6/Oktober/2026| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya, Paramidsn.com — Di antara burung-burung hutan Pulau Jawa, Cissa thalassina merupakan salah satu spesies yang memiliki penampilan paling mencolok. Burung yang dikenal sebagai Javan green magpie atau Tangkaruli hijau Jawa ini memiliki bulu berwarna hijau zamrud intens yang membuatnya menjadi salah satu burung kicau paling diminati dalam perdagangan burung. Namun, warna hijau tersebut bukan sekadar karakter visual yang berdiri sendiri. Warna bulunya berkaitan dengan kombinasi pigmen kuning dan biru serta kondisi nutrisi yang diperoleh burung. Pada kondisi penangkaran dengan pola pakan yang tidak sesuai, warna hijau dapat memudar setelah pergantian bulu dan berubah menjadi warna kebiruan, seperti turquoise pucat hingga biru-keabu-abuan.
Ironisnya, karakter warna yang membuat burung ini begitu diburu justru dapat hilang ketika burung dipelihara dalam kondisi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Spesies Endemik Pulau Jawa
Cissa thalassina merupakan burung hutan yang secara alami terbatas di Pulau Jawa, Indonesia. Habitat alaminya terutama berkaitan dengan kawasan hutan di pegunungan vulkanik dan hutan perbukitan.
Sebagai spesies endemik, keberadaan populasi liar C. thalassina sangat bergantung pada keberlangsungan habitat hutan Jawa. Fragmentasi hutan, pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan, serta penangkapan dari alam memberikan tekanan secara bersamaan terhadap populasinya. Burung ini juga dikenal memiliki perilaku yang relatif sulit diamati pada habitat yang telah terdegradasi. Kondisi tersebut membuat pendataan populasi liar menjadi sangat sulit.
Tekanan Perdagangan Burung
Tangkaruli hijau Jawa termasuk salah satu burung yang sangat diminati dalam perdagangan burung kicau ilegal di Pulau Jawa. Tekanan penangkapan yang berlangsung terus-menerus menjadi salah satu ancaman utama bagi keberadaan populasi liarnya. Permasalahan tersebut menjadi semakin serius karena penangkapan terjadi bersamaan dengan berkurangnya habitat. Ketika hutan semakin terfragmentasi, populasi yang tersisa memiliki ruang hidup yang lebih kecil dan semakin sulit mempertahankan populasi yang sehat. Estimasi populasi liar juga sangat sulit dilakukan. Sejumlah perkiraan menunjukkan bahwa jumlah individu yang tersisa di alam dapat berada pada kisaran ratusan individu atau bahkan lebih sedikit, meskipun angka pasti masih menghadapi ketidakpastian karena sifatnya yang sulit ditemukan.
Warna Hijau yang Bergantung pada Nutrisi
Salah satu karakter paling menarik dari Cissa thalassina adalah warna hijau zamrud pada bulunya. Warna tersebut merupakan hasil interaksi warna dasar pigmen kuning dan struktur atau komponen kebiruan pada bulu. Ketersediaan nutrisi tertentu, termasuk karotenoid dari makanan, berperan dalam mempertahankan kondisi warna bulu.
Dalam pemeliharaan yang tidak menyediakan kebutuhan pakan yang sesuai, warna hijau dapat mengalami perubahan setelah burung menjalani pergantian bulu. Warna bulu dapat menjadi lebih kebiruan atau biru-keabu-abuan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa warna mencolok pada satwa tidak selalu merupakan karakter yang sepenuhnya tetap. Lingkungan, metabolisme, dan kualitas nutrisi dapat memengaruhi bagaimana karakter tersebut diekspresikan.
Konservasi di Tengah Krisis Populasi
Status konservasi Cissa thalassina telah mencapai tingkat Critically Endangered (CR) menurut IUCN. Upaya konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan burung yang tersisa, tetapi juga pada pengurangan perdagangan ilegal dan perlindungan habitat. Organisasi konservasi seperti Operation: Magpie melakukan pendekatan melalui edukasi publik, pemantauan pasar, serta kerja sama dengan otoritas kepabeanan untuk membantu mencegah perdagangan satwa yang dilindungi.
Sejumlah individu hasil penangkaran juga dipelihara oleh institusi mitra. Dalam jangka panjang, individu tersebut berpotensi menjadi bagian dari program konservasi atau reintroduksi apabila habitat liar yang memadai berhasil diamankan.
Reintroduksi, bagaimanapun, tidak dapat menjadi solusi tunggal. Tanpa pemulihan habitat dan pengurangan tekanan penangkapan, pelepasan kembali individu ke alam memiliki risiko kegagalan yang tinggi.
Etimologi,Nilai Ekologis dan Konservasi
Nama genus Cissa berasal dari istilah Yunani yang berkaitan dengan burung murai atau burung berwarna mencolok. Epitet spesifik thalassina berasal dari bahasa Yunani thalassinos, yang berarti berwarna hijau laut atau hijau kebiruan. Nama tersebut sesuai dengan karakter warna tubuh spesies ini yang didominasi warna hijau mencolok. Nama umum Javan green magpie merujuk langsung pada persebarannya yang terbatas di Pulau Jawa serta penampilannya yang menyerupai kelompok magpie atau burung murai dari famili Corvidae.Sebagai burung hutan endemik Jawa, Cissa thalassina memiliki nilai ekologis penting sebagai bagian dari komunitas burung hutan pegunungan dan perbukitan. Keberadaannya juga dapat mencerminkan kondisi habitat hutan yang masih menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, dan ruang reproduksi bagi burung arboreal. Ancaman terhadap spesies ini juga menggambarkan hubungan erat antara perdagangan satwa liar dan hilangnya habitat. Perlindungan C. thalassina tidak cukup dilakukan hanya dengan menghentikan penangkapan; hutan tempat spesies ini hidup juga harus dipertahankan dan dipulihkan. Burung ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana daya tarik estetika satwa dapat berubah menjadi ancaman apabila permintaan manusia mendorong pengambilan individu dari alam secara berlebihan.
Klasifikasi dan Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Passeriformes
Family: Corvidae
Genus: Cissa
Species: Cissa thalassina (Temminck, 1826)
Notes : Cissa thalassina merupakan burung endemik Pulau Jawa.
Warna hijaunya berkaitan dengan kombinasi warna kuning dan biru pada bulu.
Kondisi nutrisi dapat memengaruhi intensitas warna bulu setelah pergantian bulu.
Individu dalam penangkaran dengan pakan yang tidak sesuai dapat kehilangan warna hijau khasnya dan menjadi lebih kebiruan.
Spesies ini berstatus Critically Endangered (CR).Penangkapan dari alam dan kehilangan habitat merupakan dua ancaman utama terhadap kelangsungan populasinya.
Populasi liarnya diperkirakan hanya tersisa dalam jumlah sangat kecil, tetapi jumlah pasti sulit ditentukan karena sifatnya yang sulit diamati.
Kesimpulan
Cissa thalassina memperlihatkan sebuah ironi dalam konservasi satwa liar: burung ini ditangkap karena warna hijau zamrudnya, tetapi ketika dipelihara dengan kondisi nutrisi yang tidak tepat, warna yang menjadi daya tarik utamanya justru dapat memudar.
Karena itu, melindungi Tangkaruli hijau Jawa bukan hanya tentang mempertahankan seekor burung yang indah. Perlindungan tersebut berarti menjaga hutan Jawa, menghentikan pengambilan dari alam, mengurangi permintaan perdagangan ilegal, serta memastikan bahwa warna hijau zamrud itu tetap menjadi bagian dari hutan Jawa—bukan sekadar kenangan dari kandang.
Penulis: Ali Setyaki
Editor: Agung Monche
Photo by : Naturalis Biodiversity Center