12/APRIL/2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Di kepulauan terpencil Selandia Baru, hidup seekor makhluk yang seolah-olah dilupakan oleh waktu. Tuatara (Sphenodon punctatus), satwa yang sering kali dikira sebagai kadal biasa, ternyata merupakan satu-satunya penyintas dari ordo reptil yang berkembang pesat 200 juta tahun lalu.
Melalui catatan OSL (Observasi Satwa Lapangan), Tuatara menjadi subjek penelitian yang memikat karena masa hidupnya yang mampu mencapai satu abad (100 tahun) atau lebih, serta fitur anatomi yang tidak ditemukan pada reptil modern lainnya.
Garis Keturunan yang Unik: Bukan Sekadar Kadal
Secara taksonomi, Tuatara bukan termasuk dalam golongan kadal atau ular (Squamata). Mereka adalah satu-satunya anggota yang tersisa dari ordo Rhynchocephalia. Saat dinosaurus punah 66 juta tahun lalu, leluhur Tuatara berhasil bertahan hidup, menjadikan mereka "fosil hidup" yang paling murni di kelas reptil.
Rahasia Panjang Umur: Hidup dalam "Slow Motion"
Tuatara dikenal karena metabolisme tubuhnya yang sangat lambat. Mereka hidup di suhu yang jauh lebih dingin dibandingkan kebanyakan reptil lainnya.Pertumbuhan Lambat mereka membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 tahun hanya untuk mencapai kematangan seksual. Di penangkaran, seekor Tuatara bernama "Henry" di Museum Southland tercatat menjadi ayah untuk pertama kalinya pada usia 111 tahun, sebuah bukti nyata bahwa masa hidup mereka bisa melampaui satu abad.
Misteri Mata Ketiga (Mata Parietal)
Salah satu fitur yang jarang diketahui publik adalah keberadaan Mata Parietal di atas kepala mereka. Mata ini memiliki lensa, retina, dan ujung saraf, namun tertutup oleh sisik saat dewasa. Meskipun tidak digunakan untuk melihat gambar, mata ini berfungsi untuk mendeteksi siklus cahaya dan membantu mengatur ritme sirkadian serta termoregulasi tubuh.
Adaptasi Suhu Dingin
Berbeda dengan reptil tropis yang membutuhkan panas menyengat, Tuatara tetap aktif pada suhu serendah 5°C. Mereka memiliki jenis hemoglobin yang sangat efisien dalam mengikat oksigen pada suhu rendah, memungkinkan mereka tetap berburu di malam hari yang dingin di kepulauan Selandia Baru.
Taksonomi & Klasifikasi
Berikut adalah klasifikasi ilmiah Tuatara dalam pangkalan data PARAMIDSN:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Reptilia
Order: Rhynchocephalia
Family: Sphenodontidae
Genus: Sphenodon Species: Sphenodon punctatus
Status Konservasi (IUCN): LC (Least Concern) – Namun sangat bergantung pada upaya konservasi ketat karena mereka hanya ditemukan di pulau-pulau bebas predator di Selandia Baru.
Notes OSL (Observasi Satwa Lapangan): Tuatara memiliki struktur gigi yang unik, yaitu dua baris gigi di rahang atas dan satu baris di rahang bawah yang saling mengunci (interlock). Mereka tidak memiliki telinga luar, namun mampu mendengar dengan baik. Keberadaan tikus invasif menjadi ancaman terbesar bagi telur-telur Tuatara yang membutuhkan waktu inkubasi hingga 15 bulan untuk menetas.
Penulis: Ali Maruf
Editor: Suaizam
Foto by : iNaturalist | digitaltrails