Kadal yang mengeluarkan darah dari mata nya

Kadal yang mengeluarkan darah dari mata nya

Kadal yang mengeluarkan darah dari mata nya

Reptil
Selasa, 11 Agustus 2026
Dsn Mamalia
41 Views

11/AGUSTUS/2026 | REDAKSI PARAMIDSN



 

Surabaya, PARAMIDSN.com – Alam selalu memiliki cara yang tidak biasa untuk membuat satwa bertahan hidup. Salah satunya dilakukan oleh kelompok kadal bertanduk dari genus Phrynosoma. Reptil yang hidup di Amerika Utara dan sebagian Amerika Tengah ini memiliki mekanisme pertahanan yang terdengar seperti adegan film horor: menyemprotkan darah dari area matanya ketika merasa terancam.

Kemampuan tersebut dikenal sebagai ocular autohemorrhaging atau pendarahan otomatis pada area mata. Darah bukan keluar karena kadal mengalami luka biasa, melainkan merupakan bagian dari strategi pertahanan yang telah berkembang secara alami.


 

Bukan Darah dari Bola Mata

Meski sering disebut “menembakkan darah dari mata”, mekanismenya sedikit lebih rumit. Ketika menghadapi predator tertentu, kadal bertanduk dapat meningkatkan tekanan darah pada bagian kepala. Tekanan tersebut menyebabkan pembuluh darah kecil di sekitar sinus mata pecah sehingga darah terdorong keluar dengan tekanan tertentu. Pada beberapa kondisi, semburan tersebut dapat mencapai sekitar satu meter atau lebih. National Park Service mencatat kemampuan Phrynosoma hernandesi menyemprotkan darah hingga sekitar 3 kaki atau 0,9 meter. Yang lebih menarik, strategi ini bukan sekadar membuat predator kaget. Darah plasma kadal bertanduk diketahui memiliki komponen kimia yang dapat menghasilkan respons jijik pada sejumlah predator mamalia, terutama kelompok canid seperti anjing dan koyote. Penelitian yang diterbitkan pada 2024 bahkan menelusuri hubungan komponen tersebut dengan makanan utama kadal yang berupa semut.


 

Senjata Darurat Saat Kamuflase Gagal

Kadal bertanduk sebenarnya tidak langsung menggunakan darah sebagai pertahanan pertama. Tubuhnya yang pipih, warna menyerupai lingkungan dan duri-duri di kepala serta punggung membantu membuatnya sulit dikenali. Jika terancam, beberapa spesies juga dapat mengembangkan tubuhnya sehingga terlihat lebih besar dan sulit ditelan predator.

Jika berbagai strategi tersebut tidak cukup, barulah mekanisme penyemprotan darah dapat menjadi “senjata terakhir”.Menariknya, kemampuan menyemprotkan darah tidak dimiliki secara sama oleh seluruh anggota genus Phrynosoma. Penelitian mengenai variasi perilaku tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian spesies yang diketahui memiliki kemampuan ini, sehingga mekanisme pertahanan tersebut memiliki variasi antargenus maupun antarspesies.


 

Pemakan Semut yang Sangat Terspesialisasi

Di balik penampilannya yang menyeramkan, kadal bertanduk justru memiliki pola makan yang cukup unik. Banyak anggota Phrynosoma sangat bergantung pada semut dan dikenal sebagai pemakan semut atau myrmecophagous. Kebiasaan tersebut bahkan diduga berkaitan dengan senjata kimia dalam darahnya. Studi tahun 2024 menemukan hubungan antara komponen aktif dalam plasma dan konsumsi semut dari genus Pogonomyrmex. Artinya, apa yang dimakan kadal tersebut kemungkinan turut berperan dalam efektivitas pertahanannya terhadap predator tertentu.

Dengan kata lain, makanan dan sistem pertahanan kadal ini memiliki hubungan ekologis yang sangat menarik.


 

Bukan “Kadal Vampir”

Fenomena tersebut tentu membuat kadal bertanduk terlihat seperti hewan fantasi. Namun, kadal ini bukan hewan beracun dalam pengertian umum dan tidak menyemprotkan darah secara sembarangan.

Perilaku tersebut merupakan respons pertahanan terhadap ancaman tertentu. Efektivitasnya juga tidak sama terhadap semua predator. Penelitian menunjukkan bahwa respons terhadap semburan darah berbeda-beda tergantung jenis predator yang dihadapi. Kemampuan ini memperlihatkan bagaimana evolusi dapat menghasilkan solusi pertahanan yang sangat spesifik. Alih-alih berlari cepat, kadal bertanduk mengandalkan kamuflase, duri, perubahan postur tubuh, dan dalam kondisi tertentu bahkan menggunakan darahnya sendiri untuk membuat predator mundur.


 

Etimologi

Nama genus Phrynosoma berasal dari bahasa Yunani. Phrynos merujuk pada “katak” atau hewan yang menyerupai katak, sedangkan soma berarti “tubuh”. Nama tersebut menggambarkan bentuk tubuh kadal yang pendek, lebar dan pipih sehingga sekilas menyerupai katak atau kodok.

Karena bentuk tersebut, beberapa spesies Phrynosoma juga mendapatkan nama umum seperti horned toad atau “kodok bertanduk”, meskipun secara ilmiah mereka merupakan reptil dan sama sekali bukan katak maupun kodok.


 

Nilai Ekologis

Kadal bertanduk memiliki peran penting dalam ekosistem daerah kering dan semi-kering Amerika Utara. Sebagai pemakan semut dan berbagai serangga kecil, mereka menjadi salah satu bagian dari pengendalian alami populasi arthropoda.

Pada saat yang sama, kadal ini merupakan mangsa bagi berbagai predator, termasuk burung pemangsa, ular dan mamalia karnivor. Dengan demikian, keberadaannya ikut menghubungkan tingkat trofik bawah dengan predator di atasnya.

Ketergantungannya pada semut juga membuat keberadaan Phrynosoma berkaitan erat dengan kondisi habitat dan ketersediaan sumber makanan. Gangguan habitat, perubahan lingkungan serta berkurangnya populasi serangga dapat memberikan tekanan terhadap keberlangsungan populasinya.



 

Klasifikasi dan Taksonomi

Kingdom : Animalia
 

Filum : Chordata
 

Kelas : Reptilia
 

Ordo : Squamata
 

Famili : Phrynosomatidae
 

Genus : Phrynosoma

Species : Phrynosoma hernandesi

Notes : Genus Phrynosoma dikenal sebagai kelompok kadal bertanduk atau horned lizards. Kajian taksonomi molekuler yang diterbitkan pada 2021 mengakui 12 spesies dalam genus ini, termasuk Phrynosoma hernandesi, P. cornutum, P. solare, P. platyrhinos, dan sejumlah spesies lainnya.

Salah satu spesies yang terkenal dengan kemampuan menyemprotkan darah adalah Greater Short-horned Lizard (Phrynosoma hernandesi). Namun, kemampuan tersebut bukan monopoli satu spesies saja dan telah dilaporkan pada beberapa anggota genus Phrynosoma. Kadal bertanduk menunjukkan bahwa dalam dunia satwa, pertahanan hidup tidak selalu harus berupa cakar, taring atau racun. Pada beberapa reptil, bahkan darah dari tubuh sendiri dapat berubah menjadi senjata evolusioner yang mengejutkan.



 

Penulis : Ali Setyaki

Editor : Agung Monche

Foto by : INaturalist | cbarrows

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.