28/APRIL/2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Wabah wereng kembali menjadi momok bagi para petani padi di berbagai wilayah Indonesia. Serangan hama kecil ini kerap datang tiba-tiba, menyebar cepat, dan menyebabkan kerusakan parah pada tanaman hingga gagal panen. Fenomena ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga mengancam ketahanan pangan nasional. Wereng, khususnya jenis Nilaparvata lugens atau wereng batang cokelat, dikenal sebagai salah satu hama paling destruktif pada tanaman padi. Serangannya ditandai dengan gejala “hopperburn”, di mana tanaman menguning, mengering, lalu mati seperti terbakar. Dalam kondisi wabah, satu hamparan sawah bisa habis dalam hitungan hari.
Siklus Cepat dan Adaptasi Tinggi
Salah satu faktor utama sulitnya mengendalikan wereng adalah siklus hidupnya yang sangat cepat. Dalam waktu sekitar 3–4 minggu, wereng sudah dapat berkembang dari telur hingga dewasa dan kembali bereproduksi. Selain itu, wereng memiliki kemampuan beradaptasi tinggi terhadap pestisida, bahkan dapat menjadi resisten terhadap bahan kimia tertentu.
Perubahan pola tanam yang tidak seragam serta penggunaan pupuk nitrogen berlebih juga turut memperparah kondisi. Tanaman padi yang terlalu subur justru menjadi “surga” bagi wereng untuk berkembang biak.
Mengapa Wereng Jarang Dimangsa Burung?
Pertanyaan yang sering muncul di kalangan petani adalah: mengapa burung tidak membantu mengendalikan populasi wereng?
Secara alami, memang ada predator wereng seperti laba-laba, kumbang, dan serangga predator lainnya. Namun burung tidak menjadi predator utama wereng karena beberapa alasan:
Ukuran Terlalu Kecil
Wereng berukuran sangat kecil sehingga kurang menarik secara visual dan energi bagi burung. Burung cenderung memilih mangsa yang lebih besar dan mudah terlihat.
Habitat Tersembunyi
Wereng hidup di bagian bawah batang dan daun padi, sehingga sulit dijangkau oleh burung yang lebih sering berburu di area terbuka.
Perilaku Burung
Banyak burung sawah lebih tertarik pada biji-bijian atau serangga yang lebih aktif bergerak di permukaan, bukan serangga kecil yang diam atau bersembunyi.
Pengaruh Pestisida
Penggunaan pestisida yang berlebihan tidak hanya membunuh wereng, tetapi juga mengurangi populasi predator alami, termasuk serangga yang menjadi pakan burung. Akibatnya, rantai makanan terganggu.
Dampak Besar bagi Petani
Kerugian akibat serangan wereng tidak bisa dianggap sepele. Dalam beberapa kasus, petani mengalami gagal panen total. Biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan hasil yang didapat, bahkan tak jarang petani harus berutang untuk menutupi kerugian. Pemerintah dan para ahli pertanian terus mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), seperti penggunaan varietas tahan wereng, pengaturan pola tanam, serta pengurangan pestisida kimia.
Harapan ke Depan
Menghadapi ancaman wereng, diperlukan kerja sama antara petani, peneliti, dan pemerintah. Pendekatan ekologi yang lebih ramah lingkungan dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk menekan populasi hama tanpa merusak keseimbangan alam.
Jika tidak ditangani dengan tepat, wabah wereng akan terus berulang dan menjadi ancaman laten bagi pertanian Indonesia.
Klasifikasi & Taksonomi Wereng Batang Cokelat
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Hemiptera
Famili: Delphacidae
Genus: Nilaparvata
Spesies: Nilaparvata lugens
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto By : Wiki Commons