10/SEPTEMBER/2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, PARAMIDSN — Hutan Cangar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Jawa Timur, pernah menjadi rumah bagi sedikitnya 80 ekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang terbagi dalam 11 kelompok. Temuan tersebut merupakan hasil penelitian ProFauna Indonesia bersama Balai Tahura R. Soerjo pada Juli hingga November 2010. Lebih dari satu dekade berlalu, pertanyaan menarik kemudian muncul: apakah lutung jawa masih bertahan di kawasan hutan Cangar hingga sekarang?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik karena kawasan Cangar dan pegunungan di sekitarnya masih merupakan bagian dari bentang alam hutan pegunungan yang penting bagi keanekaragaman hayati Jawa Timur.
80 Lutung Jawa dalam 11 Kelompok
Penelitian ProFauna pada 2010 mencatat sekitar 80 individu lutung jawa di kawasan hutan sekitar Cangar. Satwa tersebut ditemukan dalam 11 kelompok yang tersebar pada sejumlah lokasi, termasuk kawasan Coban Watu Ondo, Coban Teyeng, air panas Cangar, Kebun Brawijaya, hutan sekitar Goa Jepang, serta jalur menuju Gunung Anjasmoro. Konsentrasi lutung paling banyak ditemukan di sekitar Coban Watu Ondo dan Coban Teyeng. Sementara itu, penelitian tersebut tidak menemukan lutung pada jalur menuju Gunung Anjasmoro. Data ini penting karena menunjukkan bahwa keberadaan lutung bukan sekadar catatan kemunculan individu tunggal. Pada saat penelitian dilakukan, Cangar diketahui masih mendukung keberadaan beberapa kelompok lutung yang menggunakan kawasan hutan sebagai habitatnya. Namun, angka 80 ekor merupakan hasil survei tahun 2010, sehingga angka tersebut tidak dapat digunakan sebagai perkiraan populasi Cangar pada 2026 tanpa survei terbaru.
Hutan Cangar dan Pohon-Pohon yang Menopang Kehidupan Lutung
Penelitian tersebut juga mencatat kondisi vegetasi habitat lutung jawa. Pohon kukrup (Engelhardia spicata) menjadi salah satu jenis pohon yang dominan, dengan proporsi sekitar 60–70 persen pada habitat yang diamati. Selain kukrup, beberapa jenis pohon yang tercatat antara lain anggrung (Trema orientalis), santenan (Euodia latifolia), rasamala (Altingia excelsa), gondang (Ficus variegata) dan elo (Ficus racemosa).
Komposisi vegetasi seperti ini sangat penting bagi primata pemakan daun. Lutung jawa memanfaatkan berbagai bagian tumbuhan sebagai sumber makanan, terutama daun, tetapi juga dapat mengonsumsi buah, bunga, dan bagian tumbuhan lainnya. Penelitian mengenai ekologi lutung jawa di Jawa juga menunjukkan bahwa jenis tumbuhan penyedia makanan dan struktur tajuk menjadi faktor penting yang memengaruhi keberadaan satwa ini di suatu kawasan hutan.
Pernah Terlihat Pendakian, Bukti Lutung Masih Ada?
Keberadaan lutung jawa di kawasan pegunungan sekitar Cangar juga menarik dari sisi pengamatan lapangan.
Pengamatan langsung terhadap kawanan lutung saat melakukan pendakian di Gunung Pundak, misalnya, dapat menjadi informasi observasi yang menarik untuk dicatat. Namun, secara ilmiah, pengalaman tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai observasi lapangan pribadi, bukan sebagai hasil sensus populasi. Artinya, penampakan kawanan dapat menjadi indikasi bahwa lutung masih menggunakan kawasan hutan pegunungan di bentang alam tersebut, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan jumlah populasi atau memastikan bahwa kelompok yang terlihat merupakan bagian dari 11 kelompok yang dicatat ProFauna pada 2010. Untuk mengetahui kondisi populasi saat ini diperlukan survei sistematis dengan metode yang dapat dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
Lutung Jawa, Primata Asli Pulau Jawa
Lutung jawa atau Javan langur merupakan primata dari keluarga Cercopithecidae. Basis data Mammal Diversity Database saat ini menerima Trachypithecus auratus sebagai nama spesies yang valid dan mencatat persebarannya di Jawa, Bali, dan Lombok. Status konservasinya adalah Vulnerable atau Rentan menurut IUCN. Secara umum, lutung jawa merupakan primata arboreal yang sangat berkaitan dengan habitat berhutan. Spesies ini dapat ditemukan pada berbagai tipe hutan, termasuk hutan pegunungan, dan catatan ekologis menunjukkan keberadaannya dapat mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter. Dengan demikian, keberadaan lutung di kawasan pegunungan seperti Cangar bukan sesuatu yang aneh secara ekologis. Justru, kawasan hutan pegunungan menjadi bagian penting dari habitatnya.
Lutung Sebagai Indikator Ekosistem Hutan
Keberadaan lutung jawa memiliki nilai ekologis yang lebih besar daripada sekadar daya tarik wisata. Sebagai primata pemakan tumbuhan, lutung berperan dalam jaring-jaring makanan hutan. Aktivitas makannya membuat satwa ini berinteraksi langsung dengan vegetasi, sementara perpindahannya di dalam hutan juga dapat membantu proses penyebaran biji dari tumbuhan yang dikonsumsinya. Pada saat yang sama, keberadaan populasi lutung dalam suatu kawasan dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa habitat tersebut masih menyediakan tutupan hutan, pohon pakan, serta struktur vegetasi yang dibutuhkan primata arboreal. Namun, lutung tidak seharusnya digunakan sebagai satu-satunya indikator kesehatan hutan. Kondisi ekosistem harus dinilai melalui berbagai komponen, termasuk vegetasi, kualitas habitat, satwa lain, ketersediaan air, serta tingkat gangguan manusia.
Tahura Raden Soerjo, Benteng Hutan Jawa Timur
Kawasan Tahura Raden Soerjo memiliki arti penting bagi konservasi karena menjadi salah satu kawasan hutan pegunungan yang mempertahankan habitat bagi beragam jenis satwa dan tumbuhan.
Dalam penelitian aktivis tahun 2010, kawasan tersebut juga dilaporkan memiliki keanekaragaman burung yang tinggi, termasuk elang jawa (Nisaetus bartelsi), serta memiliki fungsi hidrologis penting dengan keberadaan banyak mata air.
Karena itu, keberadaan lutung jawa tidak dapat dipisahkan dari kondisi keseluruhan hutan. Jika tutupan hutan terjaga, pohon pakan tetap tersedia, dan tekanan seperti perburuan serta gangguan habitat dapat ditekan, maka peluang bagi populasi lutung untuk bertahan juga menjadi lebih besar.
Jadi, Apakah Lutung Jawa Masih Eksis di Hutan Cangar?
Sangat mungkin kawasan Cangar dan bentang alam pegunungan di sekitarnya masih digunakan oleh lutung jawa, tetapi data 80 ekor dari 2010 tidak boleh dianggap sebagai jumlah populasi terkini. Catatan penelitian lama membuktikan bahwa Cangar pernah menjadi habitat penting bagi sedikitnya 80 lutung dalam 11 kelompok. Sementara itu, penampakan kawanan di kawasan pegunungan sekitar Cangar dapat menjadi informasi lapangan yang menarik dan layak didokumentasikan.
Etimologi & Nilai Ekologis
Nama genus Trachypithecus berasal dari akar bahasa Yunani yang berkaitan dengan makna “kera yang kasar/bertekstur”, merujuk pada karakter rambut atau peliputan tubuh dalam penamaan takson tersebut. Epitet spesifik auratus berasal dari bahasa Latin auratus, yang berarti “berwarna keemasan” atau “disepuh emas”.
Nama tersebut berkaitan dengan variasi warna tubuh yang dapat dijumpai pada lutung jawa. Selain morf hitam, spesies ini dikenal memiliki bentuk dengan rona kecokelatan hingga kemerahan pada bagian tertentu tubuh. Lutung jawa merupakan bagian penting dari ekosistem hutan Jawa. Sebagai primata arboreal dan pemakan tumbuhan, spesies ini berinteraksi erat dengan komunitas vegetasi.
Klasifikasi dan Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Subphylum: Vertebrata
Class: Mammalia
Order: Primates
Suborder: Haplorhini
Infraorder: Simiiformes
Parvorder: Catarrhini
Superfamily: Cercopithecoidea
Family: Cercopithecidae
Subfamily: Colobinae
Tribe: Presbytini
Genus: Trachypithecus
Species: Trachypithecus auratus
Notes:Mammal Diversity Database menempatkan Trachypithecus auratus sebagai spesies yang masih hidup dan diterima secara taksonomis, dengan nama umum East Javan Langur, Javan Langur, Ebony Leaf Monkey, atau Javan Lutung. Nama awal yang digunakan ketika spesies ini dideskripsikan adalah Cercopithecus auratus. Mereka membantu mempertahankan hubungan ekologis antara primata dan vegetasi hutan; berpotensi membantu penyebaran biji tumbuhan melalui aktivitas makan dan pergerakannya; menjadi bagian dari rantai makanan hutan; menjadi salah satu satwa yang dapat digunakan dalam pemantauan perubahan kondisi habitat; menunjukkan pentingnya mempertahankan hutan dengan struktur tajuk dan tumbuhan pakan yang beragam. Penelitian ekologis di Jawa menunjukkan bahwa lutung memanfaatkan beragam tumbuhan sebagai sumber makanan dan menggunakan beberapa lapisan tajuk hutan ketika mencari makan.
Status Konservasi
IUCN Red List: Vulnerable atau Rentan.
CITES: Appendix II.
Status: Satwa liar yang masih hidup dan tersebar di Jawa, Bali, serta Lombok.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Adi Mikayasa
Foto by : peterbijlmakers