12/ AGUSTUS/2026 | REDAKSI PARAMIDSN
Surabaya, PARAMIDSN — Di balik tanah lembap, serasah, dan lapisan tanah yang jarang diperhatikan manusia, terdapat kelompok amfibi yang bentuk tubuhnya begitu berbeda dari katak maupun salamander. Salah satunya adalah Cecilia Jawa (Ichthyophis javanicus), amfibi tanpa kaki yang lebih banyak menghabiskan hidupnya di bawah permukaan tanah.
Hewan ini sering luput dari perhatian karena kehidupannya yang tersembunyi. Bahkan, keberadaan Ichthyophis javanicus sendiri menyimpan sebuah persoalan ilmiah: spesies ini dikenal dari satu spesimen tipe dengan lokasi pengambilan yang hanya disebut "Java", sehingga informasi mengenai habitat, populasi, persebaran, dan ekologinya masih sangat terbatas. American Museum of Natural History bahkan mencatat bahwa status takson ini pernah dipandang sebagai nomen dubium oleh Iskandar pada 1998 dan terdapat kemungkinan spesimen tersebut bukan berasal dari Jawa.
Dengan kata lain, Cecilia Jawa bukan sekadar amfibi yang jarang terlihat. Ia juga merupakan salah satu contoh betapa masih banyak bagian dari keanekaragaman hayati Jawa yang belum sepenuhnya dipahami.
Bukan Ular, Bukan Cacing
Sekilas, tubuh Cecilia Jawa dapat membuat seseorang mengira hewan ini sebagai cacing besar atau ular kecil. Namun, secara biologis ia adalah amfibi dari ordo Gymnophiona, kelompok yang memang berevolusi kehilangan anggota gerak. Tubuhnya memanjang dan silindris, sementara kepala dibuat untuk membantu kehidupan di lingkungan tanah. Seperti cecilia lain, adaptasi tersebut memungkinkan hewan ini bergerak melalui celah-celah tanah dan lingkungan bawah permukaan. Nama "caecilian" sendiri merujuk pada kelompok amfibi tanpa kaki yang sebagian besar hidup secara fosorial atau semi-fosorial. Karena jarang muncul ke permukaan, keberadaan mereka jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan katak yang dapat ditemukan melalui suara atau aktivitas di sekitar perairan.
Hanya Dikenal dari Spesimen yang Sangat Terbatas
Ichthyophis javanicus dideskripsikan oleh zoolog Edward Harrison Taylor pada 1960. Spesimen holotipenya tercatat sebagai BMNH 1880.5.7.3, sedangkan lokasi tipe hanya dicatat sebagai "Java", Indonesia.
Kondisi tersebut membuat penelitian terhadap spesies ini menjadi sangat sulit. Tidak adanya rangkaian penemuan lapangan yang memadai menyebabkan para peneliti tidak memiliki gambaran kuat mengenai ukuran populasinya ataupun apakah spesies tersebut benar-benar masih bertahan di alam. Persoalan ini semakin menarik karena penelitian filogenetik terhadap cecilia Asia Tenggara menunjukkan bahwa kawasan Sundaland menyimpan keragaman garis keturunan yang tinggi, termasuk kemungkinan adanya spesies-spesies yang belum dideskripsikan. Artinya, dunia cecilia di Asia Tenggara kemungkinan masih jauh dari selesai dipelajari.
Hidup di Dunia yang Tidak Terlihat
Cecilia dari genus Ichthyophis pada umumnya berasosiasi dengan lingkungan tanah yang lembap. Kehidupan bawah tanah memberikan perlindungan dari kekeringan sekaligus menyediakan ruang untuk mencari mangsa berupa berbagai organisme kecil.
Catatan mengenai spesies Ichthyophis lain menunjukkan bahwa cecilia dapat menempati berbagai mikrohabitat darat, mulai dari hutan hingga lingkungan yang telah mengalami perubahan, sementara siklus reproduksinya berkaitan erat dengan musim hujan. Namun, informasi ekologis tersebut tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai fakta spesifik untuk Ichthyophis javanicus. Data khusus mengenai Cecilia Jawa masih terlalu sedikit.
Inilah salah satu alasan mengapa spesies ini menarik untuk dikaji kembali.
Mengapa Keberadaannya Penting?
Meskipun data ekologis Ichthyophis javanicus sangat terbatas, keberadaan cecilia secara umum memiliki peranan dalam ekosistem tanah. Sebagai pemakan invertebrata kecil, cecilia dapat menjadi bagian dari jaringan makanan bawah tanah. Aktivitasnya di dalam tanah juga berpotensi berinteraksi dengan struktur mikrohabitat tanah, sementara keberadaannya sendiri dapat menjadi bagian dari indikator biologis lingkungan yang masih mendukung kehidupan organisme yang sensitif terhadap perubahan kondisi habitat. Cecilia juga menjadi penghubung penting dalam ekosistem: mereka merupakan predator organisme kecil sekaligus mangsa bagi predator lain. Dengan demikian, hilangnya populasi cecilia yang tidak pernah tercatat dengan baik dapat menjadi kehilangan yang sulit terlihat dalam ekosistem. Namun sekali lagi, peran ekologis tersebut merupakan gambaran berdasarkan biologi kelompok cecilia dan kerabat Ichthyophis, bukan hasil penelitian populasi I. javanicus secara langsung.
Etimologi
Ichthyophis berasal dari bahasa Yunani, yaitu ichthys yang berarti "ikan" dan ophis yang berarti "ular". Nama tersebut menggambarkan bentuk tubuh cecilia yang menyerupai kombinasi antara ikan dan ular.
Sementara itu, javanicus berarti "berasal dari Jawa", merujuk pada lokasi yang dikaitkan dengan spesimen tipe.
Secara sederhana, Ichthyophis javanicus dapat dimaknai sebagai "Ichthyophis dari Jawa".
Nilai Ekologis
Nilai ekologis Cecilia Jawa terutama terletak pada posisinya sebagai bagian dari komunitas fauna tanah.
1. Predator invertebrata tanah
Cecilia dari kelompok Ichthyophis diketahui memanfaatkan berbagai invertebrata kecil sebagai sumber makanan. Dengan demikian, mereka ikut menjadi bagian dari pengendalian alami komunitas organisme tanah.
2. Bagian dari rantai makanan
Sebagai predator sekaligus organisme yang berpotensi dimangsa hewan lain, cecilia menempati posisi tertentu dalam jaringan makanan ekosistem bawah tanah.
3. Penghuni ekosistem yang sulit dipantau
Keberadaan cecilia menunjukkan bahwa biodiversitas tidak hanya berada di atas permukaan tanah. Lapisan tanah dan serasah juga memiliki komunitas fauna yang kompleks.
4. Nilai ilmiah tinggi
Jika populasi I. javanicus masih ditemukan, penelitian modern—terutama morfologi dan analisis DNA—dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai identitas, persebaran, serta hubungan kekerabatannya dengan cecilia lain di Asia Tenggara.
Klasifikasi dan Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Order : Gymnophiona
Family : Ichthyophiidae
Genus : Ichthyophis
Species : Ichthyophis javanicus Taylor, 1960
Klasifikasi tersebut mengikuti Amphibian Species of the World dari American Museum of Natural History.
Notes : Cecilia Jawa memperlihatkan sisi lain keanekaragaman hayati Indonesia. Di saat katak dan kadal mudah menjadi perhatian karena dapat ditemukan di permukaan, hewan seperti Ichthyophis javanicus justru menjalani kehidupannya jauh dari pandangan manusia. Lebih menarik lagi, status keberadaannya sendiri masih menyisakan tanda tanya. Basis data taksonomi modern mengakui nama Ichthyophis javanicus, tetapi catatan tentang spesimen tipe dan ketidakjelasan asal geografis membuat takson ini membutuhkan penelitian lebih lanjut. Mungkin Cecilia Jawa masih bersembunyi di suatu tempat di bawah tanah Jawa. Atau mungkin kisahnya memang hanya tersisa dari sebuah spesimen tua di museum. Satu hal yang jelas: hewan yang jarang terlihat bukan berarti tidak penting. Kadang, justru organisme yang paling sulit ditemukan menyimpan pertanyaan terbesar tentang keanekaragaman hayati kita.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Agung Monche
Foto by : INaturalist| opetexplorer