungsi mereka sebagai pengangkut, melainkan juga karena cara mereka berjalan yang unik dan kemampuan navigasi yang luar biasa di tengah badai pasir.
Effect Mabuk Laut saat menaiki Unta
Unta adalah hewan liar yang telah Sebelum truk dan pesawat pengangkut dijinakkan sejak ratusan tahun yang lalu, ditemukan, unta digunakan untuk mengangkut barang-barang berat melintasi padang pasir, tempat bukit-bukit pasir menyerupai gelombang lautan. Unta juga digunakan sebagai hewan tunggangan dan cara mereka berjalan menimbulkan guncangan seperti sebuah perahu di laut yang berombak-sehingga membuat penunggangnya sering kali mengalami "mabuk laut". Meski telah dijinakkan, unta masih memiliki sifat liar dan dikenal sangat mudah marah serta perilakunya tidak mudah ditebak. Mereka bisa saja tiba-tiba menggigit atau menendang siapa pun yang mengganggu atau meludahkan cairan berbau tidak enak. Ketika malam tiba, pemilik unta biasanya akan mengikat kedua kaki hewan itu agar tidak melarikan diri kembali ke alam bebas.
Navigasi dan Adaptasi: Teknologi Alami di Balik Julukan
Sebutan "Kapal" berasal dari cara berjalan unta yang disebut pacing. Berbeda dengan kuda, unta menggerakkan kedua kaki di satu sisi tubuh secara bersamaan. Hal ini menciptakan gerakan goyang ke samping yang mirip dengan kapal yang sedang terombang-ambing di lautan.
Selain itu, unta memiliki "jangkar" berupa telapak kaki yang lebar dan empuk. Saat menginjak pasir, kaki mereka melebar untuk mencegah mereka tenggelam—persis seperti cara kerja kapal di atas air.
Punuk: Bukan Tangki Air, Tapi 'Bahan Bakar'
Namun, salah satu anggapan yang paling sering disalahpahami adalah bahwa punuk unta menyimpan air. Faktanya, punuk berisi cadangan lemak, bukan air. Lemak tersebut akan diubah menjadi energi ketika makanan sulit ditemukan, sekaligus membantu unta bertahan hidup dalam kondisi ekstrem. Sementara itu, kemampuan menghemat air berasal dari berbagai adaptasi fisiologis, seperti produksi urin yang sangat pekat, keringat yang minimal, serta sel darah merah berbentuk oval yang tetap berfungsi baik saat tubuh mengalami dehidrasi.
Telapak kaki & ketahanan Suhu
Selain punuknya yang khas, unta memiliki telapak kaki yang sangat lebar dan empuk sehingga tidak mudah tenggelam di pasir. Bulu mata yang panjang, lubang hidung yang dapat menutup sebagian, serta telinga berbulu melindunginya dari badai pasir yang ganas. Adaptasi tersebut membuat unta mampu berjalan puluhan kilometer di bawah suhu gurun yang dapat melebihi 45°C.
Tidak hanya itu, unta juga mampu meminum air dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat setelah mengalami dehidrasi. Tubuhnya dirancang untuk mentoleransi kehilangan cairan dalam jumlah yang tidak dapat ditahan oleh sebagian besar mamalia lain, sehingga menjadikannya spesies yang sangat sesuai dengan kehidupan di wilayah gurun Afrika dan Asia.
Etimologi & Nilai Ekologis
Nama genus Camelus berasal dari bahasa Latin yang diserap dari bahasa Yunani kamēlos (κάμηλος), yang berarti unta. Kata tersebut diyakini berasal dari bahasa Semitik kuno, yang juga menjadi asal kata Arab jamal, sebutan untuk unta yang masih digunakan hingga sekarang. Nama spesies dromedarius berasal dari bahasa Yunani dromas, yang berarti pelari atau yang berlari cepat, mengacu pada kemampuan unta berpunuk satu bergerak cepat melintasi padang pasir. Di habitat alaminya, unta memiliki peran ekologis yang penting sebagai herbivora besar. Hewan ini membantu mengendalikan pertumbuhan vegetasi gurun melalui aktivitas merumput dan memakan semak-semak berduri yang jarang disentuh herbivora lain. Kotorannya menjadi sumber nutrisi bagi tanah yang miskin unsur hara sekaligus dimanfaatkan oleh berbagai serangga pengurai. Selain itu, unta juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan melalui fesesnya, sehingga membantu regenerasi vegetasi di lingkungan gurun yang keras. Kehadirannya turut mendukung keseimbangan ekosistem gurun yang tampak tandus, tetapi sebenarnya menyimpan keanekaragaman hayati yang unik.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Camelidae
Genus: Camelus
spesies: Camelus dromedarius (unta berpunuk satu)
Notes : Secara umum terdapat dua spesies unta yang masih hidup hingga saat ini, yaitu unta berpunuk satu (Camelus dromedarius) yang mendominasi kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah, serta unta berpunuk dua (Camelus bactrianus) yang hidup di Asia Tengah dengan iklim gurun yang lebih dingin. Selain itu, masih terdapat unta Baktria liar (Camelus ferus) yang berstatus sangat terancam punah.
Penulis: Agung Widodo
Editor : Ali Maruf
Foto By: Inaturalist | yuriysk