2/JULI /2026 | REDAKSI PARAMIDSN
Surabaya, PARAMIDSN.com – Di balik derasnya aliran Sungai Brantas, hidup seekor ikan berkumis yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Mojokerto. Ikan tersebut dikenal dengan nama Rengkik, nama lokal untuk Hemibagrus nemurus, spesies ikan air tawar dari famili Bagridae yang ditetapkan sebagai salah satu fauna identitas atau maskot Kota Mojokerto.
Morfologi Rengkik
Rengkik merupakan ikan dasar (demersal) yang menyukai sungai berarus sedang hingga deras dengan perairan yang bersih dan kaya oksigen. Tubuhnya memanjang dengan kepala pipih serta dilengkapi empat pasang sungut (kumis) yang sangat peka untuk mendeteksi mangsa di perairan keruh maupun pada malam hari. Bagi masyarakat Mojokerto, ikan ini bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi. Dagingnya yang lembut dan gurih menjadikan rengkik sebagai bahan utama berbagai hidangan tradisional, salah satunya Garang Asem Ndas Rengkik, kuliner khas yang cukup dikenal di wilayah tersebut.
Ekologis & Populasi
Sebagai predator dasar perairan tawar, ikan rengkik berperan mengendalikan populasi ikan kecil, udang, serangga air, cacing, dan berbagai invertebrata lainnya. Kehadirannya membantu menjaga keseimbangan rantai makanan di ekosistem sungai. Selain itu, rengkik juga menjadi indikator kesehatan sungai karena cenderung membutuhkan kualitas air yang baik untuk dapat berkembang dengan optimal. Sayangnya, populasi ikan rengkik di alam terus mengalami penurunan. Berkurangnya kualitas air Sungai Brantas akibat pencemaran limbah domestik maupun industri, kerusakan habitat, serta tekanan penangkapan menyebabkan spesies ini semakin sulit ditemukan dibandingkan beberapa dekade lalu. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk mengembangkan program konservasi dan budidaya agar keberadaannya tetap lestari.
Keberadaan ikan rengkik menjadi pengingat bahwa identitas suatu daerah tidak hanya berasal dari sejarah dan budaya, tetapi juga dari kekayaan hayati yang hidup di lingkungan sekitarnya. Melestarikan Sungai Brantas berarti turut menjaga kelangsungan hidup salah satu ikon alami Kota Mojokerto.
Etimologi Lokal & Ilmiah
Nama genus Hemibagrus berasal dari bahasa Yunani, yakni hemi yang berarti "setengah" dan Bagrus, nama genus ikan berkumis yang telah lama dikenal. Penamaan ini diberikan karena genus tersebut memiliki kemiripan morfologi dengan ikan-ikan dalam kelompok Bagrus. Sementara epitet spesifik nemurus merupakan nama ilmiah yang dipertahankan sejak dideskripsikan oleh Achille Valenciennes pada tahun 1840.Adapun nama lokal "rengkik" diyakini berasal dari bahasa Jawa, karena telah lama digunakan oleh masyarakat Mojokerto dan wilayah sekitar Sungai Brantas sebagai sebutan tradisional untuk ikan ini. Namun, hingga kini belum ditemukan sumber linguistik yang menjelaskan secara pasti asal-usul atau makna etimologis kata "rengkik". Oleh karena itu, nama tersebut lebih tepat dipandang sebagai nama vernakular (nama lokal) khas Mojokerto yang diwariskan secara turun-temurun daripada sebagai kata yang telah memiliki etimologi ilmiah yang terdokumentasi.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Family : Bagridae
Genus : Hemibagrus
Species : Hemibagrus nemurus (Valenciennes, 1840)
Notes : Di Mojokerto, ikan ini lebih dikenal sebagai rengkik, sedangkan di daerah lain memiliki nama lokal seperti baung, tageh, atau beong. Memiliki empat pasang sungut yang berfungsi sebagai alat peraba dan penciuman untuk mencari makanan pada malam hari. Bersifat nokturnal sehingga lebih aktif berburu setelah matahari terbenam. Rengkik merupakan salah satu ikan asli Sungai Brantas yang memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi bagi masyarakat Jawa Timur. Pelestarian habitat Sungai Brantas menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan populasi ikan maskot Kota Mojokerto ini.
Penulis: Mas Tahzain
Editor : Adi Mikayasa
Foto by : Inaturalist | kt_ton & Monumen Kota Mojokerto