Hiu vs Buaya Dalam legenda Kota SuraBaya bisa Terjadi di alam liar?

Hiu vs Buaya Dalam legenda Kota SuraBaya bisa Terjadi di alam liar?

Hiu vs Buaya Dalam legenda Kota SuraBaya bisa Terjadi di alam liar?

Reptil
Kamis, 04 Juni 2026
Dsn Mamalia
59 Views

1/JUNI/2026 | REDAKSI PARAMIDSN



 

SURABAYA, Paramidsn.com — Melihat Icon Kota Pahlawan atau Surabaya dengan patung ikan Hiu & Buaya sedang bertempur hebat ,,  cerita Rakyat yang turun temurun tersebut tersirat dalam naskah pertama kali  dituliskan di Kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, yang menyebutnya sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Dimana ada 2 Mahluk Buas bertarung tanpa henti untuk memperebutkan wilayah kekuasaan dalam mencari makan. Ya mahkluk itu adalah Hiu & Buaya.  Secara ekologis, pertemuan antara hiu dan buaya bukanlah hal yang mustahil. Beberapa spesies buaya, seperti buaya muara (Crocodylus porosus), dikenal memiliki toleransi tinggi terhadap kadar garam dan kerap berenang di perairan payau hingga laut lepas. Di sisi lain, beberapa spesies hiu seperti hiu banteng (Carcharhinus leucas) memiliki kemampuan fisiologis untuk berenang dari air asin ke air tawar, bahkan hingga masuk ke sungai-sungai besar.


 

​Skenario Pertarungan di Alam Liar

​Dalam catatan ilmiah dan observasi lapangan di wilayah tropis seperti Australia atau Asia Tenggara, pertemuan antara buaya dan hiu memang sesekali terjadi. Namun, tidak seperti dalam legenda yang bersifat "duel satu lawan satu" karena perebutan wilayah, interaksi di alam liar biasanya lebih bersifat oportunistik.

​Biasanya, pertarungan terjadi ketika salah satu pihak merasa terancam atau ketika mereka memperebutkan sumber makanan yang sama. Buaya muara, dengan kekuatan gigitan yang luar biasa dan kulit yang keras seperti baju zirah, memiliki keunggulan dalam pertarungan jarak dekat di perairan dangkal. Sementara itu, hiu memiliki keunggulan dalam kelincahan, kecepatan berenang, dan sistem sensorik yang memungkinkan mereka menyerang dari sudut yang sulit dijangkau. ​Meskipun jarang terjadi, dokumentasi di alam liar menunjukkan bahwa buaya terkadang memangsa hiu yang lebih kecil, dan hiu berukuran besar seperti hiu banteng juga mampu melukai atau memangsa buaya muda. Jadi, meski tidak sedramatis legenda Sura dan Baya, interaksi kompetitif antara dua penguasa perairan ini adalah fenomena alam yang nyata.


 

 ICON Kota Pahlawan "SURO"

Ya jika kita melihat gambaran patung iconic kota surabaya terlihat hiu yang menjadi maskot adalah Spesies Hiu Banteng daei segi bentuk ukuran moncong hingga gigi. Kemampuan hiu banteng (Carcharhinus leucas) untuk menjelajahi sungai air tawar hingga ribuan kilometer dari laut adalah fenomena fisiologis yang luar biasa di dunia vertebrata. Kemampuan ini dikenal dengan istilah euryhaline, yaitu kemampuan organisme untuk beradaptasi terhadap perubahan salinitas (kadar garam) yang ekstrem. 

1.Sistem Osmoregulasi yang Unik

​Kebanyakan ikan hiu adalah osmokonformer, artinya mereka menjaga konsentrasi garam internal tubuh agar setara dengan air laut. Ketika berada di air laut, hiu menyimpan urea dalam darah dan jaringan mereka untuk menyeimbangkan tekanan osmotik.

​Namun, hiu banteng memiliki sistem osmoregulasi yang sangat fleksibel 

Di Air Laut: Hiunya membuang kelebihan garam melalui kelenjar rektal yang terletak di dekat anus.

Di Air Tawar: Hiunya menghentikan kerja kelenjar rektal dan mulai mengubah fungsi ginjalnya. Mereka secara drastis mengurangi konsentrasi urea dalam darah dan membuang kelebihan air melalui urin dalam jumlah yang sangat banyak (urin encer) untuk mencegah sel-sel tubuh membengkak akibat masuknya air tawar secara terus-menerus melalui kulit dan insang.

 2. Peran Kelenjar Rektal &  Ekskresi

​Kelenjar rektal adalah kunci utama. Pada hiu banteng, kelenjar ini dapat diatur fungsinya berdasarkan lingkungan sekitar. Selain itu, insang hiu banteng memiliki sel khusus yang disebut sel ionosit yang mampu membalikkan fungsinya. ​Di air laut, sel ini bekerja mengeluarkan garam. ​Di air tawar, sel ini justru bekerja menyerap natrium dan klorida dari air sungai yang sangat encer ke dalam tubuh untuk menggantikan kadar garam yang hilang. 

3 Modifikasi Hormonal

Kemampuan ini didukung oleh sistem endokrin yang sangat canggih. Hiubanteng dapat mendeteksi perubahan kadar salinitas dan memicu respons hormonal yang cepat untuk menyesuaikan metabolisme ginjal dan insang mereka. Proses ini memungkinkan mereka tidak hanya sekadar "bertahan hidup" dalam waktu singkat, tetapi menetap di lingkungan air tawar selama berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun (terutama pada individu yang masih muda). ​

4.Evolusi  kemampuan  hiu Banteng

jawabannya adalah ​Perlindungan bagi burayak atau keberlangsungan species mweeka Perairan tawar (seperti muara sungai) memiliki predator yang lebih sedikit dibandingkan samudra luas. Hiu banteng betina sering memasuki perairan estuari atau sungai untuk melahirkan, sehingga anakan mereka lebih aman dari predator laut besar lainnya. ​Akses Makanan mereka di Sungai sering kali kaya akan nutrisi dan mangsa, sehingga memberi hiu banteng akses ke sumber makanan yang tidak terjangkau oleh hiu laut lainnya.​Mekanisme ini menjadikan hiu banteng sebagai salah satu predator paling adaptif di planet ini, sekaligus menjelaskan mengapa sering ada laporan hiu yang terlihat di sungai-sungai besar di berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah tropis yang dekat dengan garis pantai.


 

ICON KOTA PAHLAWAN BOYO

Jika kita lihat dari gambaran Patung icon Surabaya yang buaya atau Boyo dalam sebutan nya. Terlihat memang species tersebut mengarah ke arah Buaya Muara. Kemampuan buaya muara (Crocodylus porosus) untuk bertahan hidup di lingkungan laut lepas adalah kemampuan langka bagi seekor reptil. Sifat euryhaline pada buaya ini tidak hanya sekadar bertahan, tetapi memungkinkan mereka melakukan migrasi antarpulau yang panjang melintasi samudra. ​Berikut adalah mekanisme fisiologis yang memungkinkan buaya muara menaklukkan lingkungan air asin:

​1. Kelenjar Garam Lingual (Kunci Utama)

​Ini adalah mekanisme terpenting. Buaya muara memiliki kelenjar garam (lingual salt glands) yang terletak di bawah lidah.

Fungsi Aktif: Kelenjar ini berfungsi sebagai "pabrik desalinasi" alami. Kelenjar ini secara aktif mengeluarkan kelebihan ion natrium dan klorida dari darah buaya ke lingkungan luar.

Keunggulan: Berbeda dengan ginjal yang membutuhkan konsumsi air tawar dalam jumlah besar untuk membuang garam, kelenjar ini bekerja dengan sangat efisien, memungkinkan buaya untuk mengeluarkan garam tanpa harus kehilangan terlalu banyak air tubuh (hidrasi).

​2. Integritas Kulit yang Tinggi (Barir Fisik)

​Kulit buaya muara bertindak sebagai penghalang (barrier) yang sangat efektif terhadap penetrasi garam dari lingkungan ke dalam tubuh.

Struktur Sisik: Antara sisik-sisik besar (scutes) terdapat area kulit yang lebih lunak. Namun, pada buaya muara, area ini memiliki kepadatan keratin dan lipid yang jauh lebih tinggi dibandingkan spesies buaya air tawar.

Meminimalisir Osmosis: Struktur kulit ini secara signifikan mengurangi difusi air keluar (karena konsentrasi garam di laut jauh lebih tinggi daripada di dalam tubuh buaya) dan mencegah masuknya garam berlebih melalui kulit.

​3. Manajemen Ginjal dan Urin

​Jika buaya muara menelan air laut saat berburu atau meminumnya, sistem ekskresi mereka tetap bekerja:

Ginjal: Ginjal buaya muara mampu memproses filtrasi darah dengan konsentrasi garam yang tinggi.

Produksi Urin: Mereka dapat menghasilkan urin yang lebih pekat daripada banyak reptil lainnya, membantu membuang sisa-sisa ion melalui sistem ekskresi tanpa menguras cadangan cairan tubuh.

​4. Perilaku "Basking" dan Migrasi

​Buaya muara tidak benar-benar hidup "di dalam" air laut seperti ikan. Mereka menggunakan laut sebagai jalan raya (koridor migrasi) untuk berpindah dari satu sistem sungai ke sistem lainnya. ​Efisiensi kegunaan Energi Mereka sering menggunakan arus laut untuk bermigrasi. Penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu berenang ratusan kilometer di laut lepas. Limitasi tinggi Meskipun toleran terhadap air asin, buaya muara tetap membutuhkan air tawar secara berkala. Mereka tidak dapat terus-menerus mengekstraksi air dari air laut tanpa batas, sehingga mereka akan selalu mencari muara atau mata air untuk memulihkan hidrasi tubuh secara optimal.

5. ​Adaptasi  Secara mikroskopis, 

sel-sel pada jaringan lunak dan organ dalam buaya muara memiliki toleransi yang tinggi terhadap stres osmotik. Mereka memiliki protein pengatur ion yang mencegah sel mengalami pengerutan (krenasi) ketika berada di lingkungan dengan kadar garam tinggi. ​Dengan mekanisme ini, buaya muara tidak hanya mampu menyeberangi lautan, tetapi juga menduduki posisi sebagai predator puncak di zona transisi (estuari) hingga ke ekosistem terumbu karang.


 

​Klasifikasi dan Taksonomi ke 2 nya. 

 

Hiu Banteng (Carcharhinus leucas)

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Subfilum: Vertebrata

Kelas: Chondrichthyes

Subkelas: Elasmobranchii

Ordo: Carcharhiniformes

Famili: Carcharhinidae

Genus: Carcharhinus

Spesies: Carcharhinus leucas

 Buaya Muara (Crocodylus porosus)

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Subfilum: Vertebrata

Kelas: Reptilia

Ordo: Crocodilia

Famili: Crocodylidae

Genus: Crocodylus

Spesies: Crocodylus porosus


 

Notes : Ya secara garis besar mereka jarang bertemu di alam liar atau memang bertemu tapi jarang terekam oleh kamera ada yang menarik beberapa orang Luar negeri pernah membuat gambaran yang menarik yakni pertempuran antara Hiu Putih & Buaya Muara menggunakan visualisasi



 

Penulis : Ali Setyaki

Editor : Agung Monche 

Foto by : i.Stock


 

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.